Jika ada lagu yang sangat populer di dunia saat ini, judulnya adalah: APT. Lagu yang dinyanyikan duet antara Rose, Blackpink asal Korea dengan Bruno Mars, penyanyi populer dari Amerika Serikat itu begitu mudahnya didengarkan di tempat-tempat keramaian. Di Mal, di tempat-tempat hiburan, di pasar, hingga di beranda-beranda media sosial mulai Instagram, YouTube hingga TikTok. Jadi, ini lah lagu yang paling menghebohkan dunia di tahun 2024.
Sejak dirilis pertama kalinya pada 18 Oktober 2024, APT hingga kini sudah memecahkan beberapa rekor dunia. Pertama, sejak lagu APT ini dirilis pertama kalinya di platform YouTube, dalam waktu sepekan berhasil meraih 133 juta tayangan.
Dengan capaian ini, video lagu APT ini langsung memecahkan rekor sebagai musik video tercepat yang berhasil mencapai 100 juta penayangan di YouTube dalam sepekan, menyusul lagu “Gangnam Style” karya dari PSY.
Kedua, lagu APT berhasil memuncaki posisi pertama di “Top 100 Global” Apple Music di 26 negara. Lagu ini juga sempat bertengger di posisi pertama “Daily Top 100 Global”, sepekan setelah dirilis pertama kalinya.
Dan ketiga, dikutip dari akun X @spotify_data, seminggu setelah dirilis pertama kali, lagu APT telah diputar lebih dari 14 juta kali selama empat hari berturut-turut, dan saat itu memuncaki posisi pertama “Top 50 Daily Chart” di Amerika Serikat.
Kesuksesan lagu APT ini, semakin mentasbihkan Korea Selatan sebagai episentrum baru untuk industri hiburan di dunia, selain Amerika Serikat. Sebelumnya, ikon yang juga asal Korea Selatan seperti BTS, Squid Game dan Blackpink lebih dulu mendunia.
Mengutip “Bloomberg News”, konten hiburan Korea Selatan, mulai dari musik, drama, film, hingga industri game pada 2023 menghasilkan sekitar 151 triliun won (USD 114 miliar, sekitar Rp 1.653 Triliun). Sebuah angka yang cukup fantastis. Dan saya yakin, angkanya pada tahun ini naik signifikan.
Apa yang bisa kita pelajari dari meledaknya lagu APT? Dalam konteks marketing, yang dilakukan Rose menggandeng Bruno Mars, adalah penerapan dari “Collaborative Marketing”.
“Collaborative Marketing” adalah strategi, dimana dua atau lebih perusahaan maupun brand terlibat dalam kerja sama untuk mencapai tujuan dan saling memperkuat upaya marketing mereka.
Lantas, apa bedanya dengan co-branding? Co-branding termasuk dalam “Collaborative Marketing”. Bedanya, co-branding lebih dalam lagi dari sekadar “Collaborative Marketing”. Jika “Collaborative Marketing” hanya fokus pada marketing bersama, co-branding lebih fokus pada penciptaan produk atau layanan baru yang lebih unik dan menarik bagi konsumen.
Yang dilakukan Rose Blackpink menggandeng Bruno Mars lebih tepat disebut
“Collaborative Marketing”. Pintu kolaborasi terbuka, setelah Rose memutuskan untuk bergabung ke label “Atlantic Records”, perusahaan label rekaman terkenal di Amerika Serikat.
Ada beberapa jenis “Collaborative Marketing” yang sudah diterapkan dalam industri. Di antaranya, ada yang disebut dengan “kolaborasi niche”. Ini adalah bentuk kerja sama yang lebih fokus pada segmen pasar yang spesifik. Brand atau perusahaan yang terlibat dalam kolaborasi ini mempunyai target audiens yang serupa atau saling melengkapi.
Ada juga yang disebut dengan “content collaboration”. Ini adalah bentuk kerja sama dimana dua atau lebih merek maupun perusahaan bekerja sama untuk menciptakan konten. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas jangkauan pasar, meningkatkan engagement, dan membangun hubungan yang lebih kuat dengan konsumen. Nah, kolaborasi antara Rose dan Bruno Mars, termasuk dalam jenis ini. Bagaimana menurut Anda? Tertarik untuk menerapkan “Collaborative Marketing” dalam bisnis Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah