Henvita Wijaya Suwelo tak pernah menyangka menjadi gadis batik favorit dalam acara School Contest 2018 ini. Apalagi dia baru pertama kali menjajal dunia modeling. Bidang akademik agaknya masih menjadi perhatian Vita. Tapi, tetap saja ia tak menyerah berkompetisi dalam acara seperti ini.
RAMADANI WAHYU N
Sebenarnya, dunia modeling tak pernah menjadi minat Henvita Wijaya Suwelo, 16, saat kecil. Sebab siswa SMA Petra Kediri ini tak terlalu suka bergaya.
“Saya sebenarnya tidak terlalu suka gaya Mbak,” tutur gadis yang karib disapa Vita ini.
Tapi ia pun akhirnya setuju ketika sang guru seni budaya, Daryuli, memilihnya. Menunjuknya menjadi wakil sekolah di ajang pemilihan Gadis Batik.
Tentu bukan tanpa alasan bila Daryuli memilih Henvita. “Kayaknya beliau memilih saya karena saya punya potensi,” ungkap Vita.
Sebenarnya, potensi yang dimaksud Vita bukanlah potensial dalam dunia modeling. Atau kegiatan sosial dan ekstra lainnya. Namun gadis ini menyimpan potensi di bidang akademik. Sebab, di kegiatan ekstrakurikuler dia terkesan angin-anginan. “Saya kadang aktif, kadang tidak di ekstra badminton dan paduan suara,” terang gadis bungsu dari tiga saudara ini.
Gadis penyuka pelajaran matematika ini memang dikenal sebagai sosok yang bertanggung jawab dan ramah. Alasan inilah yang sepertinya menjadikan alasan Daryuli untuk memilih Vita menjadi wakil SMA Petra untuk maju dalam School Contest ini. “Bu Daryuli langsung memilih saya. Jadi tidak melalui tes macam-macam,” terangnya.
Pilihan Daryuli ternyata tak meleset. Vita menang sebagai jawara gadis favorit berkat dukungan teman-teman dan pihak sekolah.
Ditanya masalah pengalaman dalam bidang modeling, Vita hanya terseyum. Ia mengaku baru pertama kali menjajal dunia modeling. Dari situ ia belajar dari nol. Termasuk untuk berjalan berlenggak-lenggok di cat walk. Juga, dia tergolong baru belajar tentang batik. “Aku diberi pelatihan selama tiga hari saja. Itu juga belajar jenis-jenis batik,” jelas anak pasangan Iwan Suwelo dan Ina Nuryani.
Batik yang dikenakan Vita dalam acara School Contest XI bermotif daun pepaya. Gadis yang bercita-cita menjadi dokter ini menjelaskan bahwa makna filosifis daun pepaya sebenarnya sangat banyak. Yang pertama, daun pepaya memiliki lima ruas yang menjari. “Itu sama halnya dengan lima jari yang bermakna Pancasila,” terang Vita.
Selain itu, manfaat daun pepaya juga sangat besar bagi kesehatan. Termasuk untuk obat-obatan herbal. Dari situlah latar belakang ia memilih motif daun papaya sebagai senjata berkompetisi Gadis Batik yang diadakan di Convention Hall Simpang Lima beberapa waktu yang lalu.
Dari pengalaman yang baru menjadi modeling ini, Vita memperoleh banyak pelajaran dan pengalaman. Termasuk cara jalan, etika duduk, cara makan. “Itu semua sebenarnya sangat bermanfaat untuk menjaga etika diri,” kata Vita.
Gadis yang memiliki tinggi sekitar 161 sentimeter ini mengaku sempat minder. Pasalnya, pada saat audisi Jaka-Gadis batik oleh dewan juri, batik yang digunakan dikomentari habis-habisan. Bahkan disebut terlalu sederhana dan kurang glamour.
Meskipun menjadi juara favorit, Vita tetap senang. Pasalnya ia menjadi banyak pengalaman dan teman-teman.
Ditanya untuk apa hadiah senilai topi penghargaan dan uang tunai sebesar Rp 1 juta, ia mengaku akan ditabung. “Ditabung Mbak, buat keperluan hari esok,” tutur gadis yang mendapat polling sebesar 225 balot ini.
Sementara itu, Jaka Batik yang menjadi pemenang dalam acara gadis jaka batik school contest diraih oleh M. Bilal Tri Andika dari MTsN 7 Kediri. Bilal mendapat ballot sebesar 1337 atau sebesar 59,05%.
Editor : adi nugroho