Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Jurus Netflix: Data-Driven Marketing

Kurniawan Muhammad • Rabu, 25 Juni 2025 | 17:06 WIB

 

By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Jika ada brand global yang sukses bertumbuh dan pendapatannya terus membesar tiap tahun, salah satunya adalah: Netflix. Sudah hampir tujuh tahun ini, saya berlangganan Netflix. Masih suka. Dan belum berencana untuk putus berlangganan.

Merujuk data dari demandsage.com hingga Mei 2025, jumlah pelanggan berbayar Netflix di seluruh dunia mencapai 301,6 juta. Pada 2011, jumlah pelanggannya di seluruh dunia masih 21,5 juta. Berarti, jika dirata-rata dalam 14 tahun itu, jumlah pelanggan bertambah sekitar 20 juta per tahun.

Sedangkan pendapatan Netflix, masih merujuk pada data tersebut, hingga Q1 2025, mencapai USD 10,54 miliar (setara dengan Rp 152,8 triliun). Jumlah ini meningkat sekitar 12,5 persen dari tahun sebelumnya. Nilai pasar mencapai USD 416,22 miliar. Dengan capaian ini, Netflix masuk dalam 20 perusahaan paling bernilai di dunia.

Bagaimana Netflix bisa semoncer itu? Strategi marketing seperti apa yang diterapkannya?

Sebagai sebuah produk, Netflix punya “unique value proposition” (UVP) yang kuat. UVP adalah pernyataan tentang keunggulan dan keunikan dari produk yang ditawarkan.

Apa uniknya dan apa keunggulan produk dari Netflix? Setidaknya ini: produk atau film-film yang ditawarkan kebanyakan cocok dengan selera customer. Film-film di Netflixe sangat beragam dan selalu ada pasokan film baru yang disesuaikan dengan selera customer. Customer dengan semua genre tontonan hampir semua bisa dipenuhi keinginannya oleh Netflix.

Ini karena Netflix menjalankan strategi “data-driven marketing” alias marketing berbasis data. Yaitu marketing berbasis data memanfaatkan informasi dari berbagai sumber untuk memahami perilaku konsumen.

Bagi Netflix, data digunakan untuk personalisasi rekomendasi konten. Dalam hal ini, Netflix menganalisis perilaku pelanggan dan calon pelanggannya dengan menggunakan 200 lebih metrik. Misalnya, diamati waktu menonton, genre tontonan favorit, rating, jeda waktu menonton hingga rewind. Netflix juga menggunakan algoritma machine learning untuk memprediksi preferensi pengguna dan memberikan rekomendasi konten yang relevan. Ini lah yang membuat produk-produk Netflix semakin disukai, karena produk mereka menyesuaikan trend dan selera customer.

Riset dari Forbes menunjukkan bahwa keuntungan menerapkan strategi marketing berbasis data sangat besar. Di antaranya, loyalitas pelanggan yang lebih besar, mendapatkan lebih banyak pelanggan baru, dan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan.

Selain itu, data memberikan dasar yang kuat untuk pengambilan keputusan pemasaran, mengurangi risiko kesalahan, dan meningkatkan efisiensi.

Jadi, Netflix telah sukses mempertahankan “competitive advantage”-nya melalui treatmentnya yang komprehensif terhadap data. Dengan kata lain, Netflix telah sukses mengadopsi pola pikir berbasis data, dengan cara mengidentifikasi pola dan trend customer dan calon customernya. Anda pun bisa melakukannya. Pasti bisa. (ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#netflix #UVP #unique value proposition #brand