“Ibu…Ibu…setelah kain dikukus, kain tidak boleh dijemur langsung terkena sinar matahari nggih,” terang Yayuk Sri Rahayu, salah seorang pemilik usaha batik ecoprint yang berada di Desa Putren, Kecamatan Sukomoro. Sekitar 30 warga Desa Putren yang mengikuti pelatihan batik ecoprint kompak mengangguk. Kemudian, mengikuti petunjuk Yayuk. Mereka ini adalah peserta pelatihan batik ecoprint yang digelar Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Nganjuk.
Pelatihan serupa menurut Yayuk, begitu sapaannya, sudah dilakukan sejak tahun 2015. Karena sejak tahun tersebut, batik ecoprint mulai dilirik oleh banyak peminat. Bahkan omzet penjualan batik ecoprint karya Yayuk tidak main-main. Dalam sebulan, Yayuk mengaku bisa memperoleh uang Rp 25 juta. Angka tersebut diketahui bisa lebih banyak ketika ada pesanan dari biasanya.
Walaupun telah memiliki omzet yang luar biasa saat ini. Namun, itu tidak dilalui dengan mudah. Yayuk harus jatuh bangun. Apalagi, di tahun 2015, bati ecoprint sepi peminat.
Di tahun tersebut, Yayuk sebenarnya memberikan pelatihan kepada warga Desa Putren untuk membatik ecoprint. Sayang, tidak banyak warga setempat yang akhirnya mahir dalam membatik. Dari puluhan warga, hanya tersisa tiga orang saja. Salah satunya adalah ibu dari Yayuk bernama Lasti Rofiah.
Saat awal membatik, Lasti membatik tulis. Batik yang dibuat juga hanya dengan motif pada umumnya. Namun karena bosan, Lasti dibantu oleh Yayuk mencoba untuk membatik dengan motif yang masih belum umum. Yaitu batik ecoprint. “Awalnya hanya untuk pribadi. Jika sudah selesai, hanya disimpan di lemari,” ujarnya.
Namun seiring berjalannya waktu, kain batik yang berada di rumah Yayuk jadi berlimpah. Alhasil Yayuk mencoba menjual batik ecoprint. Betapa kaget Yayuk ketika mencoba menjual batik tersebut di sekitar tahun 2017-2018. Karena ternyata batik tersebut ramai peminat.
Berawal dari hal tersebut, Yayuk memproduksi batik ecoprint lebih banyak. Pemasarannya pun diperluas. Tidak hanya di Kabupaten Nganjuk. Namun juga sampai di Kota Surabaya. “Sering ikut pameran di luar kota untuk promosi jadi lebih banyak yang tahu,” tambahnya.
Saat mencoba pasar di luar kota, Yayuk mengaku kaget. Karena ternyata batik ecoprint sedang digemari banyak orang. Terutama, oleh orang yang tidak suka dengan pakaian yang menghasilkan limbah. “Karena batik ecoprint 100 persen menggunakan bahan alami,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Dinkop UM) Cuk Widiyanto mengapresiasi dengan adanya produsen batik di Desa Putren, Kecamatan Sukomoro. Karena itu, akhirnya Desa Putren dijadikan Sentra Batik Ecoprint.
Dia menilai, bisnis tersebut dapat membuka dampak positif tidak hanya bagi pemilik. Namun juga bagi warga sekitar. “Dapat membuka lowongan pekerjaan bagi banyak orang sekitar,” tambahnya.
Harapannya, Cuk mengatakan jika semoga bisnis batik ecoprint dapat lebih maju. Tidak hanya terkenal di Kabupaten Nganjuk tetapi juga luar kota bahkan internasional. “Semoga bisa membanggakan Kabupaten Nganjuk,” ujarnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah