Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kopi Kenangan, IPO, dan Marketing

Kurniawan Muhammad • Rabu, 11 Februari 2026 | 07:54 WIB
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Brand “Kopi Kenangan” sedang berancang-ancang untuk menempuh penawaran umum perdana saham atau IPO (Initial Public Offering) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bagaimana “Kopi Kenangan” menyiapkan diri? Mengapa sebuah brand harus “melantai” di BEI? Apa manfaat “melantai” di bursa saham dalam konteks marketing?

Dalam sebuah pemberitaan, CEO “Kopi Kenangan” Edward Tirtanata menjelaskan, bahwa persiapan menuju IPO sudah dilakukan dalam enam tahun terakhir. Berbagai instrumen sudah diterapkan, termasuk laporan keuangan yang sudah distandarkan dengan ketentuan IPO.

Sebagai sebuah brand, “Kopi Kenangan” memposisikan diri sebagai “new retail F&B”. Mereka bukan sekadar kedai kopi. Tapi, mesin distribusi minuman cepat (grab-and-go) yang ditopang teknologi. Yaitu melalui aplikasi, sehingga terhubung dengan data pelanggan, dan mampu membangun loyalitas konsumen-konsumennya.

Hingga akhir 2025, “Kopi Kenangan” sudah memiliki 1.324 outlet di 6 negara. Indonesia sebagai intinya, yaitu lebih dari 1.100 outlet. Pasar luar negeri terbesar ada di Malaysia.

Dari total seluruh outlet tersebut, “Kopi Kenangan” pada tahun 2025 membukukan pendapatan sebesar US$ 184 juta (sekitar Rp 2,9 triliun) dan laba bersih US$ 17 juta (Rp 268,6 miliar). Angka ini meningkat cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya (2024).

Pada 2024: pendapatan “Kopi Kenangan” antara US$119 juta - US$ 127 juta. Artinya, dari sisi pendapatan, pertumbuhan mencapai sekitar 45 persen yoy (year-over-year). Dengan kata lain, ini menunjukkan penjualan perusahaan naik signifikan.

Dari sisi laba, pada 2024 mencatat laba bersih sekitar US$ 5 juta - US$ 6 juta (sekitar Rp 80 miliar). Dibandingkan dengan tahun 2025, berarti laba bersih meningkat lebih dari 3 kali lipat. Sebuah pencapaian besar, terutama karena ini adalah tahun penuh pertama perusahaan mencatat profit di level grup.

Bagi investor IPO, kombinasi profit + jaringan gerai cukup besar + same-store sales growth (presentase pertumbuhan penjualan dari gerai-gerai yang sudah beroperasi minimal satu tahun) adalah bukti bahwa porto folio “Kopi Kenangan” itu bukan sekadar cerita ekspansi. Tapi, ada unit economics yang mulai matang.

Meski demikian, investor publik biasanya akan menguji, seberapa berkelanjutan profitnya di tahun-tahun berikutnya. Apakah profit muncul karena efisiensi yang sehat, atau karena penundaan biaya, misalnya menekan sementara biaya marketing.

Mengapa sebuah brand harus melantai di bursa saham? Dalam teori “Information asymmetry and Signaling” disebutkan bahwa perusahaan atau brand yang berani melakukan IPO dan membuka laporan keuangan, prospektus, dan tata kelola, berarti mereka sedang mengirim sinyal, bahwa bisnisnya cukup matang, berani diaudit atau diperiksa, dan siap diuji publik.

Alasan lain melakukan IPO, karena dengan cara tersebut, perusahaan bisa menghimpun dana ekuitas dari publik (institutional dan ritel), misalnya untuk melakukan ekspansi gerai atau pabrik logistik. Bisa untuk R&D (Research and Development) dan digital product. Bisa untuk mengakuisisi entitas lain. Atau bisa juga untuk memperkuat modal kerja.

Dalam konteks marketing, ketika sebuah brand melakukan IPO atau melantai di bursa saham, bukan hanya sekadar fundraising. Tapi brand tersebut melakukan “repositioning moment”. Sebelum IPO, “Kopi Kenangan” adalah brand populer, pemain yang agresif, atau Start-Up yang sukses. Setelah IPO, “Kopi Kenangan” berpotensi menjadi perusahaan publik dengan tata kelola terbuka. Menjadi entitas korporasi nasional atau regional. Atau menjadi brand dengan legitimasi finansial.

Bagi konsumen, ini dapat meningkatkan trust. Dalam marketing, trust adalah “mata uang” paling mahal. Bagi mitra bisnis, dapat meningkatkan kredibilitas. Dan bagi investor, ini membuka peluang pertumbuhan.

Investor pada sebuah brand yang melantai di bursa saham, secara otomatis akan menjadi “brand ambassador” baru bagi brand itu. Secara psikologis, orang cenderung mempromosikan brand yang mereka memiliki sahamnya. Ini menciptakan komunitas yang punya kepentingan emosional dan finansial terhadap brand.

Sejatinya, melantai di bursa saham, bukan lah puncak dari sebuah perjalanan. Ia adalah pintu masuk ke babak yang lebih kompleks. Tak sedikit brand yang gagal setelah melantai di bursa saham, bukan karena tidak tumbuh. Tetapi karena tidak mampu menjaga konsistensi setelah menjadi perusahaan publik.

Pada bursa saham, di satu sisi, pasar modal memberi akses modal. Tapi pada sisi lain, juga menuntut kedewasaan manajerial dan komunikasi strategis yang rapi. Jika rencana IPO “Kopi Kenangan” ini terlaksana, maka mereka akan bertransformasi dari brand yang tumbuh cepat menjadi institusi yang dinilai setiap hari oleh pasar. Dan mungkin di sini lah keindahannya sekaligus tantangannya.(kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#bursa efek #strategi marketing #Kopi Kenangan #brand