Lagi populer di TikTok lagu MBG: Mas Bahlil Ganteng. Sejumlah akun dari para konten creator yang menayangkan konten ini mendapatkan engagement tinggi. Ada yang mencapai 55,6 juta tayangan dan 4,2 juta like (suka). Ada juga yang mencapai 17,8 juta tayangan dan 1,1 juta suka. Saking populernya lagu ini, sampai mengundang respon yang punya nama: Bahlil Lahadalia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang juga Ketua Umum Partai Golkar itu disebut-sebut ingin bertemu dengan si pembuat lagu MBG tersebut.
Bagaimana fenomena viralnya MBG (Mas Bahlil Ganteng) jika dianalisis dalam konteks marketing dan marketing politik? Apakah fenomena ini akan menguntungkan nama Bahlil dan Golkar, atau malah sebaliknya?
Dalam dunia digital hari ini, politik itu tidak selalu bergerak melalui pidato, baliho, manifesto, atau konferensi pers. Terkadang, politik bergerak melalui potongan lagu jenaka, komentar warganet, meme, dan joget pendek. Contohnya ini: MBG (Mas Bahlil Ganteng).
Viralnya MBG, yang diplesetkan menjadi “Mas Bahlil Ganteng” adalah contoh menarik, bagaimana politik, hiburan, teknologi AI, budaya meme, dan marketing, bertemu dalam satu panggung bernama “media sosial”.
Tampak remeh, bahkan lucu. Tetapi justeru di sini lah kekuatannya. Dalam ekosistem digital, sesuatu yang lucu sering lebih cepat menyebar ketimbang sesuatu yang serius. Sesuatu yang ringan, lebih mudah menembus kelompok usia muda ketimbang narasi politik yang kaku. Dan sesuatu yang berulang-ulang didengar, meski awalnya bernada satire, bisa berubah menjadi memori kolektif.
Baca Juga: AI dan Marketing, Antara Peluang dan Tantangan
Dalam konsep marketing, viralnya MBG (Mas Bahlil Ganteng) ini dapat difahami sebagai gabungan dari beberapa hal. Pertama, “user-generated content”. Yaitu konten yang dibuat dan disebarkan oleh pengguna, bukan oleh brand atau institusi tertentu. Kedua, “meme marketing”. MBG bisa dikatakan sebagai pesan politik yang berubah menjadi simbol humor yang mudah direplikasi. Ketiga, “earned media”. Karena Bahlil dan Golkar mendapatkan eksposur gratis dari percakapan publik. Keempat, “viral loop”. Karena semakin banyak orang memakai audio, semakin sering algoritma mendorongnya, lalu semakin banyak pula orang yang ikut meniru. Kelima, “attention economy”. Karena nilai utama di media sosial itu bukan lagi sekadar benar atau salah, tetapi siapa yang paling sering muncul, paling banyak ditonton, paling banyak dikomentari, dan paling lama ditahan dalam layar pengguna.
Jonah Berger dalam “Contagious: Why Things Catch On” menjelaskan, bahwa sesuatu yang menjadi viral bukan semata-mata karena kualitas pesannya. Tetapi karena memiliki unsur pemicu sosial, yakni: mudah dibicarakan, membangkitkan emosi, terlihat publik, praktis untuk ditiru, dan memiliki cerita. Nah, MBG (Mas Bahlil Ganteng), memenuhi hampir semua unsur tersebut. Frasa-nya pendek. Nadanya mudah diingat. Liriknya lucu. Sosok yang disebut adalah pejabat penting. Ada unsur kejutan. Ada ironi. Ada ruang untuk parodi. Dan yang paling penting: siapa pun bisa ikut membuat versinya sendiri.
Ini lah yang membuat MBG cepat menyebar. Dia bukan hanya “konten tentang Bahlil”. Melainkan menjadi “format hiburan” yang bisa dipakai ulang. Dalam algoritma TikTok dan Reels, format lebih penting ketimbang pesan tunggal. Begitu sebuah audio berubah menjadi format, dia tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh si pembuat awal. Dia menjadi bahan mentah bagi kreativitas publik. Ada yang memakainya untuk joget. Ada yang menjadikannya lelucon. Ada yang membuat versi remix. Ada yang memakainya sebagai sindiran. Ada pula yang menikmatinya sebagai hiburan tanpa peduli konteks politiknya.
Bagi Bahlil, fenomena ini jelas memberi keuntungan komunikasi. MBG (Mas Bahlil Ganteng) membuat sosok Bahlil hadir dalam percakapan publik dengan cara yang lebih cair. Dia tidak tampil sebagai pejabat yang kaku, dan formal. Tetapi sebagai figur yang bisa dijadikan bahan candaan publik tanpa terlihat marah.
Respon Bahlil yang santai, bahkan ingin bertemu dengan si pembuat lagu MBG (Mas Bahlil Ganteng), memperkuat kesan bahwa dia cukup lentur menghadapi budaya digital. Dalam marketing politik, ini penting. Publik muda seringkali tidak menyukai politisi yang terlalu defensif. Mereka lebih mudah menerima figur yang bisa tertawa atas dirinya sendiri.
Baca Juga: Kopi Kenangan, IPO, dan Marketing
Bagi Golkar, menurut saya, efeknya juga menarik. Selama ini, Golkar sering dikesankan sebagai partai mapan, tua, kuat secara struktur, tetapi kurang lincah dalam percakapan anak muda (maaf ini adalah penilaian subyektif saya). Fenomena MBG (Mas Bahlil Ganteng) memberi Golkar peluang untuk masuk ke ruang digital, tanpa harus terlihat memaksakan diri. Golkar mendapatkan semacam “pintu samping” menuju percakapan generasi muda. Bukan melalui jargon ideologis, tetapi melalui humor politik.
Namun, maaf, harus saya sampaikan di sini, bahwa berbagai peluang tersebut bukannya bebas dari risiko. Bagi Bahlil, risiko utamanya adalah “over exposure tanpa substansi”. Terlalu sering muncul sebagai meme, bisa membuat figur politik dikenal, tetapi tidak selalu dipercaya. Orang bisa hafal lagunya. Tetapi belum tentu memahami prestasinya. Orang bisa tertawa melihat kontennya, tetapi tetap kritis terhadap kebijakannya. Dalam politik, popularitas adalah pintu masuk, bukan tujuan akhir. Selanjutnya, harus dikonversi menjadi reputasi, kredibilitas, dan kepercayaan.
Risiko kedua adalah “banalisasi politik”. Ketika isu publik yang serius kalah oleh konten lucu, maka politik berubah menjadi hiburan semata. Publik lebih ingat jingle daripada program. Lebih ingat “ganteng” daripada gagasan. Lebih ingat joget daripada kebijakan. Dan di titik ini lah, viralitas bisa menjadi pedang bermata dua. Dia bisa menaikkan awareness, tetapi bisa juga menurunkan kedalaman diskusi.
Dari aspek komunikasi politik, MBG (Mas Bahlil Ganteng) menunjukkan kuatnya fenomena “personalization of politics”. Yakni politik semakin bertumpu pada figur. Bukan hanya partai. Nama Bahlil lebih menonjol daripada institusi Golkar. Wajah dan persona lebih mudah viral daripada platform politik. Ini sejalan dengan trend global, bahwa pemilih sering mengenal tokoh lebih dahulu, baru kemudian mengaitkannya dengan partai. Dalam situasi seperti ini, partai politik harus memahami bahwa brand partai tidak lagi hanya dibangun lewat struktur organisasi. Tetapi juga lewat karakter publik para tokohnya.
Dalam perspektif Philip Kotler tentang marketing modern, brand tidak lagi sepenuhnya dimiliki oleh pemilik brand. Tapi brand hidup di benak dan percakapan konsumen. Dalam politik, hal yang sama juga berlaku, bahwa citra politisi tidak sepenuhnya dikendalikan oleh tim komunikasinya. Dia dinegosiasikan terus menerus oleh publik, media, influencer, pendukung, pengkritik, dan algoritma. Bahlil boleh tidak menciptakan MBG (Mas Bahlil Ganteng), Golkar boleh tidak merancangnya, tetapi begitu fenomena itu viral, keduanya harus mengelolanya.
Baca Juga: Problem-Solving Marketing ala BYD
Usul untuk Bahlil dan Golkar, strategi terbaik yang harus dijalankan menurut saya: jangan mematikan trend. Tetapi juga tidak mengeksploitasinya secara berlebihan. Yang diperlukan adalah “strategic embrace”, yaitu merangkul secukupnya, menjawab dengan humor, lalu pelan-pelan menghubungkannya dengan narasi kerja, gagasan, dan capaian.
Jika MBG (Mas Bahlil Ganteng) hanya berhenti sebagai lagu, dia akan menjadi gelombang sesaat. Tetapi jika dikelola dengan cerdas, dia bisa menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan sisi lain Bahlil, yakni sosok pekerja keras, komunikatif, dekat dengan anak muda, dan tidak alergi kritik.
Wal akhir, MBG (Mas Bahlil Ganteng) adalah potret zaman. Zaman ketika politik bisa dimulai dari komentar netizen. Zaman ketika AI bisa mengubah percakapan menjadi lagu. Zaman ketika satire bisa berubah menjadi promosi. Zaman ketika partai politik tidak hanya bertarung di parlemen, tetapi juga di FYP, Reels, Shorts, dan kolom komentar.
Dalam konteks viralnya MBG (Mas Bahlil Ganteng), Bahlil dan Golkar sedang mendapatkan hadiah sekaligus ujian. Hadiahnya adalah perhatian publik yang mahal. Ujiannya adalah bagaimana mengubah perhatian itu menjadi reputasi yang bermakna.
Sebab, dalam politik digital, yang paling sulit bukan menjadi viral. Yang paling sulit adalah tetap dipercaya setelah viralitas itu berlalu. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah