Guru dan Terapis Pengajar Anak Autis dan Down Syndrom di Sekolah CII

adi nugroho • Dipublikasikan Selasa, 5 Juni 2018 | 02:41 WIB
guru-dan-terapis-pengajar-anak-autis-dan-down-syndrom-di-sekolah-cii
guru-dan-terapis-pengajar-anak-autis-dan-down-syndrom-di-sekolah-cii

Mengajar anak berkebutuhan khusus berbeda penanganannya dengan siswa pada umumnya. Kebanyakan mereka lemah di pemahaman dan hiperaktif. Karena itu, pengajar di sekolah Jalan Kelapa, Tertek, Pare memakai teknik khusus pula. Seperti apa?


 


AHMAD MUSTHAFA AL QAHHAR


 


Bangunan di Jalan Kelapa, Dusun Jombangan, Desa Tertek, Kecamatan Pare itu terlihat seperti rumah. Luas bangunannya sekitar 8 x 12 meter persegi. Halamannya yang berpaving pun cukup luas, sekitar 3 x 8 meter. Hanya ada satu pohon jambu klutuk yang tidak terlalu rindang tumbuh di sana. Biasanya area tersebut dimanfaatkan untuk tempat parkir.


Yang membedakan dengan bangunan di sekitarnya adalah dinding bangunan tersebut dicat dengan gambar kartun warna-warni. Ya seperti bangunan rumah, tempat tersebut sejatinya adalah sekolah untuk siswa berkebutuhan khusus. Namanya, Cahaya Indah Inklusif (CII).


Ketika Jawa Pos Radar Kediri bertandang ke sana sekitar pukul 16.00, Sabtu lalu (2/6), suasananya tampak ramai. Ada belasan anak riang bermain. Mereka saling berkejaran. Orang tua mereka terlihat mendampingi. “Ya memang sedang ada pertemuan, kami kumpul bersama untuk buka bersama,” kata Andhani DS, manajer sekolah CII.


Anak-anak yang ikut berbuka puasa di sana adalah para siswa lembaga pendidikan tersebut. Mereka anak berkebutuhan khusus. Yakni autis dan down syndrom. “Ya sekolah ini memang didirikan untuk anak berkebutuhan khusus (ABK),” papar Andhani.


Sambil menanti waktu berbuka, ABK di sekolah yang di dalamnya terdapat berbagai ruangan itu terlihat gembira. Ruangan-ruangan di sana merupakan tempat belajar mengajar. Meski orang tuanya ikut mendampingi, tak mengurangi keceriaannya. “Di sini tempat belajar siswa TK dan SD dengan kebutuhan khusus,” terang perempuan 44 tahun tersebut.


ABK pada dasarnya lemah di pemahaman dan hiperaktif. Di CII itulah diupayakan agar peserta didiknya mengalami peningkatan secara bertahap dan dapat berkembang secara maksimal. “Di sekolah ini menampung guru-guru yang sudah terlatih. Utamanya dalam menangani masing masing siswa. Di antaranya ada terapis dan psikolog,” urai Andhani.


Setiap anak berkebutuhan khusus mendapatkan metode terapi di sekolah tersebut, terapi setiap anak berbeda beda- beda. Akan tetapi di CII mengutamakan terapi perilaku terlebih dahulu. Selanjutnya materi akademiknya mengikuti.


Andhani menangani anak berkebutuhan khusus tanpa membeda bedakan. “Saya hanya berusaha dengan semua yang saya bisa agar anak anak tersebut dapat diterima dengan perilaku masyarakat umumnya,” terangnya.


Salah satu terapis di sekolah CII tersebut adalah Vivi Zulfa. Dia merupakan salah satu guru di sana. Selain mengajarkan kegiatan akademik dan perilaku juga  ada terapi khusus yang diberikan pada siswa.


“Selain saya berikan terapi yang kami gunakan sebagai pengubah perilaku siswa, kami juga mengatur menu makan mereka,” terangnya.


Vivi menambahkan, bahan makannan yang dikonsumsi siswa juga berpengaruh pada perilakunya. Semisal saja siswa yang hiperaktif. Jika makan cokelat dan minum susu sapi murni akan menjadikannya semakin hiperaktif.


Vivi mengharapkan dukungan orang tua dalam upayanya membantu mendidik anak- anak berkebutuhan khusus saat dirumah. Dia mengimbau kepada orang tua saat dirumah untuk mengawasi anak-anaknya.


“Ada instruksi dari kami para guru dan terapis agar supaya saat di rumah siswa mendapat dukungan orang tua seperti kami di sekolah,” tuturnya.


Dalam penanganan yang dilakukan pada anak berkebutuhan khusus tersebut, Vivi menyatakan, harus disesuaikan dengan kebutuhan siswanya, tidak seperti sekolah normal yang bisa belajar dalam satu kelas dapat diisi 20 sampai 30 siswa. Para siswa berkebutuhan khusus ini tergadang hanya satu siswa satu guru. “Yang penting kita mengajar mereka dari hati, mereka pasti memahami,” pungkas Andhani.

Editor : adi nugroho
pengajar sekolah guru