Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Menelisik Sejarah Islam di Sepanjang Sungai Brantas (14)

adi nugroho • Rabu, 6 Juni 2018 | 14:00 WIB
menelisik-sejarah-islam-di-sepanjang-sungai-brantas-14
menelisik-sejarah-islam-di-sepanjang-sungai-brantas-14


Selain ahli agama, Kiai Imam Mustajab juga dikenal ulung mencari ikan di Sungai Brantas. Kiai asal Bojonegoro itu rutin memancingdi sungai terpanjang di Jatim  bersama para santrinya setiap malam.


 


Kehebatan Kiai Imam Mustajab saat mencari ikan di Sungai Brantas sudah dikenal luas masyarakat. Kemampuan itu terasah sejak menimba ilmu di Pondok Pesantren (Ponpes) Langitan, Tuban. Makanya, begitu bermukim di Prambon, Kiai Mustajab selalu menyalurkan hobinya tersebut.


Apalagi, jarak Ponpes Gedongsari di Desa Tegaron dengan Sungai Brantas relatif dekat. Yaitu, hanya sekitar 500 meter. Karenanya, di waktu senggang menantu Kiai Soleh Gondanglegi itu sering pergi ke sungai terbesar di Jawa Timur itu. “Hobinya memancing,” kata Kiai Ahmad Muntaha, Pengasuh Ponpes Gedongsari.


Muntaha mengatakan, setiap malam Kiai Mustajab selalu mengajak beberapa santrinya memancing ke Sungai Brantas. Biasanya, mereka berangkat selepas salat Isya. Dengan perbekalan apa adanya, Kiai Mustajab bisa berlama-lama di sungai. “Bisa sampai larut. Bahkan sampai dinihari,” ungkap pria yang juga cucu dari Kiai Mustajab ini.


Karena sampai dinihari, kata Muntaha, terkadang Kiai Mustajab menyempatkan salat malam di dekat sungai. Sarung yang dibawa dari rumah sengaja dibuat sajadah. “Salat wajib berjamaah juga di sungai ketika mancing,” lanjutnya.


Hebatnya, setiap kali memancing, Kiai Mustajab tidak pernah pulang dengan tangan hampa. Dia selalu mendapatkan ikan. Meski, jumlahnya tidak selalu banyak.


Tidak hanya jago memancing, kiai asal Padangan, Bojonegoro itu juga mahir menjala ikan. Makanya, setiap kali ada hajatan seperti mantu di ponpes, Kiai Mustajab bertugas mencari ikan di Sungai Brantas. “Dulu iwak kali (ikan sungai) jadi santapan setiap hajatan,” kenangnya.


Ponpes tidak perlu susah-susah membeli ikan di pasar. Pasalnya, sekali menjala ikan, Kiai Mustajab bisa membawa ikan sampai puluhan kilogram. Bahkan, dari cerita sang santri yang dituturkan Muntaha, Kiai Mustajab pernah mendapat ikan sampai 1 kuintal.


Karena kemahirannya itu, kata Muntaha, konon Kiai Mustajab memiliki kemampuan untuk mengendalikan buaya di Sungai Brantas. Dengan bantuan binatang tersebut, ikan yang didapat semakin banyak. “Itu cerita dari beberapa santrinya. Tapi sebenarnya kiai memang ulung mencari ikan sejak kecil,” kata pria 56 tahun ini. (bersambung)


Editor : adi nugroho
#islam #mancing #sungai brantas #santri #sejarah #sungai #nganjuk