Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Soal Pengangguran hingga Sejarah

adi nugroho • Rabu, 2 Mei 2018 | 00:51 WIB
soal-pengangguran-hingga-sejarah
soal-pengangguran-hingga-sejarah

KEDIRI KOTA – Ketiga pasangan calon (paslon) Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Kediri punya konsen khusus tentang dunia kerja serta kekakayaan sejarah Kota Kediri. Bahkan, topik-topik itu menjadi perdebatan sengit saat debat publik Pilwali Kediri Senin (23/4) lalu.


Soal lapangan pekerjaan misalnya, pasangan nomor urut 2, Abu Bakar – Lilik Muhibbah, menyebut bahwa angka pengangguran di Kota Kediri kian menurun dari tahun ke tahun. Hal itu untuk mengkonter pendapat paslon nomur urut 1 yang menyebut bahwa angka pengangguran semakin tinggi.


Nah, pada sesi  kekayaan sejarah, debat justru terjadi antara paslon nomor 1 dengan paslon nomor 3. Khususnya terkait strategi merekonstruksi kekayaan sejarah. Sebagai modal pembangunan daerah.


“Langkah awal kami dengan riset,” ungkap Samsul Ashar, cawali nomor urut 3.


Menurutnya, riset yang dilakukan ahli sejarah hingga arkeolog ini penting untuk membuka kembali hal-hal yang belum diketahui. Baik dari cerita hingga asal-usul situs. Setelah itu diikuti dengan revitalisasi daerah-daerah bersejaran . Hal itu sangat penting untuk merekonstruksi kekayaan sejarah. “Kita memiliki tempat-tempat yang berpotensi untuk direvitalisasi. Mulai dari taman wisata Gua Selomangleng hingga wisata religi Syech Wasil Setono Gedong,” ujar mantan Walikota Kediri ini periode 2009-2014.


Lebih lanjut, setelah riset menjadi pijakan dan tempat-tempat wisata bersejarah  direvitalisasi, masyarakat di sekitar tempat itu diperdayakan dengan memperkenalkan masa lampau. Kemudian dari situlah masyarakat juga akan mendapatkan imbas juga dengan berkembangnya kegiatan-kegiatan ekonomi kreatif.


Namun cawali nomor 1, Gus Aiz, menanggapi dengan kritik yang tajam. Dia menyatakan bahwa riset akan memerlukan biaya yang tinggi. Terlebih biaya tersebut mulai dari mendatangkan peneliti hingga akomodasi penelitian yang tidak sebentar.


Dia berpendapat bahwa sisi lain di Kota Kediri memiliki kondisi yang cukup mengenaskan. “Kita coba lihat beberapa wilayah seperti sekitar Burengan hingga Pakelan yang juga perlu diperhatikan,” ungkapnya.


Karena itu dia memilih mendahulukan kondisi ekonomi hingga kebersihan. Sehingga dengan riset yang akan mengeluarkan uang tidak sedikit itupun bisa dianggap pemborosan. Karena ada hal-hal yang lebih penting dan harus dilakukan terlebih dahulu.

Editor : adi nugroho
#kediri #pilwali #sejarah