Di masa lalu, wilayah Desa Bogem diduga menjadi pusat kerajaan Hindu Kediri. Pantas jika banyak temuan barang purbakala. Tak ingin sejarah desa hilang hingga menjadi rebutan, pemerintah desa pun menampung temuan itu dalam museum sederhana.
Ramona Tiara Valentin
Museum itu terbilang sangat sederhana. Jangan membayangkan seperti museum kebanyakan yang sudah teratur dan memiliki papan nama. Berada di ruang belakang aula desa, seluruh peninggalan tersebar di sudut ruangan yang berukuran 4 x 3 meter itu.
Sebuah baliho besar dipasang di dinding ruangan. Tertulis jelas “Museum Desa Bogem”. Kisah sejarah tentang peninggalan Desa Bogem pun mengalir di baliho tersebut. Siapapun bisa membaca dengan mudah.
Kepala Desa Bogem Muhammad Samsudin menjelaskan bila museum barang temuan Desa Bogem ini sudah ada sejak 1980 lalu. “Pertamanya inisiatif Mbah Wariman, kades Bogem saat itu,” bebernya saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri. Adanya museum ini, diakui Samsudin sebagai wujud dari pelestarian budaya dan sejarah local. “Ini kan barang kuno, perlu dijaga, dirawat dan dilestarikan. Ini juga yang nantinya bisa ngungkap jejak sejarah di sini,” paparnya.
Sebenarnya, museum itu awalnya berada di luar ruangan, yang kini sudah menjadi lahan parkir. Tujuannya biar masyarakat lebih mudah melihat. Namun, selalu ada arca yang tiba-tiba hilang. Total awal penemuan sekitar 40 temuan, sekarang yang tersisa tinggal separonya. “Akhirnya kami putuskan untuk memindah barang-barang itu ke dalam ruangan,” tuturnya. Saat itu sekitar tahun 1990-an. Kini, seluruh barang temuan berada di ruangan terkunci.
Hilangnya sebagian barang temuan itu tak lain karena nilai tinggi benda purbakala tersebut. “Karena barang temuan bisa dijual mahal, jadi arca ini rawan hilang. Tidak jarang juga oknum pemdes,” tuturnya geram. Dahulu, kasadaran melestarikan benda temuan tidak seperti saat ini. “Masalahnya dulu itu berlaku hukum rimba. Jadi siapa yang berkuasa dia bebas ngapain saja, termasuk menjual barang temuan,” imbuhnya.
Kini, yang bisa dilihat di museum barang temuan terdiri dari arca, lingga, yoni, batu altar, lumpang, lesung batu, umpak prasasti, gentong, hingga teko tembaga. Samsudin bertutur jika temuan sejak 38 tahun lalu ini sebagian besar ditemukan di tempat tinggal warga hingga area persawahan setempat.
“Paling banyak saat dilakukan penggalian besar-besaran tahun 1985,” terangnya. Saat itu, cerita ayah dua anak ini, mulai dari arca sampai emas sisa kerajaan banyak ditemukan. Bahkan, salah satu temuan di Desa Bogem kini berada di Museum Batavia Jakarta. Yaitu arca kuda berkepala dua.
Saat ini, pemerintah desa ingin terus mengembangkan museum tersebut menjadi lebih menarik. Salah satunya ingin agar koleksi temuan bisa bertambah. Hanya saja, pihaknya masih melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan komunitas pelestari budaya. “Harapannya bisa jadi tambahan referensi sejarah Desa Bogem,” pungkasnya.
Editor : adi nugroho