Senin lalu (28/7/2025) saya ke arena GIIAS (Gaikindo Indonesia International Auto Show) yang dihelat di ICE, BSD City. Di antara ruangan atau hall yang saya datangi, saya terkesan dengan hall dimana aura persaingan antara mobil-mobil buatan China dan Jepang cukup terasa. Di tempat itu, mobil-mobil listrik buatan China berkumpul, seakan "mengepung" mobil-mobil buatan Jepang.
Di antara mobil-mobil buatan China di hall tersebut adalah BYD, Chery, Baic, hingga Jaecoo. Mereka sama-sama jor-joran merilis varian baru demi menarik perhatian konsumen. Di tempat itu juga, ada brand-brand otomotif Jepang di antaranya Toyota, Mitsubishi dan Suzuki.
Kesan saya, di ajang pameran GIIAS itu, China ingin menunjukkan kepada publik tentang produk-produk otomotifnya yang bermacam-macam dan punya keunggulan tersendiri. Mereka sangat sadar, bahwa di Indonesia, pasar otomotif masih didominasi oleh produk-produk dari Jepang.
Lantas, bagaimana cara China melakukan penetrasi pasar ke Indonesia? Jika diibaratkan sebuah peperangan, "lawan berat" China di Indonesia dalam melakukan penetrasi pasar di Indonesia adalah produk-produk Jepang. China nampaknya menerapkan strategi perang ala Sun Tzu dalam strategi marketingnya. Yakni, pentingnya mengenal musuh sebelum melakukan serangan. Dalam hal ini, mengenal pasar, seperti mengenal musuh. Dalam bisnis, pemahaman terhadap pasar, pesaing, dan trend industri sangat lah krusial. Dengan data yang relevan dan analisis mendalam, perusahaan bisa mengambil tindakan yang tepat untuk memanfaatkan peluang dan menghindari risiko yang dapat menghambat pertumbuhan.
Sebelum melaunching produk-produknya, China sudah mempelajari produk-produk Jepang, menginventarisir kelemahan-kelemahannya, serta juga sudah mempelajari perilaku konsumen di Indonesia, apa yang dibutuhkannya dan apa yang diinginkannya. Selanjutnya, hasil dari riset tersebut, diwujudkan dalam produk-produk China yang cukup kompetitif dan inovatif.
Sun Tzu mengajarkan bahwa fleksibilitas dan kreativitas dalam menghadapi tantangan dapat membawa kemenangan. Dalam bisnis, inovasi adalah kunci untuk tetap unggul di bidang yang kompetitif. Dan ini lah yang rupanya dijalankan oleh China. Mereka gencar bikin inovasi-inovasi dalam produknya, yang tidak ada pada produk lain atau yang menjadi titik kelemahan dari produk lain.
Di arena GIIAS 2025 itu yang juga menarik perhatian dari produk otomotif China adalah dipamerkannya prototype mobil terbang "XPeng AeroHT". Bentuk mobilnya dipamerkan di arena GIIAS, lengkap dengan baling-balingnya. Produk ini sedang dalam tahap pengembangan dan pengujian. Meskipun belum tersedia untuk umum, XPeng menargetkan untuk mulai mengirimkan mobil terbang ini kepada konsumen pada tahun depan.
Brand-brand lain belum ada yang memajang mobil terbang, China sudah berani memamerkan produknya. Ini menunjukkan jurus agresif dari China. Seperti ingin menyampaikan pesan kepada publik, bahwa mereka ingin mendominasi pasar otomotif di tanah air.
Jurus agresif atau ofensif dalam marketing, merujuk pada strategi pemasaran yang intensif, berani, dan terkadang berisiko untuk merebut pasar, meningkatkan pangsa pasar, atau mengalahkan pesaing dengan cepat.
Michael E. Porter, penulis buku "Competitive Strategy: Techniques for Analyzing Industries and Competitors"
merinci taktik agresif untuk menyerang pesaing, di antaranya: penyerangan langsung. Misalnya dengan cara menyerang kelemahan kompetitor melalui iklan-iklannya yang gencar dan masif. Taktik lainnya melalui ekspansi kapasitas. Yakni dengan cara membanjiri pasar dengan produksi besar untuk mendominasi.
Sekali lagi, ini yang sedang dilakukan China, melalui produk-produknya. Lihat saja iklan-iklannya. Dan lihat saja semakin banyaknya brand-brand otomotif China yang membanjiri pasar Indonesia.
Jadi, jika ingin menerapkan jurus marketing agresif, kita bisa belajar dari China. Bagaimana menurut Anda? (kritik saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah