KEDIRI KABUPATEN– Pemkab Kediri terus berupaya menata pedagang kaki lima (PKL) Simpang Lima Gumul (SLG), Ngaem. Ini karena keberadaan mereka dianggap masih semerawut. Penataan dilakukan dengan memusatkan para pedagang di dua titik, yaitu sisi timur untuk pedagang kuliner dan barat yang non kuliner.
“Khusus kuliner dipusatkan ke area eks Pasar Tugu (Sabtu-Minggu), sedangkan non kuliner sisi barat atau sisi timur Taman Hijau,” jelas Kabag Perekonomian Pemkab Kediri Sampurno saat dihubungi melalui ponselnya, tadi malam (17/3).
Menurutnya, proses penataan ini dilakukan lantaran melihat jumlah pedagang, khususnya saat car free day (CFD) terlalu banyak. Akibatnya, terkesan semrawut. Mereka berjualan memenuhi area sekitar lapangan rumput. Padahal di sana ada masyarakat lain yang ingin memanfaatkan sarana olahraga.
Akibatnya, aktivitas itu pun menjadi terganggu. “Kami akhirnya memutuskan melakukan penataan,” beber Sampurno.
Konsep penataan di dua titik ini rencananya akan dimulai hari ini (18/3). Sampurno menyebut, sebelumnya pihaknya terus melakukan uji coba dan evaluasi. Konsep dua titik inilah yang sementara ini dianggap ideal.
Ditegaskan oleh Sampurno bahwa pedagang bukan direlokasi ke area Pasar Tugu. Sebab, saat ini tidak ada istilah pedagang Pasar Tugu. “Yang ada pedagang kawasan Simpang Lima Gumul,” tandasnya.
Pasar Tugu itu sendiri mulai hilang setelah para pedagang tidak lagi berjualan Sabtu –Minggu saja, tetapi sudah tiap hari. Karena itu, pada konsep penataan baru ini, tidak ada istilah kapling tempat.
Soal kapling ini, Sampurno mengatakan, juga untuk menghindari munculnya jual beli tempat dagangan. “Model jual beli ini yang kami hindari , jadi semua pedagang bebas untuk berjualan dan memilih tempat,” tegasnya.
Kalaupun tidak cukup, tegas Sampurno, tim penataan akan melakukan evaluasi lagi dan mencarikan tempat untuk para pedagang, sehingga tidak terlihat semrawut. Pasalnya, sebagai destinasi wisata favorit di Kabupaten Kediri, kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) menjadi pusat perhatian.
“Jika semrawut dan tidak ditata, bagaimana pandangan para wisatawan dan pengunjung, para pedagang (PKL) harusnya manut (menurut),” pungkasnya.
Sementara itu, pedagang meminta agar penataan berlangsung tegas. “Kalau bisa jangan dibedakan antara kuliner dan non kuliner,” ucap Hafis, koordinator Pedagang Kaki Lima (PKL) Simpang Lima Gumul (SLG).
Selain itu, lanjut Hafis, para PKL SLG yang berjualan di kawasan simpang lima, khususnya saat CFD, hanya berjualan sekitar tiga jam. Itu mulai pukul 08.00-10.00.
Dengan waktu yang singkat tersebut, seharusnya membuat Pemkab Kediri menoleransi pedagang. Meski begitu, saat ini, para pedagang memilih mengalah dan mengikuti penataan.
“Infonya hanya uji coba dulu selama dua minggu, semoga dagangan laku di tempat yang baru,” harapnya.
Editor : adi nugroho