Akhirnya Wings Group memproduksi air minum dalam kemasan (AMDK). Namanya: AQUVIVA, yang dilaunching akhir Februari lalu. Maka, semakin sengit lah persaingan bisnis AMDK di Indonesia. Bagaimana strategi marketing AQUVIVA dalam menarik perhatian konsumen? Apa yang bisa kita pelajari dari langkah AQUVIVA untuk bersaing dengan produk-produk sejenis sebelumnya?
Bisnis AMDK adalah bisnis “red ocean”. Menurut data yang terkonfirmasi, saat ini terdapat sedikitnya 900 perusahaan AMDK di Indonesia dengan 2.000 merek yang beredar di pasaran. Meski persaingannya sudah begitu ketatnya, tapi peluang pasar masih terbuka. Merujuk pada data BPS (Badan Pusat Statistik), pada tahun 2023, rumah tangga di Indonesia yang menggunakan AMDK sebagai sumber air minum utama sekitar 40,64 persen. Artinya, belum ada separuh dari keseluruhan rumah tangga di Indonesia yang mengonsumsi AMDK untuk air minum utama. Masih ada peluang pasar 60 persen lagi yang masih bisa digarap.
Selain itu, pasar AMDK di Indonesia juga sangat masif. Data dari Statista menyebutkan, bahwa nilai pasar AMDK di Indonesia pada 2022 mencapai USD 10,24 miliar, atau setara dengan Rp 152 triliun. Dengan angka ini, nilai pasar AMDK di Indonesia menjadi terbesar kelima di dunia. Statista juga memprediksi bahwa angka tersebut masih terus bertumbuh 26,5 persen dalam lima tahun ke depan menjadi USD 12,95 miliar. Ini lah yang membuat Wings Group ikutan masuk dalam bisnis AMDK di tanah air.
Bagaimana strategi marketing AQUVIVA agar bisa mencuri perhatian konsumen? Bicara soal strategi marketing dari sebuah produk yang baru diluncurkan, maka faktor utama dan yang pertama harus diperhatikan adalah “value proposition” dari produk tersebut. Ini adalah tentang keunggulan, keunikan dan kekhasan dari sebuah produk yang membedakan dengan produk lainnya. Dalam marketing, ini lah yang membangun diferensiasi sebuah produk.
Nah, “value proposition” yang ditawarkan AQUVIVA adalah, mereka mengklaim, produknya adalah AMDK pertama di Indonesia yang diolah dengan teknologi tujuh tahap Nano purifikasi. Teknologi ini diklaim mampu mempertahankan keutuhan mineral yang baik dari alam dan membuang zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh. Sehingga membuat air mineral AQUVIVA memiliki kemurnian yang optimal.
Jadi, dalam bersaing dengan para kompetitornya, AQUVIVA lebih memilih jurus “aman”, yaitu diferensiasi produknya tidak menyerang secara langsung kompetitornya. Ini berbeda dengan Le Minerale dan Cleo. Jurus diferensiasi produk mereka, salah satunya mengusung kemasan galon PET yang bebas Bisphenol A (BPA). Ini adalah zat karsinogenik yang berbahaya jika masuk ke dalam tubuh manusia. Jurus diferensiasi ini menyerang langsung competitor terdekatnya yang galonnya berbahan polikarbonat dan mengandung BPA.
Dalam memasarkan produknya, AQUVIVA diuntungkan dengan jaringan atau jalur distribusi dari Wings Group yang sudah cukup kuat di seluruh Indonesia. Sehingga tidak sulit memasarkan produk baru tersebut.
Dengan “value proposition” yang dimiliki, AQUVIVA membidik target pasar yang spesifik. Mereka membidik segmen anak muda (gen Z), terutama yang baru memasuki dunia kerja, dan semakin sadar akan pentingnya gaya hidup sehat. Desain label pun dibikin sesuai dengan selera anak muda, yakni dibikin lebih menarik dan modern.
Apa yang bisa dipelajari dari langkah Wings Group melaunching AQUVIVA, di tengah ketatnya persaingan produk AMDK di Indonesia? Saat ini, sedikitnya ada delapan brand AMDK yang berada di deretan papan atas: AQUA, Le Minerale, Vit, Nestle Pure Life, Club, Ades, Cleo, dan Pristine. Pelajaran yang dapat diambil dari AQUVIVA dalam hal ini adalah kejelian mereka dalam memanfaatkan “gap in the market” (celah pasar). Ini mengacu pada kebutuhan, keinginan, atau masalah pelanggan yang belum terpenuhi oleh produk atau jasa yang ada di pasar. Hal ini kemudian dijadikan sebagai peluang bisnis, dimana sebuah merek dapat masuk dengan solusi baru atau lebih baik daripada kompetitor.
Dalam kasus AQUVIVA, meski pasar AMDK tergolong jenuh, tapi mereka masih melihat adanya celah pasar yang dijadikan sebagai peluang bisnis. Menurut Clayton M. Christensen, penulis buku “The Innovator’s Dilemma”, kebutuhan pelanggan yang tidak terucap, bisa dijadikan sebagai dasar untuk menemukan celah pasar.
Bisa jadi, Wings Group sangat percaya diri telah menemukan kebutuhan pelanggan AMDK yang tak terucap, yang belum bisa dipenuhi produk-produk AMDK yang ada selama ini. Untuk bisa menangkap kebutuhan pelanggan yang tak terucap, butuh intuisi, butuh kejelian dalam membaca trend dan peluang. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah