Ketika Segmen Well-Literate Menggeliat 

Kurniawan Muhammad • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 08:15 WIB

 

By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Ada data yang menarik dari hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLK) 2026 yang dilakukan oleh BPS (Badan Pusat Statistik), OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan. Yakni: Tingkat literasi dan inklusi keuangan di Indonesia meningkat menjadi 69,57 persen. Angka ini naik 2,93 persen dari tahun 2025. Selain itu, inklusi keuangan dilaporkan mencapai 93,61 persen. Artinya, 7 dari 10 orang di Indonesia tidak hanya memiliki akses (seperti rekening bank atau e-wallet), tetapi mereka kini semakin paham cara kerjanya, risikonya, dan manfaatnya. 

Masih merujuk pada hasil survei yang melibatkan 75 ribu responden dari 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota ini, disebutkan bahwa kenaikan literasi keuangan juga terjadi di pedesaan, sebesar 4,55 persen. Ini adalah sinyal kuat, terjadinya pergeseran modal dan pemahaman, dari pusat kota ke daerah. Dengan kata lain, Masyarakat desa saat ini semakin cerdas dalam memutar uang, tidak sekadar menabung, tetapi berpotensi masuk ke sektor investasi dan kredit produktif. 

Fenomena lain yang terungkap dalam hasil survei tersebut, bahwa tingkat literasi laki-laki dan perempuan kini sudah berimbang. Dalam konteks ekonomi keluarga atau individu, perempuan bukan lagi sekadar “pengelola uang belanja”, tapi sudah mulai beralih menjadi “investor dan perencana keuangan” yang setara dengan laki-laki. 

Lantas, dari hasil survei tersebut, apa yang menarik dalam konteks marketing? Yang jelas, segmen masyarakat yang sudah melek dengan literasi dan inklusi keuangan ini tidak akan mempan diberikan gimmick-gimmick marketing murahan. Strategi marketing harus bergeser, dari sekadar “menjual mimpi” menjadi “menjual nilai dan transparansi”. 

Baca Juga: Marketing Piala Dunia 2026

Masyarakat yang sudah melek literasi keuangan atau well-literate akan alergi dengan bahasa marketing yang manipulatif atau terlalu bombastis. Misalnya: “Untung Pasti 100%” atau “Bunga 0%”, yang biasanya narasi-narasi seperti ini menyembunyikan syarat-syarat dan ketentuannya. Maka, strateginya, harus diubah, menggunakan pendekatan se-rasional mungkin. Misalnya, jika Anda menawarkan properti atau kendaraan, jangan hanya mengiklankan cicilannya yang murah. Tampilkan juga simulasi perhitungan detailnya, perlindungan asuransi yang didapat, dan nilai jual kembali (resale value). 

Kita bisa melihat contohnya, bagaimana Bibit menggaet segmen yang well-literate, yang melek literasi keuangan. Bibit adalah aplikasi teknologi finansial (fintech) reksa dana dan surat berharga di Indonesia yang didesain untuk membantu investor pemula untuk berinvestasi secara mudah, aman, dan otomatis sesuai profil risiko. Platform ini mentargetkan generasi muda dan profesional yang memahami pentingnya diversifikasi dan investasi jangka panjang. 

Dalam strategi marketingnya, Bibit menggunakan strategi berbasis edukasi. Mereka tidak menggunakan narasi “kaya mendadak” atau “pasti cuan”. Sebaliknya, mereka mempopulerkan Teori Portofolio Modern (Modern Portfolio Theory) dari Harry Markowitz. Teori ini digunakan sebagai kerangka kerja matematis untuk memilih kombinasi aset investasi, agar investor bisa mendapatkan hasil maksimal dengan tingkat risiko tertentu, atau risiko terendah, untuk target hasil tertentu. Oleh Bibit, teori ini diterapkan dan disederhanakan melalui fitur Robo-Advisor, yang sudah diijinkan oleh OJK.   

Bibit juga menggaet financial planner dan edukator keuangan terpercaya, seperti Felicia Putri Tjiasaka dan Raditya Dika, ketimbang selebriti papan atas yang tidak mempunyai latar belakang finansial. 

Strategi yang diterapkan Bibit ini cukup taktis. Mereka mengelompokkan segmen sasarannya berbasis tujuan (goal-based). Mereka mengubah promosinya dari sekadar “beli reksadana” menjadi “dana rumah pertama”, “dana pendidikan anak”, atau “dana darurat”. Dan model-model promosi seperti ini lah yang disukai segmen well-literate. Mereka menyukai pendekatan rasional yang disesuaikan dengan profil risiko mereka.

Baca Juga: Marketing Kelas Menengah

Walhasil, Bibit cukup sukses menggaet segmen well-literate (masyarakat yang paham produk keuangan dan terampil menggunakannya), terutama dari kalangan generasi muda. Hingga kini, aplikasi Bibit telah mencatatkan lebih dari 10 juta unduhan dengan jutaan investor aktif yang merencanakan belasan juta tujuan keuangan. Sekitar 70 persen pengguna Bibit merupakan anak muda yang sejalan dengan data OJK, bahwa 54 persen investor pasar modal dikuasai kelompok usia di bawah 30 tahun. 

Bibit juga sukses menjadi Mitra Distribusi penjualan SBN (Surat Berharga Negara) terbaik. Kontribusi Bibit mendorong kepemilikan SBN Ritel nasional naik signifikan hingga menembus 1,41 juta investor. 

Jadi, merujuk pada hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan, dapat dikatakan bahwa tahun 2026 ini menandai kedewasaan konsumen Indonesia. Pebisnis yang akan memenangkan pasar, adalah mereka yang berhenti meremehkan kecerdasan finansial konsumennya, dan mulai memposisikan diri sebagai “Mitra Pertumbuhan Kapita” yang transparan, logis, dan memberikan nilai tambah yang nyata. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
snlk OJK marketing marketing on wednesday