Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Nyi Bella Bellinda, Dalang Remaja Perempuan asal Nganjuk

adi nugroho • Rabu, 14 Maret 2018 | 14:50 WIB
nyi-bella-bellinda-dalang-remaja-perempuan-asal-nganjuk
nyi-bella-bellinda-dalang-remaja-perempuan-asal-nganjuk


Lahir dari ayah seorang pedalang, Bella Bellinda sudah menyukai seni pertunjukan itu sejak kecil. Menekuni pedalangan sejak di bangku SD, kepiawaiannya menyabetkan wayang dan menirukan suara karakter wayang pun tak kalah dari dalang laki-laki.


 


SRI UTAMI


 


“Sapa iki teliksandi saka negara Ngastina? (Siapa ini mata-mata dari negara Astina, Red),” kata Bella Bellinda menirukan perkataan Kumbakarna, salah satu tokoh pewayangan, saat diwawancarai koran ini, kemarin.


Suara Bella, demikian Bella Bellinda biasa disapa, yang biasanya renyah dan ringan mendadak menjadi berat dan besar seperti halnya sosok Kumbakarna. Raksasa yang merupakan saudara dari Rahwana, raja raksasa dari Kerajaan Alengka dalam cerita pewayangan.


 Mahasiswi semester dua jurusan pendidikan bahasa dan sastra Jawa, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu mengeluarkan suara yang berbeda saat dia menirukan perkataan Rahwana. “Suara Kumbakarna dan Rahwana sama-sama besar dan berat. Tetapi, Kumbakarna yang paling berat. Rahwana suaranya tidak terlalu besar,” lanjut gadis berusia 18 tahun itu.


Menjadi dalang, apalagi perempuan, memang bukan hal yang mudah. Putri pasangan Ali Mudo Siswoko dan Narlin ini dituntut untuk bisa menghafal banyak cerita wayang. Tidak hanya itu, gadis yang tinggal di Dusun/Desa Gandu, Kecamatan Bagor itu harus menghafal tokoh wayang yang jumlahnya sangat banyak.


Yang lebih penting, Bella juga harus menguasai seni dalam pewayangan. Termasuk cara menyabet atau memainkan wayang. Dan, yang paling berat adalah olah suara. Sebagai perempuan, Bella dituntut untuk bisa menirukan suara banyak karakter wayang yang berbeda-beda. Di saat yang sama dia juga harus menghafalkannya. “Saya bisa menirukan setidaknya 10 karakter suara yang berbeda,” lanjutnya sambil tersenyum.


Seni pedalangan memang tidak mengenal jenis kelamin. Karenanya, Bella dituntut bisa kompetitif seperti halnya dalang laki-laki. Agar bisa menguasai karakter-karakter suara dalam tokoh pewayangan, bungsu dari dua bersaudara ini belajar langsung kepada Ali Mudo Siswoko, sang ayah, yang memang pedalang.


Selebihnya, dia belajar dari tutorial di youtube. “Kalau mendalang kita harus menggunakan suara perut. Kalau memakai tenggorokan tidak kuat. Nanti bisa sakit,” urainya.


Sejak kapan gadis berambut panjang ini menyukai seni pedalangan? Ditanya demikian, dia terlihat kebingungan menjawab. Sebagai anak yang lahir di keluarga seniman, gadis yang juga hobi bermain gamelan ini memang sudah akrab dengan kesenian wayang sejak kecil.


Dia mulai serius belajar mendalang sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Selanjutnya, saat duduk di bangku kelas VI SD Bella sudah mulai berani pentas. Dalang perempuan remaja ini biasa mendalang di sejumlah sekolah.


Saat baru menginjakkan kaki di Unesa, dia juga didapuk untuk mendalang saat dies natalis kampus. “Ya rasanya senang. Bisa menghibur banyak orang,” kenangnya.


Sebagai pedalang, Bella memang harus mengikuti pakem yang berlaku. Karenanya, meski dalang perempuan dia juga harus duduk bersila selama memainkan wayang.


Dari beberapa babak atau pathet di wayang kulit yang dimainkannya, gadis yang Sabtu (10/3) lalu baru pentas di SMPN 1 Pace ini mengaku tidak banyak menemui kesulitan. Pun ketika dia harus duduk selama berjam-jam.


Hanya saja, Bella mengaku sangat kelelahan saat memeragakan adegan Perang Kembang. Di babak ini, gadis kelahiran 17 Maret 1999 itu tidak hanya dituntut piawai memainkan sabetan wayang. Tetapi, dialog dari beberapa karakter suara wayang juga sangat padat. “Selesai Perang Kembang pasti kelelahan,” kata gadis yang biasa berbicara menggunakan krama inggil ini.


Agar bisa pentas dalam kondisi prima, gadis yang sudah menghafal banyak cerita wayang itu mengaku rajin berolahraga. Dengan demikian, dia tetap bisa menyelesaikan pentas dalam waktu yang sangat lama itu.


Apakah Bella memang bercita-cita menjadi dalang? Ditanya demikian, Bella mengaku bercita-cita menjadi guru bahasa Jawa sesuai studinya sekarang. Mendalang baginya adalah hobi. “Selain memang suka, mendalang itu juga untuk melestarikan budaya Jawa,” urainya.


Dia pun berharap Pemkab Nganjuk memberi dukungan terhadap para dalang cilik di Nganjuk. Caranya, dengan memberi kesempatan yang sama kepada mereka untuk pentas secara bergilir. Sehingga, para dalang cilik bisa berkembang bersamaan. “Agar kesenian di Nganjuk semakin berkembang dan semua seniman mendapat kesempatan sama,” pintanya.


Editor : adi nugroho
#kesenian #wayang #nganjuk