Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Baiq Market

Kurniawan Muhammad • Rabu, 24 September 2025 | 15:00 WIB

 

By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Saya mengenal “Baiq Market” dari anak perempuan saya. Suatu ketika, saya dititipi untuk belanja pakaian di “Baiq Market”, sebuah nama yang saya baru mendengarnya kala itu. Lokasinya ada di Jakarta, tepatnya di Jakarta Selatan. Darimana anak perempuan saya tahu “Baiq Market”? Dari TikTok. Maklum, Generasi Z (Gen Z) dan TikTok adalah dua hal yang tak terpisahkan saat ini.

Begitu berada di lokasi “Baiq Market”, saya langsung tertarik dengan konsep jualannya, koleksi barang yang dijual, dan strategi marketingnya yang menggunakan omnichannel.

Saat ini, “Baiq Market” sudah ekspansi ke kota-kota lain. Selain Jakarta, sudah ada di Jogja, Bandung, dan baru-baru ini buka di Makassar.

Dari sisi konsep jualannya, “Baiq Market” adalah fashion lokal yang menjadikan desain sebagai diferensiasinya. Desainnya dibikin “hits”, “stylish” dan “edgy”, dengan produk full colour dan penuh ekspresi.

Desain yang “hits” adalah desain yang sedang ngetrend, viral, dan banyak dipakai atau dibicarakan orang. Cepat dikenali karena familiar di media sosial. Desain yang “stylish” adalah desain yang elegan, berkelas, rapi, dan punya nilai estetika yang terjaga. Juga memberikan kesan sophisticated dan timeless (tidak cepat basi). Sedangkan desain yang “edgy” adalah desain yang berani, eksperimental, dan sering melawan aturan estetika mainstream. Desain ini menghadirkan kesan berbeda bahkan provokatif.

Desain-desain seperti ini yang disukai para Gen Z. Mereka tumbuh di era media sosial, dimana banyak konten dan visual. Sehingga ada dorongan untuk tampak beda, punya identitas unik yang bisa langsung terlihat. Desain yang “edgy” dengan warna mencolok, tipografi yang kuat, layout tak konvensional, dan kombinasi yang tidak biasa membantu mereka membedakan diri dari arus utama. Sebuah artikel yang ditulis Janae McKenzie yang dirilis April lalu berjudul “The 9 Most Influential Trends Defining Gen Z Design Right Now” menyebutkan bahwa Gen Z menyukai bentuk-bentuk bermain (playful shapes), pola yang juga tidak biasa, warna berani, serta dekorasi ruang yang punya karakter.

Rupanya “Baiq Market” menjadikan Gen Z sebagai segmen utamanya. Pertimbangannya sangat taktis. Jika Gen Z tertarik, bisa jadi mereka akan mengajak atau memaksa orang tuanya (Generasi X). Contohnya saya. Semula hanya beli untuk anak perempuan, tapi akhirnya kami (saya dan isteri) ikutan beli juga.

Untuk koleksi barang yang dijual, tergolong lengkap. Mulai dari pakaian, tas, aksesoris, bag charm, gelang, bando, jelly bag, bahkan produk branded sisa ekspor dengan harga sangat murah (mulai harga Rp 10.000). Secara umum, harga yang dibanderol termasuk ramah di kantong. Rata-rata Rp 200 ribuan.

Yang juga menarik, bangunan tokonya dikonsep “open space”, kaca besar agar koleksi bisa terlihat dari luar, juga ada zoning berdasarkan karakter gaya pengunjung (zona kalem, edgy, dan zona warna-warni). Ini untuk memudahkan pengalaman customer.

“Baiq Market” menggunakan omnichannel dalam strategi marketingnya. Yaitu pendekatan marketing yang mengintegrasikan berbagai kanal (online maupun offline) agar konsumen mendapatkan pengalaman yang konsisten, terhubung, dan tanpa hambatan saat berinteraksi dengan brand.

Ingat, omnichannel berbeda dengan multichannel. Jika multichannel, brand hadir di banyak kanal, tapi sering terpisah-pisah. Pada omnichannel semua kanal saling terhubung. Misalnya, konsumen bisa melihat produk di Instagram atau TikTok, membandingkan di website, lalu beli di toko fisik. Dan semua informasinya singkron.

Setidaknya ada empat karakteristik utama dari “Omnichannel Marketing”: Pertama, semua kanalnya, baik online maupun offline (website, aplikasi, media sosial, marketplace, toko fisik, call center) terintegrasi dengan baik. Kedua, pesan dan identitas brand secara konsisten tersampaikan. Dalam hal ini, visual, tone of voice, dam promosinya sama di semua platform. Ketiga, data customer terpusat. Riwayat belanja dan preferensi konsumen tersimpan, sehingga brand bisa memberikan rekomendasi personal. Keempat, fokus pada customer journey. Yaitu peta perjalanan konsumen ketika berinteraksi dengan sebuah brand, mulai dari pertama kali mengenal brand hingga menjadi pelanggan setia.

Tahapan customer journey dimulai dari awareness (konsumen mengetahui brand), consideration (konsumen mulai membandingkan dan mempertimbangkan), purchase (memutuskan membeli), dan loyalty (konsumen setia dengan brand dan merekomendasikan kepada konsumen lain).

Jadi, dari “Baiq Market”, kita bisa mempelajari bagaimana cara mereka membidik segmen Gen Z dan bagaimana mereka menerapkan strategi marketing omnichannel. Sebuah hasil penelitian yang pernah dimuat di Harvard Business Review berjudul “A Study of 46.000 Shoppers Shows That Omnichannel Retailing Works” menyebutkan, bahwa konsumen omnichannel lebih loyal dan membelanjakan lebih banyak dibandingkan konsumen single-channel. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#genz #Baiq Market #market #marketing