Bagi sebagian orang, truk terlanjur menyandang image negatif di jalanan. Muatannya yang melebihi tonase dapat menimbulkan kerusakan jalan. Lajunya yang kencang, membuat pengendara lain sering waswas. Apalagi, bila sopirnya ugal-ugalan. Lebih baik mengalah daripada dihantam moncongnya yang monyong itu.
Tapi, di balik ganasnya truk di jalan, ada kelucuan di salah satu bodinya. Apa lagi kalau bukan tulisan di bokongnya. Terkadang tulisan itu membuat kita tergelitik. Bahkan mungkin tersindir. Tak jarang kita mengiyakan tulisan bijak para sopir monster jalan itu.
Entah dari mana ide tulisan itu muncul. Sampai saat ini, saya akui belum pernah mewawancarai langsung sopir truk bagaimana mereka mendapatkan kata-kata yang menohok, centil, lucu, juga nakal itu. Apakah setiap kata-kata itu harus dirapatkan dulu dengan sesama sopir.
Atau mungkin para sopir melakukan survei lebih dulu di lapangan selama berbulan-bulan. Saya tidak tahu. Ini perlu ditelurusi secara mendalam. Yang jelas, tulisan di bokong truk adalah realitas kita. Sebagian kehidupan kita tersaji dalam tulisan-tulisan di bokong truk. Ada banyak filosofi hidup yang bisa dimaknai lebih dalam. Benar bukan? Makanya, jangan heran, setelah membacanya kita bisa tertawa gelak, sekadar tersenyum kecut atau barangkali tersentil.
“Ora perlu tenar, ora perlu sangar, sing penting rezeki lancar”, misalnya. Tulisan itu mengajarkan kita untuk hidup dalam kesedarhanaan. Setiap orang punya rezekinya masing-masing. Kita tidak perlu merebut hak orang lain, apalagi sampai memperkaya diri.
Tenar boleh, asal jangan mencari ketenaran dengan menginjak-injak martabat orang. Jadi orang sangar juga tidak dilarang, tetapi jangan sampai menakut-nakuti. Karena dalam kesederhanaan, manusia hanya berharap rezekinya halal dan lancar.
Di tengah situasi politik yang panas menjelang pilkada, tulisan itu sangat mengena. Bahwa kekuasaan itu hanya bersifat fana. Semua itu akan berakhir dalam periode tertentu. Maka ketenaran tidak perlu dibangga-banggakan. Karena pada prinsipnya, setiap orang punya hak yang sama.
Menurut saya, para calon bupati (cabup) sekali-kali perlu memahami kandungan filosofis tulisan di bokong truk. Meskipun sebenarnya tujuan awal dibuat tulisan itu untuk hiburan, tapi jika didalami, banyak pesan-pesan penting yang disampaikan.
Menjadi bupati cuma jabatan politik. Setelah lima tahun, mereka lengser lagi jadi rakyat biasa. Karenanya dalam tulisan yang lain, bupati itu seharusnya “utamakan bayar hutang”. Hanya itu tugasnya. Utang di sini bukan saja dalam bentuk uang, melainkan juga janji-janji politik
Yang namanya janji harus dipenuhi. Berarti levelnya sama dengan utang uang. Jika tidak dilunasi, maka rakyat akan menagihnya sewaktu-waktu. Kapan saja dan di mana saja. Ketika tidak mampu melunasi, maka kepercayaan si pemberi amanah akan luntur dengan sendirinya.
Kesederhanaan hidup lain yang diajarkan para sopir truk adalah “dijalani (nyambut gawene), ditampani (bayarane), disusuki (nek onok turahe)”. Lewat tulisan tersebut, hidup itu harus jujur. Jika ada kelebihan, maka kita harus mengembalikannya. Turahe (kelebihannya) jangan diembat sendiri.
Dalam hal ini, kita memang sering lalai. Selama ini kita menganggap kelebihan itu adalah rezeki kita. Padahal, bisa jadi, sebagian kelebihan itu milik orang lain. Tulisan itu bisa juga dipahami bahwa setiap ada kelebihan rezeki, kita wajib menyisihkannya untuk orang lain
Contoh kesederhanaan lainnya di bokong truk adalah “bahagia itu tak harus mewah, istighfar untuk masa lalu, bersyukur untuk hari ini, berdoa untuk hari esok”. Tulisan ini mungkin sudah sering disampaikan para penceramah atau motivator. Bahwa bahagia itu tidak melulu bicara soal kekayaan dan harta.
Karena ketika bermewah-mewahan, kita akan “stop karaoke timbang dadi kere”. Karaoke memang tidak membuat kita otomotis jadi miskin. Tapi ketimbang dibuat nyewa di karaoke, uangnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain yang lebih bermanfaat.
Dalam menjalani kehidupan rumah tangga, para sopir truk ini juga sering melontarkan kritik. Salah satunya adalah “dilarang mengangkut istri orang”. Ini pesan yang jelas buat orang yang suka berselingkuh. Dalam posisi yang berbeda, sekarang sedang ramai yang namanya pelakor (perebut lelaki orang).
Soal percintaan anak muda, sopir punya stok tulisan yang sangat melimpah. Misalnya, “putus cinta soal biasa, putus rem mati kita”. Jadi putus cinta bukan satu-satunya persoalan di dunia ini. Karena ketika putus rem, nyawa taruhannya. Namun di balik kata yang penuh filosofis, para sopir ini tidak sedikit yang narsis dengan mengatakan “ojo ngaku ayu yen durung duwe bojo sopir”. Jangan pernah mengaku cantik kalau belum punya suami seorang sopir. Benar-benar jemawa.
Dengan kekonyolan yang ditampilkan para sopir lewat tulisan di bokong truk, kita belajar bahwa membahagiakan orang bisa dengan cara yang sederhana. Tanpa perlu membuat pencitraan di sana-sini. Melalui humor, orang bisa tertawa bahagia. Syukur-syukur mendalami filosofinya.
Di akhir kata, saya ingin mengutip tulisan di bokong truk yang membuat saya geli sekaligus terpingkal-pingkal. Saya gubah sedikit menjadi ‘tulisan ini memang jelek, penulisnya juga jelek, yang baca malah tambah jelek”. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk)
Editor : adi nugroho