Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mobil Hybrid, Mengapa (Semakin) Disukai?

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 26 November 2025 | 14:27 WIB
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

 

Tahun ini giliran Toyota Veloz melaunching produk Hybrid-nya untuk pasar Indonesia. Acara launching tersebut dipusatkan di ajang GAIKINDO Jakarta Auto Week (GJAW) yang pelaksanaannya dimulai sejak Jumat pekan lalu (21/11/2025). Yang menarik, pada kesempatan itu Toyota menawarkan harga spesial, yakni Rp 299 juta on the road hingga Desember 2025 untuk varian Toyota Veloz Hybrid tipe V. 

Seberapa seksi pasar mobil hybrid di Indonesia hingga Toyota kembali melaunching produk mobil hybridnya? 

Mari kita lihat data: Pada 2024, wholesales penjualan mobil hybrid (HEV) di Indonesia mencapai 56.812 unit. Angka ini naik sekitar 4,86 persen dibanding 2023 (data GAIKINDO). Tahun 2025, selama semester I, penjualan HEV di Indonesia mencapai 28.817 unit, dengan Toyota sebagai pemimpin pasar (16.081 unit). 

Di sepanjang 2024, model mobil hybrid (HEV) yang paling laris adalah Toyota Kijang Innova Zenix, dengan total penjualan mencapai 26.470 unit. Mobil hybrid lainnya di luar merek Toyota yang juga cukup signifikan angka penjualannya di tahun 2024 adalah Suzuki XL 7 Hybrid (sekitar 10.129 unit) dan Suzuki Ertiga Hybrid (sekitar 3.838 unit).  

Bisa jadi karena terusik oleh Suzuki, maka Toyota merasa perlu bikin satu varian lagi mobil hybrid untuk “menghadang” laju Suzuki Ertiga Hybrid. Dan secara kelas, Veloz Hybrid memang setara dengan Ertiga Hybrid. 

Dari data di atas dapat dilihat bahwa penjualan mobil Hybrid (HEV) di Indonesia bertumbuh sejak 2023. Bagaimana hal ini dapat dijelaskan? Setidaknya ada dua hal pemicunya. Pertama, secara analisa bisnis, peningkatan minat pada hybrid disebabkan karena lebih hemat bahan bakar, lebih ramah lingkungan dan tidak memerlukan stasiun pengisian eksternal, karena sistem kelistrikan mobil hybrid adalah self-charging. Kedua, pemerintah memberikan PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah) sebesar 3 persen untuk mobil hybrid lokal. Insentif PPnBM ini lah yang mendorong pertumbuhan penjualan HEV di Indonesia. 

Dalam konteks marketing, maraknya mobil hybrid di Indonesia dalam 2-3 tahun terakhir dapat dijelaskan melalui beberapa kaidah marketing modern. Terutama yang berkaitan dengan perubahan perilaku konsumen, value creation, dan market adoption. 

Sebuah buku berjudul “Diffusion of Innovation Theory” yang ditulis Everett Rogers (professor ahli komunikasi dari Amerika Serikat) menjelaskan, bahwa “Diffusion of Innovation Theory” adalah konsep yang menjelaskan bagaimana, mengapa, dan seberapa cepat sebuah inovasi diterima oleh masyarakat. 

Rogers membagi konsumen menjadi lima kelompok berdasarkan kecepatan menerima inovasi. Pertama, kelompok “innovators”. Mereka ini paling awal mencoba hal baru. Berani mengambil risiko, suka dengan teknologi canggih, dan biasanya punya resource yang besar. 

Kedua, “early adopters”. Mereka ini biasanya para opinion leaders (pemberi pengaruh). Mengadopsi inovasi sebelum mayoritas. Dan keputusannya dilihat oleh masyarakat. Ketiga, “early majority”. Mereka ini cukup rasional dan berhati-hati. Mereka hanya akan membeli setelah inovasi terbukti berhasil. Keempat, “late majority”. Mereka ini umumnya skeptis dan hanya menerima inovasi setelah menjadi standar umum. Dan kelima, “laggards”. Mereka paling lambat mengadopsi inovasi. Biasanya tidak percaya atau tidak mampu mengadopsinya. Mereka ini cenderung memilih opsi tradisional. 

Kaitannya dengan fenomena mobil hybrid di Indonesia, di periode awal (2019-2022) konsumennya masih berada di tahap “early adopters”. Saat itu, peminat hybrid masih terbatas. 

Mulai 2023 – 2025, konsumen hybrid berpindah ke tahap “early majority”. Yaitu ketika harga semakin terjangkau, awareness meningkat, dan “perceived risk” menurun karena banyak konsumen yang sudah mencoba. Konsumen kini merasa nyaman, percaya dan siap membeli hybrid. Dan ini pertanda adanya akselerasi pasar. 

Sebagai sebuah inovasi, apa saja faktor yang mempengaruhi cepat-lambatnya konsep mobil hybrid ini diterima pasar? Rogers menyebutkan dan menjelaskan, setidaknya ada empat atribut inovasi yang menentukan cepat-lambatnya sebuah inovasi diterima: Pertama, “relative advantage”. Yaitu seberapa besar sebuah inovasi dirasa lebih baik dibandingkan solusi lama. Kaitannya dengan mobil hybrid mengapa inovasi hybrid ini semakin disukai, karena mobil jenis ini selain irit, halus, juga eco-friendly. 

Kedua, “compatibility”. Ini adalah kesesuaian dengan nilai, kebutuhan, dan pengalaman konsumen. Mobil hybrid dianggap kompatibel karena tetap menggunakan BBM. Tidak perlu charging. Dan kelebihan ini lah yang dianggap cocok dengan kebiasaan masyarakat Indonesia. 

Ketiga, complexity. Seberapa sulit sebuah inovasi dapat dipahami atau digunakan. Sebagai sebuah inovasi, mobil hybrid relatif tidak rumit. Karena dapat dikendarai seperti mobil biasa.  

Keempat, Trialability. Yaitu kemudahan mencoba inovasi sebelum membeli. Hampir semua produk mobil hybrid menyediakan fasilitas test drive kepada para calon customernya. Dan ini dapat meningkatkan adopsi terhadap inovasi. 

Pelajaran apa yang dapat diambil dari fenomena mobil hybrid yang semakin disukai? Perusahaan harus memahami, bahwa value bagi konsumen terhadap sebuah produk saat ini semakin luas. Bukan hanya performa saja yang dinilai, tapi juga efisiensi, keberlanjutan dan teknologi. Selain itu, isu lingkungan bukan sekadar kampanye. Tapi semakin menjadi faktor yang menentukan keputusan pembelian. Sehingga, dalam bisnis, perlu memasukkan aspek lingkungan (eco-friendly) sebagai bagian dari strategi inti. Bukan sekadar gimmick marketing. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#Toyota Veloz #strategi marketing #mobil #mobil hybird