Seorang marketer itu menurut saya harus mempelajari komunikasi nonverbal. Hal ini saya tekankan juga kepada tim marketing saya. Saya sering tepat dalam mem-profiling calon klien dan sukses ketika bernegosiasi, salah satunya karena menggunakan kaidah-kaidah dalam komunikasi nonverbal.
Komunikasi nonverbal menurut David Matsumoto (professor psikologi dari San Francisco State University yang juga pakar perilaku nonverbal) adalah: proses mengirim dan menerima pesan tanpa menggunakan kata-kata. Dengan kata lain, komunikasi nonverbal adalah seni menyampaikan makna melalui tindakan dan perilaku. Ini mencakup berbagai isyarat dan sinyal yang digunakan secara tidak sadar atau sadar untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan niat.
Mengapa komunikasi nonverbal penting? Karena memainkan peran penting dalam interaksi antar pribadi, mempengaruhi bagaimana pesan dipersepsikan, dipahami, dan diingat. Ini adalah alat yang ampuh untuk menyampaikan makna dan meningkatkan efektivitas komunikasi secara keseluruhan.
Selain itu, komunikasi nonverbal merupakan cara yang ampuh untuk menyampaikan pesan dan menjalin hubungan dengan orang lain. Faktanya, penelitian oleh Albert Mehrabian menyimpulkan bahwa hingga 93 persen komunikasi itu bersifat nonverbal. Artinya, cara berkomunikasi dengan bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan nada suara, seringkali lebih jitu daripada kata-kata yang digunakan.
Mehrabian, Profesor Emeritus Psikologi dari University of California, Los Angeles (UVLA) dikenal luas karena penelitiannya di bidang komunikasi nonverbal dan teorinya tentang pentingnya elemen verbal dan nonverbal dalam komunikasi, yang sering dikenal sebagai “Hukum 7-38-55”. Artinya, dalam berkomunikasi, terutama ketika menyampaikan perasaan dan sikap, terdapat tiga komponen utama yang menentukan, yaitu: verbal (7 persen), adalah kata-kata yang diucapkan; vocal (38 persen), adalah intonasi suara dan nada bicara; dan nonverbal (55 persen), adalah bahasa tubuh, gerakan lengan, ekspresi wajah, dan kontak mata.
Dalam buku berjudul “Nonverbal Communication in Human Interaction” yang ditulis oleh Mark L. Knapp dkk, diberikan dasar teoritis dan empiris yang komprehensif tentang semua aspek komunikasi nonverbal, yaitu: kinesik, proksemik, dan paralinguistic. Ini dapat langsung diterapkan dalam konteks marketing, terkait dengan persuasi dan persepsi brand (merek).
Kinesik mengacu pada gerakan tubuh dan ekspresi wajah sebagai bentuk komunikasi nonverbal. Ini mencakup gerak tubuh, postur, ekspresi wajah, dan gerakan mata. Gerakan tubuh dapat menyampaikan berbagai makna. Seperti mengangguk untuk menunjukkan persetujuan, menyilangkan tangan untuk menandakan sikap defensive, atau mencondongkan tubuh ke depan untuk menunjukkan minat. Ekspresi wajah, seperti memutar mata, atau mengangkat alis karena terkejut, memiliki kekuatan untuk menyampaikan berbagai macam emosi, sikap dan niat.
Proksemik mengacu pada pemeriksaan tentang bagaimana orang memanfaatkan dan menafsirkan ruang dalam konteks komunikasi. Proksemik melibatkan konsep “ruang pribadi” dan jarak fisik. Antropolog terkenal, Edward Twitchell mengkategorikan proksemik menjadi empat zona berbeda: Pertama, intimate distance (jarak dekat). Jaraknya kurang dari 1 inchi. Pola ini biasanya digunakan interaksi dekat dengan orang yang dicintai. Kedua, personal distance (jarak pribadi), yaitu interaksi dengan teman dan kenalan. Jaraknya antara 1,5 – 2,5 feet. Ketiga, social distance. Yaitu interaksi formal atau professional. Jaraknya antara 4 -7 feet. Dan keempat, public distance (interaksi dalam public). Jaraknya antara 12-25 feet. Jadi, ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, seberapa dekat jarak antara kita dengan orang lain itu menentukan seberapa dekat atau seberapa kita ini dianggap penting oleh orang lain.
Paralinguistik mengacu pada komunikasi vocal yang terpisah dari bahasa sebenarnya. Bentuk komunikasi nonverbal ini mencakup faktor-faktor seperti nada suara, kenyaringan, infeksi, volume, dan kecepatan bicara. Aspek-aspek ini dapat menyampaikan makna tambahan di luar kata-kata yang sebenarnya diucapkan. Misalnya, nada yang lembut dan menenangkan dapat menunjukkan kenyamanan atau empati. Sedangkan nada yang keras dan agresif dapat menandakan kemarahan atau dominasi.
Nah, mempelajari komunikasi nonverbal dalam marketing, memberikan manfaat strategi pada beberapa level. Pertama, membangun kepercayaan dan kredibilitas. Konsumen tidak hanya membeli produk. Tetapi juga membeli “perasaan percaya”. Komunikasi nonverbal adalah bahasa utama untuk menyampaikan kepercayaan.
Kedua, menyampaikan nilai emosional dan merek (brand emotion). Komunikasi nonverbal adalah jalur tercepat ke otak emosional konsumen. Komunikasi verbal (teks, ucapan) memproses informasi, komunikasi nonverbal langsung membangkitkan perasaan.
Ketiga, memahami kebutuhan dan keinginan tersembunyi konsumen. Dengan memahami komunikasi nonverbal, marketer dapat mendengarkan apa yang tidak diucapkan oleh konsumen. Ini sangat berharga dalam riset pasar dan pengalaman pengguna.
Jadi, mempelajari komunikasi nonverbal dalam marketing sangat lah bermanfaat dan memberikan keunggulan kompetitif yang signifikan. Dalam dunia yang semakin dipenuhi oleh noise iklan, kemampuan untuk berkomunikasi secara langsung dengan hati dan pikiran bawah sadar konsumen melalui saluran nonverbal adalah keterampilan yang tidak boleh diabaikan oleh marketer mana pun. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah