Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Adu Argumen sampai Saling Sindir Program

adi nugroho • Selasa, 24 April 2018 | 22:13 WIB
adu-argumen-sampai-saling-sindir-program
adu-argumen-sampai-saling-sindir-program


KEDIRI KOTA – Debat pertama pasangan calon Wali Kota Kediri tadi malam berlangsung seru dan sengit. Tiga kandidat yang tampil dalam debat di Insumo Kediri Convention Center (IKCC) berusaha tampil all out dengan menonjolkan programnya masing-masing. Dengan, tentu saja, mengomentari program-program rival.


Dari tiga paslon, dua di antaranya yang terlibat debat paling ‘hangat’. Yaitu pasangan nomor urut 1, Aizzudin-Sudjono, dan nomor 2, Abu Bakar-Lilik Muhibbah. Sengitnya debat dua paslon ini terlihat mulai awal segmen.


Baru masuk pembacaan visi-misi, kedua paslon sudah saling adu argumentasi. Bahkan terkesan saling sindir. Seperti saat Gus Aiz mengutarakan soal pengangguran pengangguran di Kota Kediri.


“Setelah saya coba turun ke bawah, kami menemukan pengangguran terbuka cukup besar. Adapun kesenjangan ekonomi juga cukup renggang,” ujar Gus Aiz.


Hal itu  langsung disanggah oleh Mas Abu-sapaan akrab Abdullah Abu Bakar-juga dalam paparan visi-misi. Menurutnya, dalam kepemimpinannya angka pengangguran justru turun. Dia menggambarkan angka pengangguran sebelumnya delapan. Dalam masa lima tahun kepemimpinnya jadi empat. Artinya, ada penurunan hingga separo. “Penurunan ini pun sesuai dengan data dari statistik,” terang Mas Abu.


Saat segmen tiga round pertama, pertarungan kedua paslon ini masih mendominasi. Di sesi itu Gus Aiz menyodorkan program unggulannya yang dia sebut Lingkar Kota. Yang memberikan alokasi RT dan RW anggaran Rp 100 juta per lingkungan. Oleh Abu, program ini dikritisi dengan bertanya dari mana anggarannya berasal. Kebetulan, Abu juga punya program andalan yang justru sudah dilakukan dalam masa pemerintahannya selama ini. Yaitu Program Pemberdayaan Masyarakat (Prodamas). Bahkan, seperti tak mau kalah Abu juga bertekad menaikkan dana program itu menjadi Rp 100 juta per RT.


Debat semakin hangat ketika paslon nomor dua dipertemukan dengan paslon nomor 3. Kali ini giliran Mas Abu yang ditanya tentang penataan PKL. Samsul, mantan wali kota yang dulu berpasangan dengan Abu, memberikan pertanyaan kritis.


Menurut Samsul, PKL sebagai UMKM penting untuk pendorong kemajuan ekonomi Kota. Namun, di kepemimpinan Mas Abu-Ning Lik, menurut Samsul, justru dibatasi dengan zona waktu. “Kalau dibatasi, ekonomi kerakyatan akan tidak bisa berkembang,” sebut Samsul.


Mendapat pertanyaan kritis tersebut, Abu pun menerangkan bahwa penataan waktu untuk menata agar menjadi tertib. Namun pihaknya juga akan memberikan ruang lebih besar untuk tumbuhnya PKL. Bahkan menumbuhkan PKL yang lebih kreatif dan lebih banyak. Yaitu dengan menyediakan tempat dan memberikan acara seperti Car Free Night (CFN) maupun Car Free Day (CFD) setiap hari Minggu. Dari situ diketahui bahwa PKL cukup tumbuh besar di setiap jalan saat diberi ruang lebih. “Karena CFD yang juga bisa digunakan untuk tempat PKL ini adalah baru saat kepemimpinan kami (Mas Abu – Ning Lik, Red),” tegas Abu.


Hingga akhir acara debat ini, ketiga paslon menunjukkan tanggapan-tanggapan yang kritis terkait cara memajukan Kota Kediri. Suasana debat semakin riuh-rendah dengan setiap pendukung paslon yang genggap-gempita memberikan dukungan. Mereka meneriakkan yel-yel yang kompak hingga dukungan sorak-sorai yang membuat semangat jago mereka. 


 

Editor : adi nugroho
#kediri kota #kpu #pilwali