KEDIRI KOTA – Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Kediri semakin dekat. Pencoblosan hanya tinggal satu bulan. Para pasangan calon (paslon) berlomba-lomba kampanye untuk mensosialisasikan program mereka. Salah satunya adalah program tentang pemberdayaan masyarakat hingga peningkatan sektor religi di Kota Kediri.
Misalnya, seperti program yang diusung paslon nomor 3 Samsul Ashar-Teguh Junaidi. Yaitu dalam bentuk honor atau insentif hingga tunjangan. “Seperti nanti ada insentif bagi takmir masjid, juru kunci makam, petugas pencatat nikah, tokoh agama, hingga modin,” terang Samsul dalam sosialisasinya.
Begitu juga dengan paslon nomor urut 2 Abdullah Abu Bakar-Lilik Muhibbah. Keduanya juga memiliki program terkait peningkatan sektor religi. Dalam debat publik saat itu Abu menerangkan bahwa selama kepemimpinannya dalam lima tahun terakhir ini pihaknya telah menaikkan honor sekitar 1.600 guru TPQ. Dari hanya Rp 50 ribu kini menjadi Rp 300 ribu.
“Dari sinilah kita harap bisa kembali meningkatkannya dan para guru TPQ bisa nyaman dalam mengajar agama pada muridnya,” terang calon petahana ini.
Pasangan nomor 2 ini juga akan memberikan program seragam gratis bagi siswa madrasah. Sehingga tidak ada perbedaan lagi antara SMP Negeri atau SMA Negeri dengan madrasah.
Paslon nomor urut 1 Aizzudin-Sudjono pun juga tidak ingin ketinggalan dalam memajukan bidang religi di Kota Kediri. Gus Aiz yang dari golongan ulama ini pun visinya pun sudah terlihat dengan mendengungkan akan mewujudkan Kota Kediri yang lebih maju, sejahtera, sehat, berpendidikan, agamis, dan aman tersebut. “Ini kita wujudkan dalam misi kami mewujudkan masyarakat yang bertakwa, berbudi luhur, jujur, dan amanah,” tegas Gus Aiz dalam debat publik saat itu.
Tidak hanya itu saja, pasangan yang kerap disapa Gus Aiz-Mas Djono ini juga dalam programnya hendak mewujudkan Nasionalis Religius. Hal itu merupakan karakter kuat masyarakat Kota Kediri.
Editor : adi nugroho