Kisah ini pernah saya ceritakan ke tim marketing saya. Yakni tentang dua orang marketer baru di pabrik pembuat sisir rambut. Dua marketer itu sebut saja namanya: Dul Bejo dan Dul Kamdi. Suatu ketika, Bejo dan Kamdi mendapat tugas dari pimpinannya untuk menawarkan sisir rambut ke sebuah tempat. Mereka tidak diberitahu secara jelas, tempat apa yang akan dituju itu. Maka berangkatlah keduanya.
Begitu tiba di tempat yang dituju, Bejo dan Kamdi kaget. Ternyata, tempat itu adalah kuil Budha, tempat para biksu berada. “Gila…mana mungkin kita menjual sisir di tempat seperti ini?,” komentar Kamdi. Si Bejo memilih diam, tak berkomentar. Pandangannya disebar ke segala arah.
Tak butuh waktu lama, si Kamdi memilih balik-kanan. Bagi dia, mustahil menjual sisir di kuilnya para biksu.
Tapi, si Bejo lebih memilih tinggal di kuil tersebut beberapa saat. Dia memang sempat bingung, bagaimana bisa menjual sisir di tempat seperti kuil? Dia memilih untuk memutar otaknya. Mencari cara, bagaimana agar tetap bisa menjual sisir di kuil tersebut.
Bejo lantas melakukan pengamatan. Dia melihat, di kuil tersebut, datang silih berganti masyarakat yang ingin meminta didoakan para biksu. Bahkan ada salah satu biksu yang usianya lanjut, yang sering didatangi masyarakat pemeluk Budha untuk meminta doa dan nasehat untuk berbagai keperluan mereka.
Bejo lantas mendatangi pengurus di kuil tersebut. Dia bertanya, doa apa saja yang biasanya diberikan para biksu kepada masyarakat yang datang. Bejo mencatat doa-doa tersebut. Terbersit ide Bejo, dia minta izin kepada pengurus kuil untuk mengutip potongan dari doa-doa tadi untuk diukir di bagian sisir. Selanjutnya, Bejo juga minta izin untuk menjual sisir tersebut kepada masyarakat yang datang sebagai souvenir. Dari penjualan sisir itu, Bejo menyisihkan sebagian keuntungannya untuk disumbangkan ke kuil.
Upaya Bejo pun membuahkan hasil. Sisirnya laku keras. Masyarakat yang datang, rata-rata membeli sisir yang ada potongan doa yang biasa diucapkan oleh para biksu. Jadi, bagi masyarakat, sisir tersebut punya value tersendiri, karena ada potongan doa yang sering diucapkan para biksu.
Dari kisah di atas, kita bisa membagi marketer menjadi dua tipe. Tipe pertama, adalah seperti Bejo, yang oleh Carol S. Dweck disebut berkarakter “growth mindset”. Sedangkan tipe kedua, seperti Kamdi, berkarakter “fixed mindset”.Tentang dua karakter tersebut dijelaskan Dweck, professor psikologi dari Stanford University dalam bukunya berjudul: “Mindset: The New Psychology of Success”.
Orang yang berkarakter “growth mindset”, menyukai tantangan. Karena ini lah yang membantu mereka untuk tumbuh. Sedangkan yang berkarakter “fixed mindset” cenderung menghindari tantangan. Takut gagal atau takut terlihat bodoh.
Marketer dengan karakter “growth mindset” setidaknya ada empat ciri perilakunya: Pertama, terbuka terhadap perubahan tren pasar. Mereka mau belajar terhadap hal-hal yang menyebabkan perubahan. Kedua, melihat kegagalan itu sebagai sebuah data untuk evaluasi. Mereka terus menguji ide-ide baru, mengukur hasil, dan melakukan continuous improvement. Ketiga, selalu berinovasi dan bereksperimen. Berani mencoba pendekatan kreatif baru. Keempat, fokus pada pertumbuhan jangka panjang. Dalam hal ini, tidak hanya mencari hasil cepat, tapi membangun brand equity.
Sedangkan marketer dengan karakter “fixed mindset” cenderung menolak perubahan. Mereka takut gagal dan tidak mau bereksperimen. Mereka juga cepat menyalahkan faktor eksternal jika mengalami hambatan.
Ketika tim marketing kita banyak didominasi marketer yang berkarakter “growth mindset”, maka hal ini akan dapat memicu produktivitas kerja dan menjadi katalisator dalam pencapaian target. Sebaliknya, jika banyak didominasi yang berkarakter “fixed mindset”, maka pilihannya ada dua: berhentikan mereka atau bersabar. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah