Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Imlek dan Gus Dur

Kurniawan Muhammad • Rabu, 29 Januari 2025 | 14:37 WIB
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Presiden ke-4 RI (alm) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), menurut saya bukan hanya jenius. Dia juga seorang marketer.

Gus Dur lah sosok penting di balik dibukanya berbagai pembatasan untuk etnis Tionghoa di Indonesia.

Di era Presiden Soeharto, ada Instruksi Presiden (Inpres) No 14 Tahun 1967, di antara isi dari Inpres tersebut warga Tionghoa di Indonesia tidak boleh merayakan pesta agama atau adat istiadatnya di tempat umum.

Begitu Gus Dur menjadi presiden, dia mengeluarkan Kepres No 6 Tahun 2000 yang membatalkan Inpres No 14 tadi.

Presiden RI selanjutnya, kemudian gayung bersambut. Di era Presiden Megawati Soekarno Putri, mengeluarkan Kepres No 19 Tahun 2002, yang isinya menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional.

Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono(SBY), pada 2006 menetapkan Peraturan No 12 tahun 2006 tentang kewarganegaraan dan Peraturan No 23 Tahun 2006 tentang sensus penduduk.

Kedua peraturan ini memberikan penegasan kepada para etnis Tionghoa untuk mendapatkan hak kewarganegaraannya sebagai Warga Negara Indonesia.

Saat itu lah, kebudayaan Tionghoa akhirnya menjadi bagian kekayaan kebudayaan Indonesia. Dan ini semua diawali dari kebijakannya Gus Dur.

Lantas, mengapa Gus Dur saya sebut sebagai marketer? Warga Tionghoa di Indonesia memang tidak sampai 5 persen dari jumlah total populasi.

Tapi, dalam konteks marketing, mereka adalah pasar dan kekuatan yang sangat potensial yang mampu menggerakkan potensi ekonomi. Pasar dan kekuatan potensial ini lah yang bisa jadi dilihat oleh Gus Dur.

Di era orde baru, pasar dan kekuatan potensial itu sangat dibatasi geraknya. Makanya, ketika Gus Dur menjadi presiden, kran yang membatasi pasar dan kekuatan potensial itu dibuka.

Sehingga, sejak itu, warga Tionghoa bebas merayakan perayaan agamanya, termasuk merayakan Imlek. Ini adalah Tahun Baru China yang dianggap sebagai hari besar dan penting bagi warga Tionghoa.

Masyarakat Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek hingga 15 hari, mulai tanggal 1 – 15 bulan ke-1 penanggalan Kalender China.

Dimana dalam penanggalan China melibatkan perhitungan matahari, bulan, dua energi Yin-Yang, dan konstelasi bintang atau astrologi shio.

Begitu Imlek bebas dirayakan semeriah-meriahnya dan saat hari H Imlek ditetapkan sebagai hari libur, maka disadari atau tidak, hal itu telah menjadi perayaan yang membawa energi besar ke dalam perekonomian.

Seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir, ekonomi Imlek tidak hanya menggeliat di pusat-pusat perdagangan besar, tetapi juga meresap hingga ke lapisan ekonomi terkecil.

Paul Robin Krugman, ekonom dari Amerika Serikat peraih Nobel bidang Ekonomi, menekankan bahwa konsumsi adalah pendorong utama pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.

Pada saat perayaan Imlek, terjadi lonjakan konsumsi. Ini bukan hanya menciptakan multiplier effect bagi berbagai sektor ekonomi. Tetapi juga membuka peluang bagi inovasi berbasis budaya.

Ini bukan sekadar soal perputaran uang dalam bentuk angpao atau konsumsi makanan khas.

Tetapi terciptanya sebuah ekosistem yang mencerminkan dinamika ekonomi yang unik, penuh simbolisme, dan memiliki potensi inovasi yang masih jarang disorot.

Misalnya, dalam perayaan Imlek, hidangan favorit yang disuguhkan dan disukai berupa ikan, ayam, bakmi dan kue apem. Berbagai makanan ini penuh dengan simbol dan makna.

Ikan melambangkan rezeki. Karakter pelafalan “yu” yang berarti “ikan” sama dengan “yu” yang berarti “berlebih”. Sehingga maksud dalam penyajian ikan, agar sepanjang tahun mendapatkan rezeki yang baik dan berlebih.

Ayam melambangkan peluang. Karena pelafalan “ji” yang berarti “ayam” sama dengan pelafalan pada “ji” yang berarti “peluang”. Dalam penyajian hidangan ayam, memiliki harapan bagi masyarakat Tionghoa agar memperoleh peluang dan keberuntungan dalam hidup dan bisnis agar lancar dan sukses.

Makanan berikutnya adalah bakmi. Ini merupakan hidangan wajib yang juga menjadi favorit masyarakat Tionghoa. Tujuan penyajian hidangan ini agar kelanggengan mengiringi hidup, bahagia, panjang umur, dan rezeki yang melimpah seperti bentuk mie yang panjang dan menumpuk.

Berbagai makanan khas Imlek yang kaya akan makna dan simbolisme tersebut dapat dikemas ulang dalam bentuk yang lebih menarik bagi generasi muda. Model “experience economy” yang dikembangkan oleh James Gilmore menekankan bahwa konsumen modern tidak hanya membeli produk, tetapi juga pengalaman.

Konsep ini sangat bisa diterapkan dalam bisnis kuliner khas Imlek dengan menciptakan “story telling” yang kuat, baik melalui pemasaran digital maupun pengalaman fisik, seperti restoran bertema budaya yang memadukan kuliner dan edukasi sejarah Tionghoa.

Seiring dengan hal tersebut, ekonomi berbasis wisata budaya juga memiliki potensi besar jika dikelola dengan cara yang lebih inovatif. Di Indonesia ada sejumlah daerah yang memiliki komunitas Tionghoa dengan sejarah dan tradisi yang kaya.

Misalnya di Singkawang, Kalimantan Barat, yang setiap perayaan Imlek selalu diadakan festival di sana. Dan perputaran uang yang terjadi selama festival berlangsung bisa mencapai belasan miliar rupiah.

Selain Singkawang, kota yang dua tahun ini menggelar festival merayakan Imlek adalah Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Acara festival yang diadakan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) ini dipusatkan di kota lama.

Tahun ini, festival tersebut diikuti 570 pelaku usaha. Dan menurut panitia, selama festival berlangsung perputaran uang tembus Rp 10 miliar.

Bayangkan, jika perayaan Imlek masih dilarang, seperti saat orde baru dulu. Bayangkan, jika Gus Dur saat itu tidak mencabut Inpres-nya Soeharto. Selamat merayakan Imlek. Gong Xi Fa Cai. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#marketer #gus dur #perayaan imlek #gus dur bapak pluralisme #imlek