Event ini sesungguhnya adalah manifestasi dari strategi “experiential marketing”. Event ini kami gagas, dan kami laksanakan secara rutin setiap tahun sejak 2024, dan tahun ini (2026) adalah tahun ketiga. Saat tulisan ini dibuat, event tersebut sedang berlangsung. Event kami adalah: “Festival Kuno Kini”, yang berlangsung selama 10 hari, mulai 14 - 24 Mei 2026 di area Simpang Lima Gumul, Kabupaten Kediri.
Festival ini mengusung konsep filosofis yang memadukan unsur masa lalu (kuno) dan era masa kini dalam satu ruang, dalam lanskap ekonomi kreatif, pariwisata, dan penguatan sektor informal. Festival ini menghadirkan produk, seni dan narasi sejarah, dalam format yang relevan dengan selera modern.
Kami sangat menyadari, lanskap industri media telah berubah secara radikal. Media tidak lagi sekadar entitas yang memproduksi berita atau menyiarkan informasi lewat lembaran kertas dan layar digital. Media modern menurut saya, harus menjadi platform yang mampu menciptakan ekosistem dan membangun keterikatan emosional (engagement) yang mendalam dengan audiensnya.
Saya meyakini, bahwa aset terbesar sebuah media adalah kepercayaan dan kekuatan komunalnya. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana kah caranya mengkonversi kepercayaan yang abstrak itu menjadi sebuah “brand equity” yang hidup, bernyawa, dan berdampak langsung secara ekonomi? Ini lah alasannya, mengapa kami bikin “Festival Kuno Kini” melalui divisi event.
Mengapa “Festival Kuno Kini” kami sebut sebagai manifestasi dari strategi “experiential marketing”? Mengutip pakar marketing dunia, Bernd Schmitt dalam bukunya “Experiential Marketing”, strategi marketing yang sukses harus mampu menyentuh panca indera (sense), memicu emosi (feel), merangsang cara berpikir (think), mengajak bertindak (act) dan menghubungkan individu dengan komunitasnya (relate).
Baca Juga: Belajar dari J.Chicken
Sejak awal mendesain “Festival Kuno Kini”, kami tidak sekadar membuat deretan tenda bazar. Tapi kami merancang sebuah “customer journey” yang unik, yang berusaha memenuhi kelima aspek tadi (sense, feel, think, act dan relate) melalui tiga pilar konsep (3-in-1 Combo). Pertama, adanya bazar (ekonomi). Ini menjadi ruang transaksi dan penggerak ekonomi riil.
Kedua, adanya edukasi (think). Di “Festival Kuno Kini” ada ruang narasi sejarah, literasi budaya, dan transformasi digital bagi UMKM. Berbagai pelatihan untuk UMKM juga diadakan selama even berlangsung.
Ketiga, adanya hiburan (emosi). Selama even berlangsung, panggung utama secara terus menerus menampilkan berbagai atraksi dan hiburan, yang mewakili seni tradisional dan masa lalu (kuno) serta masa kini (modern).
Untuk lebih jelasnya bagaimana “Festival Kuno Kini” ini kami gelar, Anda bisa melihatnya di akun Instagram kami @radarkediri dan @radarkedirievent. Atau bisa juga Anda search di Google dengan keyword “Festival Kuno Kini”.
Dengan konsep event yang kami desain, dengan nama yang sederhana (kuno-kini, mencerminkan tabrakan ruang dan waktu yang harmonis), dan dengan memaksimalkan promosi melalui berbagai platform yang kami punya (media cetak, media online dan media sosial), selama tiga kali pelaksanaan Festival Kuno Kini semakin mendapatkan apresiasi yang meningkat signifikan dari masyarakat setiap tahunnya.
Sebagai informasi, ketika awal pertama diadakan pada 2024, jumlah peserta yang ikut adalah 210 stand. Setahun berikutnya (2025) meningkat menjadi 245 stand. Dan tahun ini (2026), pesertanya 348 stand. Mayoritas adalah UMKM. Lonjakan minat ini menciptakan tantangan baru, yaitu keterbatasan area pelaksanaan. Sehingga kami terpaksa menseleksi dan mengkurasi secara ketat peserta Festival Kuno Kini. Sehingga, terpaksa ada 140 peserta yang tahun ini tidak bisa bergabung di Festival Kuno Kini.
Sejak tahun lalu, selama 10 hari pelaksanaan Festival Kuno Kini, kami mencatat jumlah pengunjung yang masuk dari tiga gate, mulai pukul 16.30 - 22.00. Tahun lalu (2025), total jumlah pengunjung selama 10 hari pelaksanaan Festival Kuno Kini mencapai 253 ribu. Dari laporan semua stand yang ikut (terkumpul data 80 persen) Festival Kuno Kini 2025, selama 10 hari pelaksanaan, berhasil membukukan nilai transaksi rata-rata Rp 400 juta - Rp 545 per hari.
Pelaksanaan tahun ini (2026), hingga hari kelima (18 Mei 2026), total jumlah pengunjung mencapai 192 ribu. Dengan angka ini, dan dengan jumlah stand yang semakin bertambah, diperkirakan lebih banyak lagi jumlah pengunjung yang datang hingga akhir pelaksanaan (24 Mei 2026). Dan diperkirakan nilai transaksinya juga meningkat dibandingkan tahun lalu.
Bagi kami, “Festival Kuno Kini” adalah “living advertisement”. Philip Kotler, bapak marketing modern, dalam konsep “Marketing 5.0” menekankan pentingnya menciptakan teknologi dan strategi yang meniru interaksi manusia secara autentik. Ketika media konvensional mulai jenuh, maka event off-line berskala besar (Festival Kuno Kini) menjadi ruang, dimana brand media kami hadir secara fisik, menyapa, dan memeluk komunitasnya.
Melalui festival ini, kami memposisikan diri bukan lagi sebagai penonton atau pelapor berita. Melainkan kami ingin menjadi aktor penggerak ekonomi daerah dan pelestari budaya.
Kuno itu sejarah. Kini itu nyata. Dan masa depan, adalah milik mereka yang mampu mengkolaborasikan keduanya. Bagaimana menurut Anda? Monggo ke Festival Kuno Kini. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah