Tulisan saya pekan lalu menyinggung soal “attention economy”. Ini adalah sebuah kondisi, dimana “perhatian” menjadi sumber daya paling langka, sekaligus paling bernilai dalam aktivitas ekonomi. Bagaimana hal ini dapat dijelaskan?
Adalah Herbert A. Simon, ilmuwan multidisiplin yang juga penerima hadiah Nobel bidang ekonomi 1978, pada 55 tahun lalu menyatakan: “A wealth of information creates a poverty of attention”. Artinya: “ketika informasi melimpah, justeru perhatian manusia menjadi semakin langka”. Apa yang dikatakan Simon itu, ternyata terbukti saat ini. Ketika informasi melimpah, justeru menciptakan kelangkaan perhatian. Dalam konteks marketing, hal itu menemukan relevansi yang sangat nyata. Konsumen modern tidak lagi kekurangan informasi. Melainkan kelelahan, karena terlalu banyak pilihan. Kita terlalu banyak dibanjiri informasi dari berbagai sumber. Mulai dari media sosial, portal berita, video platform, podcast, iklan digital, hingga notifikasi aplikasi.
Karena manusia hanya punya 24 jam sehari, maka kemampuan untuk memperhatikan sesuatu menjadi terbatas. Ini lah yang kemudian menciptakan persaingan perhatian. Tantangan utama brand, bukan lagi sekadar “menyampaikan pesan”. Tetapi merebut, mempertahankan, dan mengkonversi perhatian.
Perusahaan teknologi dan media kemudian berlomba-lomba untuk menarik perhatian, memperhatikan perhatian, dan memonetisasi perhatian. Platform seperti Google, Meta Platforms, TikTok hingga YouTube, membangun model bisnis yang hampir seluruhnya berbasis pada perhatian pengguna. Jadi, mereka ini sebenarnya tidak menjual konten. Tetapi menjual waktu pengguna kepada pengiklan.
Begini cara kerjanya: Pertama, capture attention. Yaitu konten dibuat sedemikian rupa, agar menarik perhatian secepat mungkin. Misalnya melalui headline yang provokatif, thumbnail mencolok, video pendek, atau notifikasi.
Kedua, retain attention. Setelah perhatian didapat, sistem kemudian berusaha menahan perhatian selama mungkin. Misalnya melalui algoritma rekomendasi, infinite scroll, dan autoplay video. Ketiga, monetize attention. Perhatian yang terkumpul kemudian dijual kepada pengiklan. Misalnya iklan digital, sponsorship, maupun data pengguna. Dalam model ini, waktu yang dihabiskan pengguna = nilai ekonomi.
Fenomena “attention economy” tidak hanya bersifat teoritis. Tetapi sangat kongkret dalam praktik marketing sehari-hari. Sebagai contoh, dalam platform video pendek, brand hanya memiliki 1-3 detik untuk menghentikan scroll pengguna. Makanya muncul strategi “hook-based content”. Strategi ini menunjukkan bahwa perhatian adalah pintu masuk utama sebelum pesan marketing bekerja (saya sering memberikan contoh-contoh kongkret terkait strategi ini kepada para klien).
Contoh lain, ketika seseorang melihat sebuah produk di smartphone-nya tetapi tidak membeli, maka sistem seperti Google Ads atau Meta Ads akan menampilkan ulang produk tersebut di berbagai platform. Ini disebut “retargeting”, yang pada dasarnya adalah upaya untuk “menarik kembali perhatian yang hampir hilang”.
Begitu pula dengan para influencer dan content creator. Mereka ini menjadi pemain utama karena mampu membangun perhatian, menjaga kedekatan emosional dan menciptakan kepercayaan. Brand sekarang ini tidak lagi hanya beriklan, tetapi “meminjam perhatian” dari para influencer. Dalam konteks ini, perhatian bukan dibeli secara langsung, tetapi dipinjam melalui kepercayaan.
Jadi, di dunia digital saat ini, algoritma dirancang untuk melakukan tiga hal: menangkap perhatian (melalui konten yang relevan dan mencolok), menahan perhatian (melalui infinite scroll, autoplay, rekomendasi), dan memaksimalkan nilai perhatian (melalui iklan yang tertarget). Dalam konteks ini, perhatian tidak lagi sekadar perilaku psikologis. Tetapi telah menjadi aset ekonomi yang dapat diukur, dianalisis, dan diperdagangkan.
Wal akhir, fenomena “attention economy” bisa diringkas menjadi satu kalimat: “Di era digital saat ini, yang paling mahal bukan informasi. Tapi perhatian manusia”.
Dan dalam praktiknya, media (dipaksa harus) menjual perhatian. Brand membeli perhatian. Dan pemilik platform yang mengelola perhatian. Sedangkan para pengguna (user), tanpa sadar menjadi produknya. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah