Pada 10 Desember 2025, sejumlah media bisnis di Indonesia melaporkan sebuah perkembangan penting di dunia digital marketing: brand-brand besar mulai memindahkan anggaran marketing dari influencer tradisional ke platform Wefluence, sebuah marketplace yang menjembatani ribuan kreator UGC (User-Generated Content). Ini dianggap sebagai “kudeta pasar” dalam strategi influencer marketing, dimana brand tidak lagi hanya mengandalkan influencer dengan jutaan follower. Tapi mereka menggunakan ribuan kreator biasa, melalui Wefluence, untuk menyebarkan konten. Pembayaran dilakukan berdasarkan performa nyata, misalnya per 1.000 views. Jadi bukan hanya angka follower besar.
Menjelang akhir 2025, media juga melaporkan munculnya profesi baru bernama clipper. Ini adalah individu yang bertugas mengubah konten panjang menjadi puluhan video pendek yang terdistribusi secara luas ke platform seperti TikTok, Reels, dan Shorts melalui Wefluence. Fenomena ini menunjukkan bahwa Wefluence bukan sekadar platform penghubung brand-kreator, tetapi telah menciptakan ekosistem baru dengan model kerja dan peluang pendapatan baru. Dalam hal ini, kreator bisa ikut serta tanpa followers besar, clipper mengembangkan kemampuan editing & storytelling, dan brand memperoleh cakupan konten lebih banyak dengan biaya lebih efisien.
Wefluence adalah istilah yang menggabungkan kata “we” dan “influence”. Berbeda dari influencer tradisional yang menekankan pengaruh individu, wefluence menyoroti kekuatan pengaruh kolektif suatu komunitas, kelompok, atau massa pengguna di ruang digital.
Dengan kata lain, Wefluence adalah fenomena ketika kelompok atau komunitas online memiliki pengaruh yang sama besar atau bahkan lebih besar ketimbang individu terkenal. Pengaruh ini muncul di antaranya dari suara bersama (collective voice), trend yang dibentuk oleh banyak orang, perilaku pengguna yang bergerak secara serempak, dan interaksi sosial yang memperkuat popularitas konten.
Setidaknya ada empat ciri utama fenomena Wefluence: Pertama, “collective trend-setting”. Kali ini, trend tidak lagi ditentukan oleh satu influencer, tapi oleh banyak pengguna biasa sekaligus. Misalnya trend TikTok yang viral karena jutaan orang ikut membuat konten serupa.
Kedua, “authenticity over celebrity”. Dalam hal ini, pengguna lebih percaya opini komunitas (review massal, komentar publik, rating) daripada satu figur terkenal. Ketiga, “power of micro-communities”. Komunitas kecil seperti fandom, group chat, niche audience, dan komunitas hobi mampu menciptakan gelombang pengaruh yang kuat.
Dan keempat, “social proof masal”. Produk atau konten dianggap baik, bukan karena satu orang merekomendasikan, tetapi karena ramai dibicarakan, dibagikan, atau diaplikasikan oleh banyak orang.
Mengapa fenomena Wefluence semakin kuat? Karena algoritma platform yang mempromosikan konten berdasarkan engagement. Bukan berdasarkan popularitas pembuatnya. Selain itu, adanya budaya partisipatif. Orang cenderung senang mengikuti trend dan merasa menjadi “bagian dari sesuatu”.
Ada buku menarik yang bisa dikaitkan dengan fenomena Wefluence yang berjudul “We Are Smarter Than Me; How to Unleash the Power of Crowds in Your Business” yang ditulis Barry Libert dan Jon Spector. Buku tersebut membahas bagaimana perusahaan dapat memanfaatkan kekuatan kolektif (the crowd) untuk menciptakan nilai baru melalui kolaborasi terbuka (crowdsourcing, komunitas online, dan model berbasis partisipasi).
Fokus utamanya adalah bahwa kecerdasan kolektif (“we”) lebih kuat daripada keputusan individu (“me”). Dan bisnis modern harus beralih dari model hierarkhi ke model partisipatif.
Buku tersebut memberikan sejumlah contoh kongkret dari bisnis yang sukses menggunakan model “we”. Di antaranya Wikipedia, yang dibuat oleh ribuan kontributor. Contoh lain: Linux, yang merupakan sistem operasi open-source berbasis komunitas. Dan satu lagi: Threadless, yaitu marketplace desain kaus yang dibuat oleh komunitas.
Apa kaitannya antara buku “We Are Smarter Than Me” dengan fenomena Wefluence? Fenomena Wefluence mengacu pada pengaruh kolektif komunitas dalam membentuk opini, tren, keputusan, atau nilai. Bukan bergantung pada satu figur individu. Sedangkan buku “We Are Smarter Than Me” membahas prinsip yang sangat sejalan dengan konsep Wefluence.
Buku “We Are Smarter Than Me” menekankan bahwa kekuatan kolektif (we) lebih besar daripada kecerdasan atau pengaruh individu (me). Ini sangat konsisten dengan Wefluence, yang menggambarkan bagaimana komunitas, massa pengguna, dan kelompok online memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada satu influencer.
Jadi, diakui atau tidak, Wefluence telah menjadi trend utama marketing, karena brand sadar bahwa kekuatan kolektif komunitas lebih efektif dalam membangun kepercayaan, viralitas, dan konversi, dibanding influencer individu. Brand paling sukses saat ini adalah brand yang tidak hanya “mengiklankan produk”, tetapi memicu partisipasi komunitas. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah