Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cara Warga Menumbuhkan Minat Baca Siswa PAUD

adi nugroho • Minggu, 27 Mei 2018 | 18:02 WIB
cara-warga-menumbuhkan-minat-baca-siswa-paud
cara-warga-menumbuhkan-minat-baca-siswa-paud


Kegemaran membaca harus dibiasakan sejak kecil. Lewat motor baca, masyarakat terlibat menumbuhkan minat baca anak-anak usia dini. Orang tua juga semakin rajin membaca dari buku-buku yang diantar ke sekolah dengan sepeda motor.


 


ANWAR BAHAR BASALAMAH


 


Suasana sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) Al Mubarok, Desa Nglawak, Kecamatan Prambon, Nganjuk, tak ubahnya seperti pasar dadakan, Jumat lalu (25/5). Siswa berdesakan di dekat sebuah motor roda tiga. Itu bukan motor pedagang sayur yang biasa dijejali para ibu rumah tangga yang sedang belanja. Melainkan motor yang membawa buku-buku bacaan.


Setelah memilih buku, para siswa itu kemudian mencari tempat teduh untuk membaca. Ada yang di pelataran sekolah, sebagian duduk di bawah pohon rindang. Namun tidak sedikit yang memilih berdiri di dekat motor baca (moca) itu. Buku-buku yang semula tertata rapi di rak moca pun menjadi berantakan.


Para orang tua siswa yang menunggui anaknya juga tidak mau kalah. Mereka ikut mengambil buku di rak. Dengan mimik serius, orang tua anak PAUD ini melahap buku yang baru saja diambil. Duduk lesehan dan bergerombol.


Di lingkungan itu, semua orang tenggelam dalam buku bacaan. Termasuk para guru PAUD yang duduk di sebuah kursi plastik. “Semua jadi gemar membaca,” kata Imam Saroni, Pengelola Taman Baca Masyarakat (TBM) Moca. Selain sebagai pengelola, Imam juga bertugas mengantarkan buku-buku itu sampai ke PAUD menggunakan motor roda tiga.


Ide moca sebenarnya sudah tercetus sejak lama di Kecamatan Prambon. Pada 2010, beberapa desa di kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Kediri di sisi tenggara itu memiliki TBM di balai desa masing-masing.


Sayang, TBM belum jadi magnet bagi masyarakat setempat. Hanya beberapa orang saja yang mau memanfaatkannya. Karena itulah, empat pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) di Prambon bersepakat membuat perpustakaan keliling. “Supaya menjangkau masyarakat di sejumlah lokasi,” ungkap pria 52 tahun ini.


Empat PKBM itu adalah Karya Utama Desa Baleturi, Putra Tanjung Desa Tanjungtani, Kusuma Bangsa Desa Singkalanyar dan Nurul Ulum Desa Gondanglegi.


Dari ide awal itu, mereka kemudian menghimpun sumbangan dari masyarakat. Uang yang terkumpul rencananya akan dipakai untuk membeli motor roda tiga. “Kami mulai mengumpulkan uang dari masyarakat sejak 2010,” kata Imam yang sebelumnya aktif di TBM Desa Baleturi.


Selama tiga tahun, masyarakat di empat desa tersebut secara sukarela menyumbangkan uang mereka. Pada 2013, uang sudah terkumpul sekitar Rp 29 juta. Jumlah tersebut cukup untuk membeli mobil roda tiga plus modifikasi rak buku di belakang kemudinya.


Semula, mereka ingin menamakan program itu sebagai sumas (sumbangan masyarakat). Karena motor berasal dari sumbangan masyarakat. Namun nama itu dianggap kurang identik dengan kegiatan membaca. “Akhirnya kami namakan moca (motor baca),” ungkap pria kelahiran Nganjuk, 31 Desember ini.


Setelah bisa membeli motor, langkah berikutnya adalah menambah koleksi buku. Sebenarnya, koleksi buku di TBM masing-masing desa cukup untuk memenuhi kebutuhan moca. Namun ketika semua koleksi buku itu diangkut ke moca, TBM justru kekurangan buku. “Padahal kami juga ingin TBM tetap ada,” ungkap Imam.


Dibantu bidang Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) Dinas Pendidikan (Disdik) Nganjuk, mereka pun mengajukan bantuan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Gayung bersambut. Kemendikbud menyalurkan bantuan uang tunai sebesar Rp 25 juta.


Bantuan itu harus dirupakan dalam bentuk buku, rak dan keperluan lain untuk moca seperti kursi platsik. “Dari bantuan kementerian, kami bisa beli buku bacaan  lebih dari seribu eksemplar,” kata Imam.


Sejak lima tahun lalu, moca dioperasionalkan. Sasarannya adalah sekolah PAUD di empat desa tersebut. Selain itu, ada juga PAUD di desa lain. Salah satunya di Desa Nglawak, Kecamatan Prambon.


Sebagai pengelola TBM Moca, Imam secara sukarela mau menjadi pengemudi yang mengantarkan buku bacaan itu ke sekolah-sekolah. Tanpa bayaran dan imbalan. “Tidak ada gaji sama sekali,” kata Imam seraya tertawa.


Meski lebih sering, Imam tidak sendirian mengantarkan buku ke sekolah PAUD. Ketika dia berhalangan, ada orang lain yang siap menggantikan. Di antaranya adalah Nur Hidayat, takmir masjid Al Mubarok Desa Nglawak dan Agus Trimaryono, salah satu staf disdik yang tinggal di Prambon. “Jadi ada yang menggantikan,” ungkap bapak dua anak ini.


Imam mengaku, moca tidak keliling setiap hari. Biasanya, dalam seminggu sebanyak tiga kali. Mulai sekitar pukul 07.00, dia sudah berangkat ke sekolah PAUD. Apalagi hampir setiap hari, sepeda motor roda tiga itu dititipkan di kediamannya di Desa Baleturi. Kondisi itu membuatnya lebih mudah sampai di lokasi tepat waktu.


Untuk menyasar sekolah mana, biasanya guru PAUD menghubungi dulu. “Misalnya hari ini (Jumat), PAUD Al Mubarok yang butuh moca. Maka saya ke sini,” terangnya.


Setelah tiba di sekolah PAUD, Imam akan “memasrahkan” moca ke guru PAUD. Sebab, dia harus pulang dulu ke rumah. Sebagai petani, Imam saban hari bekerja di sawah. “Saya pinjam motor guru setiap pulang. Jam 10.00, saya kembali lagi ke sekolah,” ucapnya.


Karenanya, guru yang mendampingi siswanya mengambil buku di rak moca. Bagi siswa yang ingin memijam buku, guru pula yang mencatat siapa peminjamnya. Tanpa syarat apa-apa. “Makanya kalau buku sering tidak kembali itu sering. Berarti mereka mulai suka buku,” kata Imam, lantas tersenyum.


Menurut Imam, ada perbedaan signifikan ketika moca mangkal di sekolah-sekolah PAUD. Selain menumbuhkan minat baca anak usia dini, secara tidak langsung kegemaran itu juga menular ke orang tua mereka. Sambil menunggu anak pulang, orang tua bisa membaca buku bacaan.


Sebelumnya, mereka sering ngerumpi dan main gadget. “Sekarang suka baca-baca. Meskipun terkadang cuma dilihat-lihat gambarnya,” kata pria asli Baleturi ini.


Perubahan itu diakui Sulis Rahmawati. Perempuan yang akrab disapa Rahma ini mengaku, lebih senang membaca sekarang. Sebelumnya, setiap menunggu anak, Rahma sering ngobrol ngalor-ngidul bersama para orang tua lain yang mayoritas ibu rumah tangga. “Saya suka baca buku berisi keterampilan,” kata perempuan 25 tahun ini.


Bahkan, Rahma mulai sering mengoleksi bacaan di rumah. Walaupun masih sebatas majalah. Tanpa disadari pula,  Raka Pratama, sang anak yang masih sekolah PAUD, juga mulai gemar membaca. “Ini karena dibiasakan lewat motor baca,” ungkap perempuan asal Desa Gambyok, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri ini.


 

Editor : adi nugroho
#prambon #anak #pendidikan #membaca #baca #nganjuk