Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Menengok Bangunan Cagar Budaya di Kota Kediri (2)

adi nugroho • Senin, 25 Juni 2018 | 23:51 WIB
menengok-bangunan-cagar-budaya-di-kota-kediri-2
menengok-bangunan-cagar-budaya-di-kota-kediri-2


Masa kolonial di Kota Kediri meninggalkan banyak saksi bisu. Terlihat dari infrastruktur, kantor-kantor pemerintahan hingga kediaman orang penting kala itu. Hingga kini, keindahan sisa peninggalan itupun masih bisa dinikmati.


 


M. DIDIN SAPUTRO


 


Ketika melintas di Jalan Brawijaya Kota Kediri, tak sedikit orang yang melirik satu bangunan tua di selatan jalan kawasan perbankan tersebut. Siapa sangka bangunan yang saat ini seperti terlihat mangkrak itu merupakan bekas dari rumah seorang letnan keturunan Tionghoa kala itu.


Akulturasi tiga kebudayaan pun melekat pada bangunan yang telah berdiri lebih dari satu abad ini. Dua pilar utama yang menyangga teras, kental akan ciri khas bangunan Eropa. Pilar tersebut berbentuk bulat atau silindris. Agak mengecil pada bagian atasnya. Sementara pada bagian bawah dan atas pilar terdapat hiasan berbentuk persegi yang berfungsi sebagai penyangga.


Sementara ciri khas Jawa terlihat dari payungan pada setiap tepi atap utama. Itu dapat dilihat pada semua sisi bangunan. Baik bagian depan maupun belakang bangunan utama. Untuk nuansa Tiongkok, bisa dijumpai pada hiasan di pintu serta jendela kaca yang bermotif guci dan bunga warna-warni.


Memang, rumah tua tersebut terbagi atas dua bangunan. Bangunan utama yang terletak di bagian depan serta ada bangunan pendukung di belakang rumah membentuk huruf U. Di antara bangunan depan dan belakang tadi terdapat halaman yang dulunya adalah sebuah taman.


Jumadi, yang saat ini menjaga rumah yang masuk wilayah Kelurahan Pakelan itu pun menceritakan fungsi-fungsi ruangan yang ada di dalam rumah. Total ada sembilan kamar tidur. Baik pada bangunan utama maupun bangunan pendukung. “Bangunan utama berfungsi sebagai ruang tamu, balai, dan ruang keluarga,” ujar pria yang karib disapa Mbah Jum itu.


Kakek 69 tahun tersebut menjelaskan bahwa di bangunan pendukung ada beberapa ruang penting. Seperti ruang pertemuan dan juga ruang makan keluarga yang terletak di bagian kiri. “Di ruang makan itu dahulu ada lukisan. Itu yang menjadi favorit setiap penghuni dari turun temurun,” ucapnya.


Tak hanya itu, ketika masuk di ruang tamu bangunan utama, ada dua foto yang menggambarkan keluarga anak bangsawan di masa lampau.


“Foto itu sebagai kenang-kenangan. Jadi tidak boleh ada yang memindahkanya,” sahut Jumadi.


Mbah Jum juga bercerita bahwa dahulu ada cermin yang hendak dibawa ke Surabaya. Namun pada saat dinaikkan ke mobil, lupa tidak diberi tali sebagai pengaman. “Ukuranya satu millimeter. Saat perjalanan dari Kediri ke Surabaya kacanya tidak ditali. Namun dari sana keadaanya masih utuh dan tidak pecah sama sekali,” imbuh pria yang berasal dari Desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri itu.


Sementara, Novi Bahrul Munib, selaku Ketua Komunitas Pelestari Sejarah Budaya Kadiri melalui tulisanya menyampaikan Bekas rumah Pejabat Leutenant der Chineze ini mewakili masa gaya bangunan Tiongkok Indies berkembang di Kota Kediri pada masa Hindia Belanda. “Selain unik, bekas rumah Pejabat Leutenant der Chineze ini telah berusia lebih dari 100 tahun. Sehingga dilihat dari usianya masuk dalam kriteria Cagar Budaya,” ujar Novi.


Novi menambahkan dari hasil pemantauan, bangunan ini merupakan bukti kebudayaan masyarakat Tiongkok di Kediri. Terlihat dari akulturasi arsitektur antara Tiongkok, Jawa, dan Eropa. Oleh karenanya, rumah ini mengandung nilai-nilai dalam pengetahuan arsitektur, seni, antropologi, sejarah, dan arkeologi. Sekaligus merupakan bukti budaya yang berkembang pada masyarakat yang mendukung akulturasi budaya di masa pemerintahan Hindia Belanda. 


 

Editor : adi nugroho
#kota kediri