Setelah wafat pada 1925 lalu, Pondok Pesantren (Ponpes) Gawang yang didirikan Kiai Sholeh terkena musibah banjir. Banjir itu pula yangmembuat bangunan pondok hilang dan hanya menyisakan bangunan masjid Al-Falah yang hingga kini masih digunakan warga Desa Gondanglegi, Prambon.
Masjid bercat putih di tepi sungai Dusun Gawangsari, Desa Gondanglegi itu mulai kusam. Dari jalan raya Nganjuk-Kediri, lokasi masjid agak tertutup oleh pepohonan. Untuk mengetahui keberadaan masjid, penandanya hanya papan bertulis masjid Jami Al Falah dan pengeras suara yang menjulang tinggi melebihi kubah masjid.
Meski keberadaannya sudah ratusan tahun, masjid ini masih digunakan oleh warga sekitar dan para musafir. M. Shon Haji Khotib, canggah Kiai Sholeh mengatakan, hanya masjid Al-Falah saja satu-satunya peninggalan Ponpes Gawang. “Bangunan lainnya terendam, ada pula yang terbakar,” kata pria berusia 68 tahun ini menceritakan banjir besar yang menerjang pesantren pada 1955 lalu.
Pascabanjir besar itu, area pesantren menjadi rawa. Ajaibnya, meski bangunan pondok terendam dan rusak, tidak demikian dengan masjidnya. Masjid Jami Al Falah masih berdiri kokoh dengan empat tiang kayu jati sebagai penyangganya. Kabarnya, Kiai Sholeh mengambil empat kayu penyangga itu dari hutan belantara.
Meski selamat dari musibah banjir besar, tak urung masjid yang sering terkena banjir itu harus direnovasi. Di antaranya, dengan ditinggikan hingga beberapa kali.
Keberadaan masjid sekaligus menjadi simbol bagi perkembangan Islam di tepian Sungai Brantas. Sekaligus menujukkan cara Kiai Sholeh untuk meninggalkan bukti dakwah Islam di tepi sungai Brantas. Yaitu, di Desa Gondanglegi, Prambon.
Berbeda dengan beberapa pesantren lain, sasaran dakwah Kiai Sholeh tidak hanya warga lokal. Utusan Ponpes Langitan Tuban ini rupanya dipercaya untuk menjadi guru bagi santri yang berasal dari Kasunanan Solo (Surakarta). “Santri itu awalnya menutup diri, tidak membuka identitasnya dari Kesultanan,” tutur Shon.
Terbukanya identitas putra Solo itu baru terjadi saat ada peristiwa seorang petinggi di Prambon. Kebetulan, sang pejabat tengah melintas di dekat sungai yang lokasinya tidak jauh dari pesantren.
Umumnya, orang lain akan memberi hormat. Tetapi, santri dari Solo itu tetap memancing. Tidak memberi hormat. Mengetahui ada santri yang tidak hormat membuat pejabat itu marah.
Sang pejabat lantas memanggil Kiai Sholeh untuk menghadap. Mendengar itu, santri dari Solo itu melarang Kiai Sholeh menghadap. Sebagai gantinya, dia yang akan menemui sang pejabat. “Cerita itu menyebar. Akhirnya diketahui jika santri yang tidak memberi hormat itu berasal dari Kasunanan Solo. Saat itu juga sang pejabat meminta maaf,” kenang Shon.
Hingga saat ini masih belum terungkap mengapa santri dari Kasunanan Solo memilih berguru kepada Kiai Sholeh. Shon menduga, hal itu tak lepas dari kemampuan Kiai Sholeh sebagai ahli Alquran. (bersambung)
Editor : adi nugroho