Di mata para santri, Kiai Imam Mustajab dikenal sangat disiplin. Pun dalam urusan kecil. Saking detailnya, kiai asal Bojonegoro itu sampai memiliki banyak pisau di pondok pesantren (ponpes). Aturannya, satu pisau digunakan untuk satu keperluan saja.
Menurut Pengasuh Ponpes Gedongsari Kiai Ahmad Muntaha, Kiai Imam Mustajab dikenal sebagai orang yang disiplin dan rapi. Hal itu terlihat dari desain kamarnya. Sampai sekarang, kamar itu tidak dirombak sama sekali. “Kondisinya masih tetap sama seperti dulu,” kata Muntaha kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.
Di kamar seluas 5x3 meter itu, Kiai Muntaha mendesain sendiri biliknya yang terbuat dari kayu dan bambu. Bahkan, agar semakin cantik, kiai yang hobi memancing itu juga mengukir setiap potongan kayu di bilik.
Hasil kreasinya itu masih bisa dilihat hingga sekarang. Di dalam kamar terdapat sebuah dipan lengkap dengan kasur yang kondisinya masih bagus. Hanya sebagian kayu sudah mulai keropos.
Di sana, Kiai Mustajab juga menyimpan tempat peci yang biasa dipakai sehari. Sampai saat itu barangnya masih utuh. Bahkan, bentuk kamar peninggalan Kiai Mustajab masih sama seperti dulu.
Menurut Muntaha, Kiai Mustajab memang pernah berpesan kalau kamarnya jangan sampai dibongkar atau direnovasi. “Tidak ada perubahan sama sekali bentuk kamarnya,” kata Muntaha menunjukkan kamar sang kakek.
Suatu ketika, Kiai Ahmad Dhofir Amin, ayah Kiai Muntaha yang tak lain menantu Kiai Mustajab, melepas pintu kamar di sisi timur. Setelah itu, selama tiga hari berturut-turut Kiai Dhofir tidak mampu berdiri. “Lalu baru ingat amanah Kiai Mustajab. Akhirnya dipasang lagi pintunya. Makanya tidak yang berani membongkar,” tutur pria berusia 56 tahun itu.
Selain pesan dari Kiai Mustajab, kamar itu sekaligus sebagai pengingat para santri. Beberapa santri yang datang ke Ponpes Gedongsari langsung teringat sang kiai setelah melihat kamar bercat hijau itu. Sehingga, sering kali jadi tempat nostalgia.
Selain desain kamar, Kiai Muntaha juga detail soal pisau yang ada di ponpes. Kata Muntaha, Kiai Mustajab mengoleksi banyak pisau di ponpes. Sebab, satu pisau harus digunakan untuk satu keperluan saja.
Misalnya, pisau dapur harus digunakan untuk keperluan memasak. Sementara pisau untuk memotong kayu juga harus berbeda. “Banyak sekali pisaunya dulu. Masing-masing punya kegunaan,” terangnya.
Kiai Muntaha mengatakan, sang kiai juga disiplin soal kebersihan kamar mandi. Suatu ketika, Kiai Muntaha mengajak sang santri sowan ke rumah kerabatnya. Setelah masuk ke kamar mandi tuan rumah, tiba-tiba Kiai Muntaha mengajak pulang santrinya.
Ternyata, kamar mandi rumah yang dikunjungi tidak ada airnya. “Kata kiai, itu berarti kamar mandi jarang dibersihkan. Orangnya (tuan rumah) terlalu sibuk sampai lupa membersihkan kamar mandi,” kisah Muntaha. (bersambung)
Editor : adi nugroho