KEDIRI KOTA– Pementasan Teater Kanda IAIN Kediri, Sabtu malam silam (12/5), sungguh ‘pedas’. Menampilkan naskah Maling karya Auf Syahid, adegan dan dialognya sarat kritik pada kehidupan sosial masyarakat.
Terlebih pelaku korupsi yang seakan tak ada malu-malunya.
Menggambarkan kesederhanaan suasana Desa Suka Makmur yang tenteram tiba-tiba geger setelah uang kas desa dicuri maling. Sontak warga langsung menuduh Maman yang diperankan Khabib Al-Mukhsoni.
Pasalnya, Maman dikenal sering mengutil barang-barang warga. “Pesan kami cukup sederhana sebenarnya. Sekali orang berbuat buruk, maka tidak akan dipercaya lagi di mata masyarakat. Karena image jelek selalu melekat pada dirinya,” terang Izzah Anisatil A’yuni, ketua Teater Kanda.
Apalagi sang sutradara, Huda Taufiqurrijal, membalut pementasan yang sederhana itu dengan kata-kata puitis namun penuh kritikan pedas. Mulai dari menyindir budaya korupsi yang merajalela. Seperti di Kota Kediri dengan kasus korupsi Jembatan Brawijaya hingga korupsi e-KTP.
“Dari pementasan kami juga mengembalikan lagi pesan yang disampaikan itu tergantung pada penangkapan para penonton. Sehingga bisa membuat sudut pandang lain,” ujar mahasiswi prodi ekonomi syariah ini.
Selain itu, pesan tentang anti-kekerasan pun didengungkan dalam teater ini. Seperti saat adegan Maman yang mangga curiannya diminta paksa oleh maling uang kelurahan yang diperankan Hamas dengan menodong.
Hamas yang menduga bungkusan mangga itu adalah uang kelurahan pun rela hendak membunuh Maman hanya demi nafsu duniawinya. “Memang orang sekarang pada aneh. Dikit-dikit kekerasan, main senjata, nodong, nyuap. Nggak mau kerja keras,” ungkap Maman saat mangganya dirampas.
Di akhir pementasan, Maman lah yang dituduh mencuri. Ini karena dia kerap mengutil barang, seperti sandal hingga baju warga. Pada akhirnya dia mati dihakimi massa.
Dalam pementasan ini, semakin pedas lagi kritikannya saat di pertengahan pementasan diberi sisipan puisi yang diperagakan warganya atas apa yang mereka rasakan akibat korupsi yang merajalela itu. Terlebih dalam puisi tersebut terkandung lagu ‘Dari Sabang sampai Merauke’ yang diganti beberapa kata diubah untuk menggambarkan Indonesia saat ini.
“Dari Sabang sampai Merauke berjajar dusta-dusta// Suap menyuap menjadi satu itulah Indonesia//,” ungkap aktor Anisa yang berperan sebagai anak karena saking geramnya pada kondisi saat ini.
Terlebih dalam dialog mereka pun selain pedas juga menunjukkan hukuman-hukuman yang pantas untuk seorang koruptor. Yang mereka anggap Indonesia lah hukuman koruptor yang paling ringan. Dalam dialog antara anak dan ibu dalam pementasan Maling itu mengatakan. “Di Tiongkok koruptor dipotong lehernya. Di Arab koruptor dipotong tangannya. Tapi di Indonesia koruptor dipotong masa tahanannya,” ujar si anak sambil menangis tersedu-sedu.
Izzah menerangkan dalam pementasan ini tak hanya ingin memperlihatkan realita kehidupan yang kebal hukum pada para koruptor di Indonesia. Namun pihaknya juga menganggap bahwa maling-maling besar yang berduit, karena menggarong uang rakyat lebih besar itu, malah terlindungi dari pada maling kecil.
Terlebih maling kecil lebih segan polisi untuk menangkapnya dan risikonya pun lebih besar karena kerap dihakimi massa jika tepergok dan nyawa taruhannya. “Karena realita saat ini hukum bisa dipermainkan,” tegas mahasiswa semester 6 ini.
Editor : adi nugroho