Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Menelisik Sejarah Islam di Sepanjang Sungai Brantas (18)

adi nugroho • Jumat, 8 Juni 2018 | 14:00 WIB
menelisik-sejarah-islam-di-sepanjang-sungai-brantas-18
menelisik-sejarah-islam-di-sepanjang-sungai-brantas-18


Pascapemberontakan PKI 1965 lalu, keberadaan Ponpes Fathul Mubtadi’in semakin diakui masyarakat. Jika di awal berdiri santrinya mayoritas bapak-bapak setempat, belakangan meluas ke sejumlah desa lain di Kecamatan Prambon.


 


Perkembangan pesantren yang dirintis oleh Kiai Syarif Abdul Karim tak lepas dari kepandaiannya melihat situasi dan kondisi masyarakat di sekitar ponpes. Selama menyebarkan agama Islam, Kiai Syarif memahami sosiologi warga di Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon. Mulai dari kesibukan keseharian hingga karakter masyarakatnya. 


Penerus Ponpes Fathul Mubtadi’in Kiai M. Ali Zainal Abidin mengatakan, mayoritas masyarakat di Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon bekerja sebagai petani. Hanya sedikit warga yang menjadi pedagang atau berjualan. “Petani itu jam istirahatnya hanya malam,” terang pria yang biasa disapa Gus Kanang ini.


Melihat hal itu, Kiai Syarif memilih waktu belajar saat jam istirahat warga. Kiai Syarif mulai mengajar selepas Maghrib. Waktu yang dibutuhkan untuk belajar mengaji juga tidak lama. Yaitu hingga pukul 20.00 atau pukul 20.30.


Setelahnya warga bisa langsung beristirahat kembali. Rupanya, cara yang dipilih Kiai Syarif bisa diterima oleh masyarakat. Semakin lama jumlah santrinya bertambah banyak. Warga tertarik untuk belajar agama Islam di sana.


Saat itu, mayoritas santri yang belajar di sana berasal dari Dusun Grompol, Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon. “Dulu orang mengaji untuk mengajari istri di rumah,” lanjut Gus Kanang.


Karena ketekunan Kiai Syarif, mereka yang datang untuk mengaji tidak hanya dari Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon. Melainkan meluas ke sejumlah desa lain di Kecamatan Ngronggot dan beberapa kecamatan lainnya.


Dengan semakin banyaknya santri yang belajar mengaji di pesantren, Kiai Syarif pun lantas fokus untuk mengembangkan metode pembelajaran. Termasuk, ilmu agama Islam yang disampaikan kepada para santrinya.


Sebelum fokus mengembangkan pendidikan, menurut Gus Kanang Kiai Syarif juga pernah mencoba pendekatan lain untuk mengajarkan Islam. Salah satunya lewat bidang ekonomi. Rupanya, dari beberapa cara yang pernah ditempuh, salah satu yang paling efektif adalah lewat metode pendidikan. “Sampai sekarang santri di pondok ada ratusan orang,” terang Gus Kanang. (bersambung)


Editor : adi nugroho
#prambon #islam #sungai brantas #santri #sejarah #sungai #nganjuk