Tak mudah menyabet sepuluh medali dalam Brawijaya Archery Championship. Berbagai latihan hingga begadang pun mereka lakukan. Tujuannya untuk mendapatkan hasil maksimal.
M. FIKRI ZULFIKAR
Usianya sangat muda. Saat diwawancara jawabannya terkesan polos. Namun anak-anak asli Kediri ini bisa menorehkan prestasi hebat. Mampu mengharumkan daerahnya. Melalui olahraga panahan yang menjadi hobi mereka.
Di antara kejuaraan yang telah mereka ‘taklukkan’ adalah Brawijaya Archery Championship (BAC) 2018. Event panahan skala nasional yang berlangsung di UB Sport Center, Universitas Brawijaya Malang, 8-11 Maret lalu.
Anak-anak yang tergabung dalam Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Kota dan Kabupaten Kediri itu meraih banyak medali dalam event itu. Lima kategori kategori mereka menangkan. Di antaranya regu standard bow, regu recurve, recurve perseorangan, compound perseorangan, dan compound regu. “Dari situ kami dapatkan tujuh medali perak dan tiga medali perunggu,” terang Ashafieq Fauzan Dianta, salah seorang atlet panahan.
Ashafieq berlaga bersama dua teman sekelas di SMPN 1 Kediri. Yaitu Damar Tri Atmojo dan Moch. Evan Nanda Waluyo. Mereka mendapat perak.
Menurutnya, tidak mudah mendapatkan medali perak di event itu. Mereka harus latihan keras. Sebulan sebelum kejuaraan berlatih setiap hari. Mulai sore hingga pukul 22.00!
Karena masih pelajar, mereka pun harus mampu mengatur dengan jadwal belajar. Di sela-sela latihan pun mereka membawa tugas sekolah. Mengerjakannya di tempat latihan.
Hal sama diceritakan oleh Assyifa Fara Diba. Siswa kelas V SDIP Al-Minhaaj Wates ini juga merasa latihan beratnya tidak sia-sia. Terlebih dia mendapat perak di nomor recurve perseorangan dan perunggu di recurve beregu.
Hebatnya, walau berlatih keras, dia masih bisa mengaji hafalan Alquran.
“Kalau sehabis subuh saya juga berlatih panahan di rumah,” ujar Diba.
Yang membuat kagum, event di UB tersebut tak hanya diikuti pemanah amatir. Tapi juga atlet nasional. Evan misalnya, mengkau grogi saat melawan Dimas Islami di compound perseorangan. Nama terakhir itu adalah atlet nasional asal Surabaya.
Namun, upaya keras Evan berbuah bagus. Dia mampu meraih perak. Sementara Dimas, yang atlet nasional, justru hanya mendapat perunggu.
Damar, peraih perak dalam beregu, menerangkan bahwa saat bertanding di Malang dia dan teman-temannya harus menyesuaikan kondisi lapangan yang ada. Sehari-hari mereka berlatih di out door, di lapangan. Namun, lombanya justru berlangsung di in door. Di dalam ruangan. “Banyak perbedaannya. Kalau di out door kami selalu memperkirakan kekuatan angin. Tapi di sini beda,” terangnya.
Masih menurut Damar, berlaga di out door membuat konsentrasi meningkat. Karena berada di alam bebas. Berbeda dengan di ruangan, karena udaranya juga pengap. “Namun akhirnya kami bisa menyesuaikannya. Dan akhirnya kami tetap bisa konsentrasi. Dan, tetap menjadi juara,” ungkap Damar.
Damar menambahkan, selain mereka berempat, juga ada beberapa temannya yang juga dari Perpani Kota dan Kabupaten Kediri yang ikut ke kejuaraan itu. Seperti dua teman seregu Adiba, Vanisa Aqila Husna Wijanti dan Nayshila Violetta Putri.
Tidak hanya itu ada pula atlet bernama Graceyla Joicelyn di ketegori compound. Juga ada pula di kategori regu recurve umum yang selain anak-anak ini dan merupakan pelatih mereka yang juga mendapat medali. Di antaranya Didik Susanto, Eko Darmanto, dan James Patric Oetomo. “Alhamdulillah kita pulang membawa hasil,” tegasnya.
Editor : adi nugroho