Saya termasuk penggemar film-filmnya Jackie Chan, sejak saya masih SMP. Trade mark dari film-film Jackie Chan: selain aksi kungfunya yang mengesankan, lucu, dan kebanyakan untuk adegan-adegan berbahaya diperankan sendiri, tanpa melibatkan stuntman. Ini terlihat dari setiap kali film selesai, diperlihatkan potongan-potongan adegan yang menunjukkan bahwa Jackie Chan memerankan sendiri adegan-adegan berbahaya di film-filmnya.
Hingga kini, sedikitnya 150 judul film telah dibintangi Jackie. Dia dianggap sebagai salah satu actor legendaris dunia. Dia berperan penting dalam memajukan sinema Hong Kong dan menggabungkan elemen pembuatan film dari Timur dan Barat (Hollywood). Pada 2017, dia dianugerahi Piala Oscar oleh Komite Academy Awards atas pengabdiannya di bidang seni atletik dan film.
Jackie juga dikenal banyak menghasilkan film-film box office sejak dia pertama berkiprah pada 1978. Saat itu dia dikenal luas setelah membintangi film “Drunken Master”. Film-film Jackie selanjutnya yang juga sukses meraih box office di antaranya Rumble in The Bronx (1996) yang berhasil menghasilkan pendapatan USD 76 juta secara global. Angka tertinggi kala itu. Lalu dua sequel Film Rush Hour 2 (2001) dan Rush Hour 3 (2007) membukukan total pendapatan USD 604 juta. Juga Film Karate Kid (2010) dengan pendapatan USD 352 juta. Kebetulan saya sudah menonton semua film-film tersebut.
Nah, tahun ini, di usia Jackie yang tidak lagi muda, yakni 71 tahun, dia kembali merilis film terbarunya berjudul: “The Shadow’s Edge”. Saya pun sudah menonton film ini. Keren alias ciamik soro. Film itu tercatat sukses merajai box office di China. Per 22 Agustus lalu, film tersebut telah melampaui Rp 890 miliar hanya dalam satu minggu. Para pengamat memprediksi film ini dapat melampaui Rp 2 triliun, mengamankan posisi di antara enam film box office China teratas pada 2025.
Dalam konteks marketing, apa yang bisa kita pelajari dari sosok Jackie Chan dan film-filmnya? Jackie Chan adalah simbol dari ketekunan (persistence) dan konsistensi (consistency). Dua hal ini adalah pilar fundamental dalam marketing yang seringkali menjadi pembeda antara merek yang sukses dan yang tenggelam.
Ketekunan (persistence) merupakan upaya yang terus menerus dan pantang menyerah dalam menjangkau audiens, menindaklanjuti leads (calon pelanggan), dan mengatasi penolakan. Ini tentang tindakan repetitif yang strategis.
Konsistensi (consistency) adalah kemampuan untuk mempertahankan suara, nada, pesan, identitas visual, dan kualitas pengalaman yang sama di semua saluran dan dalam jangka waktu yang panjang. Ini membangun keakraban dan kepercayaan.
Dua hal itulah (persistence dan consistency) dalam marketing bekerja secara sinergis seperti dua sisi mata uang.
Ketekunan tanpa konsistensi sama halnya dengan kebisingan yang membingungkan. Misalnya Anda mungkin rajin (tekun) memposting konten di media sosial setiap hari. Tetapi jika hari ini bahasanya formal, besok alay, dan visualnya tidak seragam (tidak konsisten), audiens akan bingung dengan identitas merek Anda. Mereka tidak akan mengenali dan mempercayai Anda. Jadi, ketekunan tanpa konsistensi, hanya akan membuang-buang sumber daya.
Konsistensi tanpa ketekunan sama halnya dengan ketidakterlihatan. Misalnya Anda mungkin memiliki pedoman merek (brand guideline) yang sangat sempurna dan konsisten, tetapi jika Anda hanya memposting konten sebulan sekali, atau tidak aktif menjangkau pasar (tidak tekun), merek Anda akan dilupakan. Bisa mengalami "out of sight" atau "out of mind".
Robert Cialdini penulis buku "Influence: The Psychology of Persuasion" mengatakan, bahwa manusia memiliki keinginan psikologis yang dalam untuk tampil konsisten dengan komitmen dan nilai mereka sebelumnya. Sebuah merek yang konsisten memanfaatkan prinsip tersebut untuk membangun hubungan yang loyal. Ketekunan adalah bentuk komitmen itu sendiri.
Anda mungkin pernah mendengar aturan dalam marketing tradisional. Aturan itu menyatakan bahwa calon pelanggan perlu melihat atau mendengar pesan Anda minimal tujuh kali (ketekunan) sebelum mereka mengambil tindakan untuk membeli. Namun, agar tujuh kali exposure ini efektif, pesannya harus konsisten agar membentuk persepsi yang tunggal dan jelas.
Jadi, betapa pentingnya ketekunan dan konsistensi. Ini lah yang membuat Jackie Chan sukses dan masih mampu menunjukkan eksistensinya dan kreativitasnya meski usianya menginjak kepala 7. Ayo nonton filmnya Jackie Chan!! (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp).
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah