Sudah agak lama saya tidak naik Taksi Blue Bird. Tepatnya sejak maraknya taksi online. Apakah Taksi Blue Bird terpengaruh dengan maraknya taksi online? Jelas. Tapi, bukan berarti mereka jatuh, apalagi terpuruk. Sebaliknya, Taksi Blue Bird termasuk entitas bisnis yang sukses beradaptasi dengan derasnya arus digitalisasi.
Taksi Blue Bird menjadi contoh menarik tentang bagaimana perusahaan konvensional mampu bertahan, bertransformasi, dan tetap relevan di era digital. Tak hanya bertahan, Blue Bird bahkan mampu bertumbuh. Laporan keuangan terbaru menunjukkan Blue Bird Group (PT Blue Bird Tbk) mencatat pendapatan dan laba bersih yang tumbuh hingga kuartal III 2025, dengan pendapatan sekitar Rp 4,12 triliun dan laba bersih naik lebih dari 10 persen.
Keberhasilan Blue Bird tidak hanya terletak pada adopsi teknologi. Tetapi juga pada budaya perusahaan dan strategi marketing yang adaptif, yang sejalan dengan berbagai teori marketing modern.
Sebagai sesama perusahaan konvensional (perusahaan yang saya pimpin adalah media cetak), saya mengadopsi ikhtiyar dan strategi yang dilakukan oleh Blue Bird.
Media cetak dan Taksi Blue Bird, sama-sama terdampak oleh disrupsi digitalisasi. Menurut Clayton M. Christensen dalam Teori Disruptive Innovation, disrupsi terjadi ketika inovasi baru menawarkan solusi yang lebih murah, mudah dan berbasis teknologi, sehingga menggeser pemain lama yang mapan. Taksi online memenuhi karakteristik ini: tarif mereka fleksibel, pemesanan berbasis aplikasi, dan kemudahan akses.
Banyak perusahaan taksi konvensional gagal merespon disrupsi karena terjebak pada model lama (incumbent’s trap). Blue Bird menghadapi tantangan serupa: tarif mereka dianggap lebih mahal, citra yang konvensional, dan keterbatasan teknologi dibandingkan aplikasi ride-hailing. Dan Blue Bird lebih memilih strategi adaptasi dan koloborasi.
Salah satu kunci utama keberhasilan Blue Bird adalah budaya korporasi yang kuat dan konsisten. Sejak awal berdiri, Blue Bird mengusung nilai inti: kejujuran, disiplin, pelayanan dan keselamatan. Budaya ini tercermin dalam slogan “Andal” yang tidak hanya menjadi jargon, tetapi diterjemahkan dalam standar operasional yang ketat.
Saya pernah mengalami tas berisi handphone dan dompet tertinggal di Taksi Blue Bird yang waktu itu saya naiki. Begitu saya lapor ke operator Taksi Blue Bird, langsung ditindaklanjuti. Tak berapa lama saya dihubungi sopir taksi tersebut, dan tas dikembalikan. Semuanya utuh, tidak ada yang hilang. Ini salah satu contoh bagaimana budaya organisasi diterapkan di Taksi Blue Bird.
Dalam perspektif Edgar H. Schein (salah satu tokoh paling berpengaruh dalam bidang perilaku organisasi, psikologi organisasi dan studi budaya organisasi), budaya organisasi terdiri dari nilai, norma dan asumsi dasar yang mempengaruhi perilaku anggota organisasi. Blue Bird berhasil menjadikan budaya pelayanan sebagai “competitive advantage” yang sulit ditiru, terutama dalam aspek keamanan, kenyamanan dan kepercayaan pelanggan, hal yang sering menjadi kelemahan taksi online. Budaya perusahaan ini juga selaras dengan konsep “relationship marketing”, dimana membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan lebih penting daripada sekadar transaksi jangka pendek.
Di satu sisi, sebagai brand Blue Bird punya “competitive advantage” yang sulit ditiru. Pada sisi lain, mereka juga adaptif dengan digitalisasi yang sedang terjadi. Mereka mengintegrasikan teknologi ke dalam mode bisnisnya. Yakni dengan meluncurkan aplikasi MyBlueBird. Aplikasi ini memungkinkan pemesanan taksi secara digital, transparansi tarif, dan pelacakan armada, sehingga menjawab ekspektasi konsumen modern.
Blue Bird juga menjalin kolaborasi strategis dengan Gojek dan Grab. Ini adalah langkah yang mencerminkan strategi “co-opetition”. Strategi ini dikenalkan dan dikembangkan oleh Adam M. Brandenburger dan Barry J. Nalebuff melalui buku mereka “Co-opetiton”. Konsep ini menjelaskan bahwa perusahaan atau organisasi tidak selalu berada dalam hubungan “kompetisi” atau “kerjasama”. Tetapi seringkali “kompetisi” dan “kerjasama” sekaligus. Artinya, ketika Blue Bird menggandeng Gojek dan Grab, berarti Blue Bird mengajak bersaing sekaligus berkolaborasi dengan kompetitor untuk menciptakan nilai bersama. Ini lah kejeniusan Blue Bird.
Mereka juga menerapkan “market orientation”, sebuah konsep yang diperkenalkan Ajay K. Kohli dan Bernard J. Jaworski, dimana konsep ini paling berpengaruh dalam literatur marketing modern, khususnya dalam memahami bagaimana organisasi benar-benar berorientasi pada pasar, melalui perilaku dan proses, bukan sekadar budaya atau slogan. Dan yang dilakukan Blue Bird, mereka berfokus pada pemahaman kebutuhan pelanggan, dan merespon perubahan pasar secara proaktif.
Wal akhir, keberhasilan Blue Bird menunjukkan bahwa, dalam era digital, keunggulan kompetitif tidak hanya ditentukan oleh teknologi. Tetapi juga oleh kepercayaan, budaya, dan strategi marketing berbasis nilai. Hal ini sejalan dengan pandangan Kotler tentang Marketing 3.0 dan 4.0, dimana perusahaan tidak hanya menjual produk, tetapi juga nilai, makna dan pengalaman yang relevan dengan konsumen.
Blue Bird juga membuktikan bahwa perusahaan konvensional dapat bertahan jika mampu melakukan setidaknya tiga hal: Mengadopsi teknologi tanpa kehilangan identitas, menjaga budaya perusahaan sebagai fondasi strategi, dan mengutamakan hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Bagaimana menurut Anda?
(kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)