Benarkah di tahun 2026 ini, semakin menggejala, bahwa AI (Artificial Intelligence) menjadi “operating system marketing”? Artinya, AI mengatur targeting, bikin copywriting, visual, hingga bidding iklan? AI bahkan sudah bisa membuat video ads otomatis. AI sudah bukan lagi alat, tapi sudah menjadi “mesin pengambil keputusan”?
Ada artikel dalam sebuah jurnal yang bisa menjawab sekaligus menjelaskan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Judulnya: “AI-Powered Marketing: What, Where and How?”. Artikel ini ditulis oleh Venkatesh Kumar, profesor marketing (salah satunya di Georgia State University, Amerika Serikat), yang juga dikenal sebagai salah satu top scholar dunia dalam bidang marketing science dan analytics.
Dalam artikelnya itu Kumar menjawab tiga pertanyaan fundamental terkait dengan AI dan marketing: Pertama, what. Yaitu: Apa itu AI-Powered Marketing? Kedua, Where. Yaitu: Dimana AI digunakan dalam marketing? Ketiga, how. Yaitu: Bagaimana AI diimplementasikan secara praktis?
Mari kita bahas satu per satu: Apa itu “AI-Powered Marketing?” Menurut Kumar, “AI-Powered Marketing” adalah pendekatan marketing yang menggunakan AI untuk menghasilkan insight pelanggan, mengotomatisasi keputusan, meningkatkan efisiensi operasional, dan menciptakan pengalaman personal. Dalam hal ini, AI punya kemampuan dalam mengintegrasikan data, analitik, dan keputusan untuk menjalankan aktivitas marketing secara cerdas.
Brand-brand yang sudah menerapkan “AI-Powered Marketing”, antara lain: Amazon. Sekitar 35 persen lebih penjualan Amazon berasal dari rekomendasi AI. Brand lain adalah Netflix. Yang menentukan film yang ditampilkan, yang membuat urutan konten, dan yang bikin thumbnail berbeda setiap user, semuanya dilakukan oleh AI.
Dimana AI digunakan dalam marketing? Kumar menjelaskan, bahwa AI digunakan di seluruh “marketing funnel”, mulai dari market research (memprediksi trend), segmentation and targeting (membagi customer secara detail dan menganalisis perilaku customer), product and pricing (bisa bikin perubahan harga sesuai demand), promoting and advertising (menentukan siapa yang melihat iklan), customer experience (chatbot dan personalization), hingga retention and loyalty (bisa tahu dan bisa mendeteksi siapa yang akan berhenti membeli).
Bagaimana AI diimplementasikan secara praktis? Merujuk pada artikel tersebut, AI Marketing diterapkan melalui tiga mekanisme utama. Pertama, “data collection and integration”. AI butuh data sebagai bahan bakar. Data yang diperlukan misalnya data pelanggan, data transaksi, dan data perilaku. Kedua, “machine learning and analytics”. Yaitu untuk memahami pola dan membuat prediksi. Ketiga, “action and automation”. Dalam hal ini AI yang mengeksekusi strategi dan mengoptimasi campaign.
Kumar dalam artikel tersebut juga menyebutkan berbagai tantangan AI Marketing. Di antaranya, terkait dengan data privacy, yang berpotensi terjadinya risiko pelanggaran data. AI juga berpotensi menimbulkan bias, dimana keputusannya bisa saja tidak objektif. Dan tantangan berikutnya adalah over-reliance (terlalu bergantung pada AI) dan skil gap (kurangnya SDM yang memahami AI).
Pertanyaan berikutnya, bagaimana kita harus bersikap? AI memang mampu membaca pola. Mampu memprediksi perilaku. Bahkan mampu mengeksekusi kampanye dengan presisi yang mungkin sulit ditandingi manusia. Tetapi yang harus diingat, bahwa AI itu tidak memiliki kesadaran. Tidak memiliki empati. Dan tidak bisa memahami makna dibalik setiap keputusan.
Di sini lah peran manusia menjadi semakin penting, bukan sebagai operator, tetapi sebagai penentu arah, penjaga nilai dan pencipta makna. Maka, pertanyaan mendasar yang perlu dikemukakan di sini, bukan lagi “seberapa canggih teknologi yang kita gunakan?”, melainkan “untuk apa teknologi itu kita gunakan?”. Apakah AI hanya kita jadikan alat untuk mengejar efisiensi dan keuntungan semata? Atau kita gunakan untuk menciptakan pengalaman yang lebih manusiawi, lebih relevan, dan lebih bermakna bagi pelanggan? Sebab, pada akhirnya, marketing itu bukan sekadar tentang menjual produk. Tetapi tentang membangun hubungan dan kepercayaan.
Di masa mendatang, mungkin hampir semua proses marketing akan bisa dijalankan oleh AI. Namun, satu hal yang tidak akan pernah tergantikan adalah kemampuan manusia untuk memberi arti. Dan justeru di era ketika semuanya serba otomatis, nilai kemanusiaan itulah yang akan menjadi pembeda paling kuat. Sebab, teknologi bisa membuat kita lebih cepat. Tetapi, hanya kebijaksanaan lah yang bisa memastikan kita tetap berada di arah yang benar. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah