Keresahan langsung dirasakan M. Toyib. Rekeningnya di Bank BRI tiba-tiba lenyap. Jumlahnya cukup besar. Rp 131 juta lebih. Dia pun terpaksa membatalkan liburannya di Malaysia.
Warga Desa Purwokerto, Kecamatan Ngadiluwih, ini kemarin ikut dalam antrean nasabah yang ingin mengecek saldonya. Memang, saat ini rekeningnya masih aman. Namun, dia mengaku pernah mengalami peristiwa serupa dengan yang menimpa nasabah saat ini.
Toyib menyebut kejadian itu sudah terjadi tiga bulan lalu. Tepatnya pada Senin (29/1). Saat itu pemilik PJTKI di Malang ini tengah berada di Malaysia. Bersama keluarga, saat itu dia tengah ‘jalan-jalan’ ke Kuala Lumpur, Malaysia.
Sebagai bos pengerah tenaga kerja ke luar negeri, dia memang harus sering mengunjungi wilayah-wilayah yang menjadi tempat pengiriman TKI-nya. Seperti Hongkong, Singapura, Brunei Darussalam, dan Malaysia. Saat itu Toyib berencana berlibur sekalian berbisnis di negara melayu tersebut.
“Rencananya ke Malaysia selama lima hari,” tutur laki-laki 48 tahun ini.
Sebagai seorang pembisnis TKI, tentu sudah menjadi hal biasa apabila ia keluar masuk Indonesia. Apalagi bisnisnya tersebut sudah berjalan sekitar tiga puluh tahunan. Meskipun begitu, bisnis Toyib juga sering pindah-pindah. “Pernah juga di Jakarta, Batam, hingga sekarang di Malang,” katanya.
Kejadian pembobolan ATM menurut Toyib terjadi pada saat dini hari. Sekitar pukul 22.00 waktu Malaysia. Dia sudah pulang ke hotel. Tiba-tiba sekitar pukul 01.30 Toyib mendapatkan SMS notifikasi dari M-Banking. Mengabarkan adanya transaksi debet sebesar Rp 100 juta lebih. “Tepatnya Rp 131.821.208,00 Mbak,” terangnya.
Sontak pria yang sekitar setahun menjadi nasabah BRI Purwokerto ini kaget. Hingga pada malam hari itu, ia tak bisa tidur hanya memikirkan nasib uangnya yang ludes. “Saldo saya tinggal Rp 70 ribu saat itu,” terangnya.
Esok harinya, Toyib memutuskan kembali ke Indonesia dan menggagalkan rencana berlibur. Toyib saat itu sempat menelepon call center Bank BRI. Tapi tidak bisa. “Alhasil saya langsung kembali ke Indonesia untuk melapor apa yang sebenarnya terjadi,” tutur Toyib.
Sesampai di Purwokerto ia melaporkan pada KCP BRI Purwokerto. Ia sempat mengurus pengembalian dari pihak BRI selama satu bulan. “Benar bahwa selama satu bulan sudah dikembalikan,” terangnya.
Setelah dilakukan pengecekan, kata Toyib menirukan penjelasan pihak bank, transaksi sebesar Rp 100 juta itu memang dilakukan dari Jawa Tengah. “Transaksi itu dilakukan dari Jawa Tengah ketika saya di Kuala Lumpur,” jelas Toyib.
Menurut Toyib, pada saat itu, pembobolan rekening ATM secara masif belum banyak terjadi di masyarakat. Karena berhubungan dengan kepentingan pihak bank, alhasil tidak ramai menjadi perbincangan publik. “Yang penting pihak bank sudah mengganti uang saya,” pungkasnya.
Editor : adi nugroho