Teman saya ini punya sejumlah toko handphone di Kota Malang dan beberapa kota lainnya di Jawa Timur. Puluhan tahun dia menggeluti dunianya itu. Suatu ketika saya agak kaget, ketika baru-baru ini dia membuka outlet ayam goreng: J.Chicken. Agak kaget, karena dari bisnis handphone ke ayam goreng. Sekilas, rasanya kurang nyambung.
Usut punya usut, ternyata masih ada hubungannya dengan handphone. J.Chicken adalah salah satu anak usaha dari perusahaan yang punya brand smartphone: Oppo.
Lahirnya J.Chicken menarik diamati, bukan sekadar sebagai bisnis ayam goreng biasa. Ini adalah contoh, bagaimana perusahaan teknologi dan elektronik seperti Oppo mulai bergerak masuk ke bisnis gaya hidup (lifestyle business). Rupanya mereka meyakini, bahwa hari ini, perang bisnis bukan lagi sekadar soal produk, tetapi soal menguasai kehidupan sehari-hari konsumen.
Baca Juga: Strategi “Impulse Buying”
Dulu, perusahaan cukup menjual satu produk unggulan. Di era sekarang, perusahaan besar ingin membangun “ekosistem konsumsi”. Mereka ingin hadir dalam sebanyak mungkin titik kehidupan pelanggan. Mulai dari urusan komunikasi, hiburan, pembayaran, makanan, komunitas, hingga gaya hidup. Di Tiongkok, model seperti ini sudah lama dilakukan. Di negeri Tirai Bambu itu sudah biasa ditemui, perusahaan teknologi masuk ke bisnis kopi, restoran, otomotif hingga properti. J.Chicken adalah bagian dari cara berpikir seperti itu.
J.Chicken secara resmi masuk ke Indonesia sejak April 2024. Saat itu mereka membuka tiga gerai di Jakarta, yaitu di Pantai Indah Kapuk, Pecenongan dan Cempaka Putih. Saat ini, J.Chicken sudah melakukan ekspansi ke lebih dari 10 negara, di antaranya ke Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Asia Timur. Hingga saat ini, J.Chicken sudah memiliki 6.000 outlet secara global. Perusahaan ini dalam laporan yang mereka rilis mampu menjual 100 juta potong ayam goreng utuh krispi setiap tahunnya.
Dari smartphone ke Ayam Goreng, bagaimana hal ini dapat dijelaskan? Menurut saya, melalui J.Chicken, Oppo bukan sekadar menjual ayam. Tapi mereka sedang membangun distribusi, komunitas, data konsumen, engagement, dan frekuensi interaksi harian dengan pasar. Karena orang membeli handphone mungkin dua atau tiga tahun sekali. Tetapi orang membeli makanan bisa dua sampai tiga kali sehari. Ini lah logika besarnya.
Baca Juga: H&M dan Sindrom “Stuck in The Middle”
Dalam ilmu marketing modern ada istilah: “customer lifetime value”. Yaitu, perusahaan tidak lagi hanya menghitung untung dari satu transaksi, tetapi dari total nilai hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Kita tahu, bisnis smartphone sangat kompetitif dan marginnya makin tipis. Siklus upgrade-nya juga melambat. Maka, perusahaan teknologi mulai mencari bisnis dengan perputaran cepat, cashflow tinggi, engagement tinggi, dan konsumsi berulang. Nah, bisnis F&B memenuhi semua kriteria itu. Karena itu lah, langkah Oppo terjun ke dunia F&B dengan bikin J.Chicken sebenarnya adalah bentuk diversifikasi bisnis. Selain itu juga untuk perluasan ekosistem dan strategi membangun “recurring revenue”. Yaitu pendapatan yang datang secara berulang dan terus-menerus dalam periode tertentu, karena pelanggan melakukan pembelian atau pembayaran secara rutin.
Dalam konteks marketing, ini yang disebut sebagai “expansion from product company to lifestyle company”. Fenomena ini mirip dengan Xiaomi yang masuk ke bisnis smart home, Huawei yang masuk ke otomotif, dan Tencent yang masuk ke bisnis entertainment dan retail. Intinya, semua itu dilakukan agar perusahaan teknologi modern ingin berada sedekat mungkin dengan kehidupan manusia sehari-hari.
Dari berbagai publikasi yang saya baca, model bisnis J.Chicken dibangun di atas beberapa fondasi utama. Antara lain: value for money. J.Chicken bermain di kombinasi harga yang relatif murah, porsi besar, tampilan modern, dan experience ala brand global. Mereka sangat sadar, bahwa pasar Indonesia sangat sensitif terhadap harga, ukuran porsi dan suasana tempat makan. Karena itu mereka menjual “rasa global dengan harga terjangkau”. Strategi ini sangat kuat untuk kelas menengah dan Gen Z.
Di situs resminya, J.Chicken menekankan pembangunan “exclusive supply chain” dan standarisasi digital. Ini penting, karena dalam bisnis F&B modern, yang menang bukan sekadar yang enak, tetapi yang konsisten, cepat, scalable, dan efisien. Mereka rupanya belajar dari model McDonald’s, Mixue, dan Luckin Coffee. Kekuatan utamanya ada di logistik, bahan baku, SOP dan standarisasi rasa.
Baca Juga: Dua Lafayette
J.Chicken juga cukup cepat dan agresif dalam melakukan ekspansi. Sejak awal masuk di Indonesia pada 2024 mereka menargetkan puluhan outlet dalam waktu singkat. Hingga triwulan I 2026, jejak ekspansi J.Chicken terlihat makin luas di Jawa Timur, Bali, Palembang, dan Medan. Dan saat ini mereka sedang membidik kota-kota sekunder di Indonesia.
Pelajaran yang bisa diambil dari eksistensi J.Chicken di antaranya: dalam membangun bisnis, kita jangan hanya fokus berjualan. Tapi, yang tak kalah pentingnya adalah membangun sistem. Banyak UMKM gagal berkembang, karena semua tergantung owner, SOP tidak ada, dan kualitas yang berubah-ubah. J.Chicken menunjukkan pentingnya standarisasi, supply chain, dan sistem operasional.
Pelajaran lainnya: dalam berbisnis, harus berpikir ekosistem. Yaitu bagaimana membangun komunitas, bagaimana membuat pelanggan kembali, dan bagaimana menciptakan engagement harian. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Shinta Nurma Ababil