Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Penambang ‘Emas’ Sungai Brantas, Slulup demi Sesuap Nasi

adi nugroho • Jumat, 1 Juni 2018 | 20:54 WIB
penambang-emas-sungai-brantas-slulup-demi-sesuap-nasi
penambang-emas-sungai-brantas-slulup-demi-sesuap-nasi


Dari kedalaman mereka  mendapatkan potongan perhiasan emas. Juga kepingan uang logam zaman kuno. Bahkan, pernah juga mendapatkan 5 gram perhiasan emas dalam waktu satu minggu.


 


RAMONA TIARA VALENTIN


 


Lelaki paruh baya dengan bertelanjang dada itu berdiri di tepi Sungai Brantas. Sejurus kemudian, dia masuk ke air. Beberapa saat menyelam tanpa alat bantu. Kemudian muncul lagi ke permukaan. Demikian berulang-ulang mereka lakukan. Hingga, kadang, mereka mendapatkan sesuatu dari dasar sungai. Seringkali benda itu adalah potongan perhiasan emas.


Ya, mereka adalah para penambang emas. Bukan penambang bijih emas. Tapi istilah itu merujuk pada aktivitas mencari potongan perhiasan emas yang ikut aliran sungai. Salah satunya adalah M. Romli Wibowo. Lelaki asal Lampung ini biasa menambang emas di sepanjang Sungai Brantas. Mulai Minggiran hingga Mojo.


Laki-laki yang akrab disapa Romli ini sudah menekuni pekerjaan itu sejak 2006. “Sebelum itu saya sudah kenal sungai Brantas selama 2 tahun. Tapi jadi penambang pasir,” terangnya.


Cerita Romli berganti pekerjaan dari penambang pasir ke pencari emas itu berawal saat dia tak sengaja menemukan potongan emas kala mencari pasir. Potongan perhiasan itu bercampur dengan pasir yang diangkatnya. Kemudian dia memutuskan berhenti dari mencari pasir. Berganti menjadi pencari emas di Sungai Brantas.


Kini, menyelam di Sungai Brantas, atau selulup, bagi Romli adalah bagian dari hidupnya. Bagaimana tidak, dia bisa memenuhi kebutuhan hidup anak dan istrinya dari hasil penjualan emas yang ia dapat.


Tapi, hidup Romli memang tak bisa jauh dari emas. “Lulus SMP  saya sudah cari emas.Tapi saya menggali, bukan slulup,” ujar ayah 2 anak ini.


Saat itu Romli benar-benar menjadi penambang emas. Yaitu mencari bijih emas dengan cara tradisional. Lokasinya di tanah kelahirannya, Lampung. Setelah dia menikah dengan Khusnul Khotimah, warga Prambon, Nganjuk, dia pun pindah ke Nganjuk. Kemudian bekerja menjadi penambang pasir. Sebelum akhirnya berganti menjadi pencari emas.


Walau 12 tahun menggeluti pekerjaan itu, tetap saja tidak mudah mendapatkan emas. “Kita harus nyelam sampai ke dasar sungai. Terus menggali pasir dengan tangan,” terangnya.


Di dalam air, Romli bisa bertahan maksimal lima menit. Bergantung kondisi tubuh. Semakin fit, bisa semakin lama.


Selain menahan napas, Romli juga harus menahan tubuh dari seretan arus air.“Kalau airnya sangat keruh, saya harus kerja ekstra,” terangnya. Air yang keruh dapat menganggu penglihatannya. Apalagi dia harus menyelam hingga kedalaman sungai yang mencapai 5 atau bahkan 12 meter.


Menariknya, tak hanya potongan perhiasan yang dia peroleh. Sering dia mendapat uang logam kuno. Bahkan, pernah pula mendapat perak atau keris. “Di dasar Sungai Brantas itu banyak cerita. Banyak benda hingga emas,” terangnya.


Keping uang logam yang dia temukan juga bermacam-macam. Dari motifnya bisa diperkirakan zaman asalnya. “Ada yang dari zaman VOC,” ujarnya sambil menunjukkan kepingan uang logam yang sudah berwarna merah kekuningan.


Romli juga mengaku pernah mendapatkan cincin yang dia perkirakan merupakan milik raja zaman lampau. “Motifnya tapak jalak,” ujar lelaki yang mengaku pernah dalam seminggu mendapatkan lima gram potongan emas ini.


Romli mengaku memahami barang-barang temuannya karena belajar sejarah. Atau, dia juga sering bertanya kepada orang yang mengerti soal barang-barang antik.


Ke mana barang-barang itu dijualnya? Menurut Romli, ada pengepul khusus yang menerima barang temuannya. Dia menyebutnya dengan kolektor. Saat mendapat benda berharga, dia tinggal mengabari sang kolektor itu.


“Setelah dikabari nanti juga mereka datang sendiri nemuin saya. Tinggal janjian saja,” ujarnya.


Namun, dia mengakui, tidak setiap hari bisa mendapat hasil. “Mengambil emas di sungai itu sama dengan mengadu nasib. Demi sesuap nasi,” katanya.

Editor : adi nugroho
#uang #perhiasan #sungai #brantas