Tak hanya kota besar saja yang punya Pecinan. Kota Kediri pun pernah memilikinya. Dulu, bahkan sangat tersohor. Penuh dengan pedagang keturunan Tionghoa. Sayang, dibanding dengan kota lain, pecinan di Kota Kediri semakin lama semakin meredup.
Ishak S. Dharma Putra, sangat ingat bagaimana suasana Pecinan waktu itu. Lelaki keturunan Tionghoa kelahiran 1926 ini memang besar di daerah Pecinan. Di wilayah yang mayoritas diisi warga keturunan.
Pemerintah kolonial Belanda memang suka menggolong-golongkan warga satu etnis dalam satu pemukiman. Etnis Tionghoa dijadikan satu di sekitar Jalan Kelenteng, sekarang Jalan Yos Sudarso. “Pecinan dulu yang di sekitar toko-toko tahu kuning itu,” kenang lelaki bernama Tionghoa Nyo Hong Siek ini.
Fotografer dan pengoleksi foto Kediri tempo dulu ini menyebut pusat Pecinan dulu di Sumurbor. Di daerah ujung Jalan Dhoho yang kini berdiri pos polisi itu. Wilayah Pecinan nyaris berbentuk kotak. Mulai dari Sumurbor, Kelenteng, ke utara sampai Jalan Brawijaya, lalu sampai perempatan Bank Indonesia atau persis di pangkal Jalan Dhoho sebagai batas timur.
“Jalan Dhoho itu baru. Dulu yang ramai ya Jalan Yos Sudarso,” terang pria putra Nyo Sioe Djin, pemilik perusahaan Jamu Parijata yang terkenal zaman dulu itu.
Dulunya Jalan Kelenteng terkenal dengan pedagang kain batik. Nenek Ishak pun berjualan kain batik di tempat itu. Bahkan, daerah Pecinan terkenal sebagai sentra batik.
Selain batik, warga Pecinan juga berdagang lainnya. Mulai emas, peralatan dari kuningan, dan penjual tahu. “Pokoknya rata-rata adalah pedagang,” terangnya.
Sebenarnya, di Jalan Patimura, atau sisi timur Sumurbor, juga banyak pedagang keturunan Tionghoa. Namun, tempat itu bukan dikenal sebagai Pecinan. Banyaknya warga Tionghoa di tempat itu karena wilayah Jalan Kelenteng dulu sering kebanjiran. Akhirnya mereka pun memilih pindah ke sisi timur.
Pria kelahiran Ponorogo ini masih ingat rumahnya terendam banjir pada 1954. Tingginya air saat itu mencapai 140 centimeter. Dia, ibu, dan anjingnya pun terpaksa tinggal di wuwung atap rumah. Kondisi itupun banyak didokumentasikannya dalam berbagai jepretan foto.
Menurut Ishak, lokasi Pecinan beberapa kali mengalami pergantian nama. Awalnya, daerah itu disebut dengan Pecinan saja.
Lalu berganti menjadi Jalan Kelenteng. Jalan Kelenteng pun berubah menjadi Jalan Sultan Agung. Hingga sekarang menjadi Jalan Yos Sudarso. “Sudah empat kali daerah Pecinan ganti nama,” sebutnya.
Achmad Zainal Fachris, sejarawan asli Kediri, juga menyebutkan bahwa daerah Pecinan di Kota Kediri sempat besar. Karena itulah dia menyebut sangat disayangkan bila wilayah bekas Pecinan itu kini terbengkalai. Karena bisa menjadi destinasi unggulan konsep kampung sejarah Pecinan seperti di kota-kota lain.
“Karena bangunan-bangunan tuanya masih kokoh hingga saat ini. Dan beberapa memiliki ciri khas atap rumah walet penanda rumah pecinan,” ungkap sejarawan lulusan Universitas Negeri Malang ini.
Dia menerangkan bahwa ada beberapa kelurahan yang mengidentikkan dengan Pecinan. Seperti beberapa kawasan pecinan di Kelurahan Pakelan dan Jagalan. Dua kelurahan tersebut dulunya pun juga merupakan Pecinan yang banyak dihuni oleh keturunan Tionghoa. “Cukup besar sebenarnya Pecinan di Kediri ini,” ujarnya. (bersambung)
Editor : adi nugroho