Saya punya dua sahabat yang sukses membangun rumah sakit, yang sama-sama memulai dari nol, dan memulai dari serba keterbatasan. Pertama, dr Sadi Hariono dengan RS Prima Husada. Kedua, drh Puguh Wiji Pamungkas dengan RS Wajak Husada.
Kedua rumah sakit itu sama-sama berada di Kabupaten Malang, dan keduanya sama-sama sedang terus bertumbuh dan berkembang.
Dan ini yang menarik: baik dr Sadi maupun drh Puguh, menurut saya, sama-sama membangun rumah sakitnya, salah satunya melalui kekuatan “Personal Branding”.
Dokter Sadi mulai membuka praktek di rumahnya di kawasan Singosari Kabupaten Malang sejak 1990, setelah dua tahun lulus menjadi dokter, dan setelah setahun mendapatkan ijin praktek.
Waktu itu, dia berpraktek di rumahnya yang berada di tengah sawah, dengan memberikan pelayanan 24 jam. Artinya, jam berapa pun pasien datang berobat, dilayani. Tidak mengenal hari libur.
Dan saat itu, dr Sadi selain sebagai dokter, juga memposisikan dirinya sebagai pelayan bagi pasien-pasien yang datang ke tempat prakteknya. Lambat laun, tempat praktek dr Sadi dikenal luas. Dikenal sebagai dokter yang tidak pernah libur.
Jam berapa pun datang ke rumahnya yang juga tempat prakteknya, dilayani dengan baik. Dan ini dijalani dr Sadi selama 15 tahun. Hingga pada 2005, dibantu isterinya, dr Sadi mulai mendirikan Balai Pengobatan.
Karena saat itu dia diminta oleh pasien-pasiennya yang semakin bertambah, agar bikin tempat perawatan, supaya pasien bisa menginap untuk dirawat dr Sadi. Dari Balai Pengobatan, lalu berkembang menjadi Klinik Rawat Inap.
Lalu menjadi Rumah Sakit tipe D, dan akhirnya berkembang menjadi RS Prima Husada. Saat ini, RS Prima Husada sudah membuka cabang di Pasuruan, dengan bangunan gedung delapan lantai.
Sedangkan drh Puguh mengawali usahanya dengan membuka toko obat pada 2012. Saat itu masih ngontrak. Selama proses mengontrak itu pernah diusir oleh pemilik kontrakan secara sepihak.
Berkat ketelatenan, keuletan dan kegigihannya, usaha drh Puguh berkembang. Dari toko obat berkembang menjadi apotek. Lantas, bersama isterinya yang seorang dokter, membuka tempat praktek.
Pada 2016 tempat praktek itu berkembang menjadi Klinik Rawat Inap, waktu itu hanya 25 bed. Lambat laun, Klinik Rawat Inap itu pun berkembang menjadi rumah sakit, bernama Wajak Husada.
Dan saat ini, sudah berkembang menjadi jejaring Wajak Husada Group yang memiliki sejumlah apotek dan klinik pratama.
Baik dr Sadi maupun drh Puguh, keduanya sama-sama mengawali dengan membangun reputasi mereka di masyarakat tempat tinggalnya. Dokter Sadi memulainya dari kawasan Singosari, dan drh Puguh memulainya dari kawasan Wajak.
Belasan tahun berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya, menjadi embrio bagi keduanya untuk membangun dan mengembangkan rumah sakitnya.
“Personal branding” yang terbangun pada sosok dr Sadi maupun drh Puguh bersumber dari interaksi mereka dengan masyarakat selama bertahun-tahun.
Menurut Tom Peters dalam bukunya “The Brand Called You”, kekuatan pribadi adalah kunci untuk membangun “personal branding” yang kuat.
Selain itu, individu juga harus mengenali kekuatan dan kelemahan mereka. Dan ini juga penting, kata Peters, individu harus menjaga konsistensi dalam membangun “personal branding”-nya.
Nah, kekuatan personal sebagai dokter, intensitasnya berinteraksi dan melayani masyarakat, diawali dari masyarakat yang ada di sekitarnya, serta konsistensinya dalam berkegiatan di bidang kesehatan selama belasan tahun, ini lah yang menjadi “value proposition” dr Sadi dan drh Puguh. Sehingga ini menjadi bekal mereka sukses membangun rumah sakitnya.
Di Indonesia rumah sakit yang berkembang pesat karena “personal branding” pemiliknya adalah RS Mayapada milik Dato’ Sri Tahir.
Dia pengusaha sukses dan filantropis terkenal di Indonesia. Reputasinya sebagai seorang yang peduli terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat turut mendorong kepercayaan publik terhadap rumah sakit tersebut.
Rumah sakit ini tidak hanya mengandalkan fasilitas dan layanan medis yang berkualitas. Tapi juga manfaat dari reputasi dan jaringan pemiliknya yang kuat di masyarakat.
Saat ini, RS Mayapada tersebar di enam tempat yang berlokasi di Tangerang, Jakarta Selatan, Bogor, Jakarta (Kuningan), Surabaya, dan Bandung dengan total 1.120 tempat tidur, dan luas 88.916 meter persegi.
Dari 6 RS yang dimiliki Mayapada Group itu, satu di antaranya berkonsep green hospital, yakni Mayapada Hospital Bandung.
Baca Juga: ACE Hardware dan AZKO
RS yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 6 Maret 2023 itu mendapatkan sertifikasi dari Greenship dan EDGE dengan poin tertinggi, platinum.
Mayapada juga memiliki empat klinik bernama Mayapada Clinic, yakni layanan kesehatan klinik primer yang terdiri dari 3 bagian menyatu, yaitu dokter umum dan gigi (dental), laboratorium klinik dan apotek.
So, this is the power of personal branding. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah