Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sustainable Marketing

Kurniawan Muhammad • Rabu, 18 Juni 2025 | 14:15 WIB

 

By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

L’Oreal pada Senin lalu (16062025) melaunching kampanye global “Join the Refill Movement”. Ini adalah sebuah gerakan untuk mendorong kebiasaan isi ulang produk kecantikan sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan, tanpa mengorbankan kualitas maupun kemewahan.

Selain L'Oreal, sejumlah produk premium lainnya seperti
Kiehl's, Lancome, La Roche Posay, Kerastase,
Yvest Saint Laurent, hingga Giorgio Armani juga kompak ramai-ramai membuat produk kemasan refill atau isi ulang.
Ini merupakan gerakan kolektif untuk menjadikan kemasan refill bagian dari gaya hidup kecantikan, dan dilaunching pada Senin lalu, bertepatan dengan “World Refill Day 2025”.

Bagaimana fenomena ini dijelaskan dalam konteks marketing? Philip Kotler memiliki pandangan tentang “sustainable marketing” (pemasaran yang berkelanjutan). Di antara konsep “sustainable marketing” menurut Kotler adalah: mempertimbangkan generasi mendatang. Yakni mempertimbangkan kebutuhan generasi mendatang dan dampaknya terhadap lingkungan. Selain itu, produk dan layanan yang ramah lingkungan. Dalam hal ini, “sustainable marketing” harus mendorong pengembangan produk dan layanan yang memiliki dampak minimal terhadap lingkungan. Misalnya, diwujudkan dalam bentuk “green product”. Yaitu produk dirancang dengan mempertimbangkan dampak lingkungan.

Yang dilakukan L’Oreal, Kiehl’s, Lancome, La Roche Posay, Kerastase, Yves Saint Laurent, hingga Giorgio Armani, dalam rangka menerapkan konsep “sustainable marketing” dengan melaunching “green product”. Yaitu dalam bentuk produk refill atau isi ulang.

Bagi L’Oreal, gerakan “Join the Refill Movement” merupakan bagian dari inisiatif jangka panjang “L’Oreal for the Future” yang menargetkan 50 persen kemasan berbahan daur ulang dan pengurangan intensitas kemasan hingga 20 persen pada tahun 2030. Gerakan bikin produk refill, diklaim oleh L’Oreal dapat memangkas penggunaan plastik hingga 30 persen.

Untuk produk-produk Kiehl’s, dengan adanya kemasan isi ulang, diklaim dapat mengurangi penggunaan plastik antara 61 persen – 80 persen.

Sedangkan refill parfum merek Giorgio Armani Acqua di Gio diklaim mampu mengurangi 42 persen penggunaan kaca, 16 persen plastik, 75 persen metal, dan 37 kertas.

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Maria Alonso, praktisi marketing yang juga pendiri Fortune 206, yang dirilis di fastcompany.com menjelaskan, bahwa pencitraan brand yang peduli lingkungan telah berkembang dari sekadar trend menjadi nilai inti yang mendorong perilaku konsumen. Seiring dengan semakin mendesaknya isu global, semakin banyak bisnis yang dimintai pertanggungjawaban atas dampaknya.

Pergeseran ke arah brand yang sadar lingkungan didorong terutama oleh permintaan konsumen. Mengutip data dari PDI Technologies’ 2023 State of Sustainable Index, 68 persen konsumen global bersedia membayar lebih untuk barang-barang yang berkelanjutan atau barang-barang yang pro lingkungan, dengan generasi milenial dan generasi Z memimpin gerakan ini. Konsumen yang lebih muda ini lebih sadar akan dampak lingkungan dan sosial dari pembelian mereka, dan mengharapkan brand yang mereka dukung selaras dengan nilai-nilai mereka. Mereka tidak lagi memandang produk sebagai barang yang berdiri sendiri, tetapi sebagai cerminan dari perusahaan yang memproduksinya.

Data tersebut terkonfirmasi pada hasil penelitian yang dilakukan PPIM (Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Disebutkan, 78,5 persen generasi Z lebih melek isu lingkungan dibandingkan generasi lain. Hal ini berdasarkan hasil temuan PPIM melalui penelitian yang dilakukan pada 2024. Penelitian tersebut melibatkan responden dari empat generasi: generasi baby boomers, X, milenial dan Z. Mengapa generasi Z lebih melek terhadap isu lingkungan? Salah satu penjelasannya, karena generasi Z lebih mudah mendapat akses informasi melalui teknologi.

Jadi, penting bagi sebuah produk atau brand menerapkan “sustainable marketing”. Karena dapat membantu perusahaan memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan mereka. Selain itu, dapat juga menumbuhkan kepercayaan konsumen. Khususnya konsumen dari kalangan anak muda (generasi Z) yang semakin peduli terhadap isu lingkungan, dan mereka ini cenderung memilih produk dan layanan dari perusahaan yang care terhadap isu-isu lingkungan.

Walhasil, sudah kah produk Anda menerapkan “sustainable marketing”? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#World Refill Day 2025 #La Roche Posay #kerastase #Join The Refill Movement #kecantikan #Lancôme #l'oreal #Yvest Saint Laurent #kiehl's #Giorgio Armani