Penyebaran Islam di tepi Sungai Brantas di Desa Gondanglegi, Prambon, punya satu kesamaan. Yakni dengan cara melawan para berandal yang sudah menguasai wilayah tersebut sebelumnya. Salah satunya dilakukan Kiai Ahmad Sholeh yang mendapat amanah dari Pondok Pesantren (Ponpes) Langitan, Tuban.
Kedatangan Kiai Ahmad Sholeh ke Gondanglegi, Prambon diperkirakan pada 1815. Saat itu, kiai mendapat lahan dari Haji Romli seluas 4 hektare (ha) di tepi Sungai Brantas. Haji Romli adalah sahabat dari Kiai Sholeh dari Langitan yang juga mertua Kiai Ahmad Sholeh. Lahan tersebut kemudian dipakai untuk mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Gawang.
Meski tergolong baru di Desa Gondanglegi, kiai asal Lamongan itu punya banyak santri. Itu berkat nama besar Langitan Tuban. Sehingga, sejak awal berdiri sudah banyak santri yang datang untuk menuntut ilmu agama. Mereka berasal dari daerah sekitar Prambon dan luar daerah.
M Shon Haji Khotib, generasi keempat Kiai Ahmad Sholeh mengatakan, sejak kedatangan kiai ke Gondanglegi, membuat para berandal yang biasa melakukan pencurian dan perampokan kalang kabut. "Lokasi Ponpes Gawang dengan markas para berandal itu sangat dekat," kata Shon.
Perselisihan dengan para berandal mengharuskan para santri wajib memiliki ilmu kanuragan. Menurut Shon, tidak mudah bagi pendatang seperti Kiai Ahmad Sholeh untuk langsung mendapat pengaruh bagi masyarakat di sekitar ponpes. Maka salah satu syarat untuk meraih simpati warga lokal adalah ilmu beladiri yang mumpuni. Kemampuan ilmu kanuragan di atas rata-rata itulah yang bisa memberikan rasa aman bagi warga.
Salah satu cerita fenomenal soal kesaktian Kiai Ahmad Sholeh adalah saat anaknya Kiai Masykir yang akan memindahkan beringin raksasa dari Prambon ke Ponpes Gawang. "Belum jelas kenapa Kiai Masykir akan memindahkan pohon itu," ucap Shon.
Ada kemungkinan karena saat itu masih banyak yang melakukan pemujaan ke pohon tersebut dan dianggap melenceng dari ajaran agama.
Kiai Sholeh tidak sepakat dengan keinginan putranya yang akan memindahkan pohon beringin tersebut. "Sebenarnya Kiai Ahmad Sholeh melarang, namun dia memberikan tantangan kepada putranya dengan berkeliling masjid," terang Shon. Syaratnya, bila Kiai Masykir mampu mengelilingi masjid dalam satu malam, maka dia boleh memindahkan pohon beringin raksasa itu.
Tantangan itu pun disanggupi oleh Kiai Masykir. Saat malam tiba, Kiai Masykir melakukan permintaan ayahnya itu. Meski diberi waktu dalam semalam untuk mengelilingi masjid Al Falah yang kini masih berdiri kokoh di Desa Gondanglegi itu, Kiai Masykir gagal. "Kemampuan Kiai Ahmad Sholeh inilah yang disegani banyak orang termasuk para brandal," katanya.
Meski saat ini Ponpes Gawang sudah tidak berwujud karena tenggelam terkena banjir dan menjadi rawa, namun masjid Jamik Al Falah masih berdiri kokoh. "Masjid ini sudah direnovasi," katanya. Dari bangunan tersebut, hanya empat tiang yag masih asli. Tiang itu dari kayu jati.
Selain cerita kemampuan Kiai Sholeh, kisah lain yang melegenda adalah empat tiang di masjid Al Falah. Ketika sering diterpa banjir, empat tiang itu rencananya akan dipindahkan. Anehnya, dari empat tiang, hanya ada satu tiang yang tidak bisa diangkat. "Hanya satu tiang yang tidak bisa dinaikkan," bebernya. Tiang tersebut bisa diangkat setelah dikumandangkan azan pada masing-masing tiang. (bersambung)
Editor : adi nugroho