Generasi Z (Gen Z) di Nepal betul-betul bikin sejarah. Mereka lah yang menjadi lokomotif aksi unjuk rasa yang massif dan meluas di negara itu, dan berujung pada mundurnya Perdana Menteri KP Sharma Oli, diikuti mundurnya beberapa menteri.
Tulisan ini tentu tidak akan mengulas soal aksi unjuk rasa di Nepal. Saya hanya ingin mengangkat isu soal Gen Z, betapa generasi itu saat ini punya kekuatan yang tak bisa diremehkan dan tak bisa diabaikan. Jika pun Gen Z bisa sekuat itu di Nepal, ini karena memang dalam data demografis, komposisi Gen Z mendominasi sekitar 40 persen dari total jumlah penduduk. Sementara Indonesia sekitar 27 persen.
Menurut McKinsey & Company, jumlah Gen Z diperkirakan akan mencapai seperempat populasi wilayah Asia-Pasifik pada tahun ini (2025). Keberadaan Gen Z, disadari atau tidak, akan menjadi katalis utama bagi perubahan dalam lanskap geopolitik dan aturan main dalam marketing. Dan ini sangat terkait dengan nilai-nilai yang mereka pegang, dan kekuatan ekonomi mereka yang tumbuh pesat.
Nilai-nilai apa saja yang menjadi ciri khas dari Gen Z? Dan strategi marketing seperti apa yang cocok diterapkan kepada Gen Z?
Laporan McKinsey menyebutkan, bahwa Gen Z secara umum sangat aktif di dunia maya. Maklum mereka ini lah kelompok “digital natives”. Gen Z dikenal gemar bekerja, berbelanja, berkencan, dan berteman secara daring. Di Asia, mereka menghabiskan waktu rata-rata enam jam per hari di ponsel mereka. Gen Z seringkali beralih ke internet untuk mencari informasi apa pun, termasuk berita dan ulasan, sebelum melakukan pembelian. Mereka terbiasa berpindah-pindah situs, aplikasi, dan linimasa di media sosial (medsos), dimana masing-masing membentuk bagian berbeda dari ekosistem daring mereka.
Para Gen Z ini terbiasa dengan konten visual cepat, video pendek, dan segala hal yang terkait dengan teknologi baru. Perhatian mereka cepat berpindah. Mereka tidak sabar untuk konten yang panjang jika tidak menarik.
Masih merujuk pada laporan McKinsey, situs medsos yang menyediakan konten berbagi video telah mengalami peningkatan pesat, seiring bertambahnya usia Gen Z. TikTok saat ini menguasai tren, perasaan, dan budaya bagi Gen Z. Dari satu miliar pengguna TikTok, sekitar 60 persen-nya adalah Gen Z.
Gen Z juga dikenal karena idealisme-nya. Mereka adalah bagian dari gelombang baru “konsumen inklusif” dan para pemimpi yang progresif secara sosial. Dibandingkan dengan generasi lainnya, Gen Z secara kolektif menuntut adanya tujuan dan akuntabilitas, penciptaan lebih banyak peluang bagi orang-orang dari latar belakang yang beragam dan kurang terwakili, serta praktik berkelanjutan dan ramah lingkungan yang ketat. Penjelasan ini lah yang menjadi jawaban, mengapa Gen Z di Nepal menjadi lokomotif aksi unjuk rasa yang mendorong terjadinya perubahan.
Sebuah artikel yang berjudul “Factors Influencing Gen Z’s Green Product Purchase Behavior” yang dimuat di Eduvest, Journal of Universal Studies, menunjukkan sisi idealisme Gen Z. Yaitu mereka mulai memperhatikan produk hijau (green products), dan faktor lingkungan. Dan ini mereka jadikan sebagai salah satu pertimbangan dalam keputusan pembelian produk.
Yang juga menjadi ciri khas dari Gen Z, merujuk hasil penelitian berjudul “The Influence of Social Media Influencers on Generation Z Consumer Behavior in Indonesia”, menyebutkan bahwa 85 persen responden Gen Z mengakui bahwa influencer mempengaruhi keputusan mereka membeli, terutama konten review produk dan gaya hidup.
Gen Z juga termasuk kelompok usia yang suka bepergian. Mengutip artikel berjudul “12 Characteristics of Gen Z in 2025” yang ditulis Caitin Nuttall, disebutkan bahwa bagi Gen Z, bepergian berada di puncak daftar prioritas mereka. Selama empat tahun, dari kuartal ketiga 2020 hingga kuartal ketiga 2024, jumlah Gen Z yang merencanakan perjalanan internasional meningkat sebesar 17 persen. Jelas lah di sini, bahwa Gen Z adalah generasi yang menghargai pengalaman, memprioritaskan destinasi dengan kesempatan berfoto yang indah, petualangan luar ruangan, dan aktivitas budaya yang unik. Ciri dan karakter dari Gen Z ini lah yang perlu menjadi perhatian para pelaku di industri pariwisata.
Lantas, strategi marketing seperti apa yang cocok diterapkan untuk para Gen Z? Setidaknya ada empat yang bisa dilakukan: Pertama, gunakan isu ramah lingkungan. Dan komitmen untuk ini harus jelas. Misalnya dengan cara melakukan kampanye CSR yang terhubung dengan isu lingkungan.
Kedua, gunakan medsos seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Jika harus ada review terhadap produk harus se-realistis mungkin. Dan ini yang penting: hindari pesan yang bertele-tele. Pakai lah kaidah SPJM (Singkat, Padat, Jelas, Mengena).
Ketiga, berkolaborasi dengan influencer atau micro influencer lokal yang relevan. Yakni influencer yang dekat dengan komunitas lokal, yang nilai dan gaya hidupnya cocok dengan Gen Z di area tersebut. Review produk dari mereka lebih dipercaya. Pastikan mereka benar-benar “real” dan memiliki relasi melalui konten yang konsisten, bukan hanya promosi sekali-dua kali saja.
Keempat, menerapkan kaidah “personalization” dan “brand experience” (pengalaman brand). Buat lah produk-produk yang bisa customize (personalized), terdapat variasi pilihan, dan packaging yang unik. Bikin customer memiliki pengalaman belanja online maupun offline yang special. Misalnya, mereka terkesan saat melakukan “unboxing”, terkesan dengan pelayanan yang cepat, serta terkesan ketika melakukan interaksi secara empatik.
Jadi, disadari atau tidak, suka atau tidak, eranya Gen Z sebagai pemegang kendali, sudah dimulai. Ada kutipan yang cukup provokatif yang disampaikan Gregg L. Witt, penulis buku “The Gen Z Frequency: How Brands Tune In and Build Credibility”. Dia mengatakan: “Youth culture is constantly evolving and Gen Z in particular is disrupting industries….if brands don’t recognize this now get on board, they are going to be left behind”. (Budaya anak muda terus berkembang, dan khususnya Gen Z sedang mendisrupsi berbagai industri … Jika merek/brand tidak menyadari hal ini sekarang dan ikut serta, mereka akan tertinggal).Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah