Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Awas! Semua Jalur Lahar Kelud Berbahaya

adi nugroho • Rabu, 21 Februari 2018 | 18:20 WIB
awas-semua-jalur-lahar-kelud-berbahaya
awas-semua-jalur-lahar-kelud-berbahaya



KEDIRI KABUPATEN – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan potensi bahaya penambangan pasir di jalur aliran lahar Gunung Kelud. Karena itu, para penambang diminta menghentikan aktivitasnya.


“Kalau tidak bisa berhenti, kami imbau untuk berhati-hati,” tegas Petugas Pengamat Gunung Kelud PVMBG Khoirul Huda.


Menurutnya, semua sungai yang menjadi buangan aliran material Gunung Kelud berbahaya meski letusan terakhir sudah terjadi sejak empat tahun lalu. Setelah erupsi 2014, Khoirul mengatakan, saat ini material Kelud memang masih tinggi. Karena itu, pihaknya masih melihat potensi bahaya yang tinggi. “Apalagi, material yang dibawa bermacam-macam,” terangnya.


Khoirul menyebut, lereng Kelud memiliki tujuh aliran sungai yang membawa material vulkanik. Mulai Kali Konto, Kali Puncu, Kali Dermo, Kali Lahar, Kali Petungkobong, Kali Bladak, Kali Putih, dan Kali Semut.


Untuk diketahui, kejadian tragis menimpa delapan penambang pasir di Kali Ngobo yang terletak di perbatasan Desa Sepawon, Kecamatan Plosoklaten, dan Desa Satak, Kecamatan Puncu (16/2) sekitar pukul 04.45. 


Empat di antaranya tewas, sementara empat lainnya luka-luka. Para penambang tersebut tewas setelah tertimpa longsoran tebing setinggi 100 meter. Kejadiannya, tidak lama setelah tiga truk yang mengangkut mereka parkir di bawah tebing. Kendaraan itu antre mengambil pasir.


Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri juga telah menegaskan larangan penambangan. Meski begitu, paguyuban penambang pasir meminta agar lokasi penambangan tetap dibuka meski titik areanya nanti dibatasi. Alasannya, penambangan pasir menjadi satu-satunya sumber pendapatan.


Khoirul menjelaskan, kejadian yang menimpa empat penambang pasir yang tewas karena tertimpa longsor bisa menjadi pelajaran berharga. “Tanah memang masih labil, tebingnya juga curam-curam,” paparnya.


Apalagi, berdasarkan pemantauannya, banyak penggali pasir yang nekat terus naik ke atas serta menggali tebing. Itu membuat tebing semakin tipis dan rentan longsor. Apalagi saat ini curah hujan sangat tinggi.


“Kalau puncak Kelud sudah hujan deras, masih bisa membawa aliran material ke bawah,” terang Khoirul. Aliran yang dibawa inilah yang disebut banjir lahar. “Masih berbahaya,” imbuhnya.


 

Editor : adi nugroho
#kelud