Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Menelisik Sejarah Islam di Sepanjang Sungai Brantas (20)

adi nugroho • Jumat, 8 Juni 2018 | 22:18 WIB
menelisik-sejarah-islam-di-sepanjang-sungai-brantas-20
menelisik-sejarah-islam-di-sepanjang-sungai-brantas-20


Pondok Pesantren (Ponpes) Tankila di Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon jadi pionir pusat pengembangan Islam di tepi Sungai Brantas. Setelahnya, banyak ponpes-ponpes baru yang berdiri. Salah satunya, Ponpes Hidayatul Mubtadiin di Desa Sanggrahan, Prambon.


 


Adalah Kiai Abdul Muid pendiri Ponpes Hidayatul Mubtadiin di Desa Sanggrahan, Kecamatan Prambon. Sebelum menetap di Sanggrahan, Kiai Muid sempat tinggal di Ponpes Tankila, Tanjungtani. Sebab, sang kiai adalah putra dari Kiai Abdul Karim, pendiri Ponpes Tankila.


Setelah mentas dari Ponpes Termas Pacitan dan Langitan Tuban, Kiai Muid pulang kampung ke Grompol, Tanjungtani. Karena dianggap punya ilmu yang mumpuni, terutama soal kitab kuning, Kiai Abdul Karim membangunkan sebuah masjid di Desa Sanggrahan pada 1925. “Kiai Muid dibangunkan masjid oleh ayahnya,” kata Kiai Bisri Hisyam, pengasuh Ponpes Hidayatul Mubdtadiin.


Pendirian masjid Sanggrahan bukan tanpa tujuan. Kiai Abdul Karim ingin anaknya mengajar ngaji masyarakat setempat. Sehingga, ilmu yang didapatkan dari Termas dan Langitan bisa bermanfaat bagi warga.


Karenanya, di awal merintis, Kiai Muid tidak langsung mendirikan ponpes. Dia lebih banyak menjadi guru ngaji. Terutama kitab kuning. Meski belum resmi berdiri, metode yang diajarkan kiai asal Tanjungtani itu menyerupai cara-cara ponpes.


Tidak membutuhkan waktu lama, warga setempat langsung tertarik menjadi murid Kiai Muid. Mereka datang dari sejumlah desa di sekitar Sanggrahan. Di antaranya, Tanjungtani, Tegaron, dan Gondanglegi. Biasanya, Kiai Muid mulai mengajar pada sore sampai malam hari.


Para murid tidak perlu risau ketika Kiai Muid mengajar ngaji sampai larut malam. Pasalnya, selain membangun masjid, Kiai Abdul Karim juga sudah menyediakan asrama di samping utara masjid. Sampai sekarang, bangunan itu masih bediri kokoh di kompleks pesantren yang familiar dengan nama Ponpes Sanggrahan itu. “Hanya masjid yang direnovasi sedikit. Kalau asrama tetap seperti dulu,” ungkap pria yang juga cucu Kiai Muid ini.


Kehadiran Kiai Muid di Sanggrahan membawa dampak positif bagi masyarakat. Mereka semakin rajin datang mengaji di masjid. Selain itu, masyarakat sekitar, terutama Sanggrahan Timur tidak perlu jauh-jauh lagi saat ingin menunaikan salat jamaah. “Sering dipakai salat jamaah,” kata Ketua Tanfizdiyah PCNU Kabupaten Nganjuk ini.


Karenanya, masyarakat di sekitar Sanggrahan semakin religius. Keberadaan masjid menjadikan warga antusias untuk menuntut ilmu. Dari sanalah, cikal-bakal pendirian Ponpes Hidayatul Mubtadiin. (bersambung)

Editor : adi nugroho
#islam #sungai brantas #sejarah