Selama 11 tahun memimpin perusahaan di Malang, dan 3,5 tahun memimpin perusahaan di Kediri, saya selalu memprogramkan kegiatan rekreatif untuk seluruh karyawan.
Sebulan sekali, kegiatan rekreatif-nya minimal makan-makan bareng sambil ngobrol bareng. Setahun sekali, kegiatan rekreatifnya baru ke luar kota, bahkan ke luar provinsi.
Secara anggaran, kegiatan rekreasi karyawan termasuk dalam kategori pengeluaran. Lebih tepatnya, menurut saya, pengeluaran yang berujung pada produktivitas karyawan.
Jika diibaratkan mobil yang butuh biaya servis atau maintenance, maka karyawan pun juga butuh untuk dimaintenance atau diservis “rohaninya”, dengan cara diajak untuk refreshing sekaligus healing, agar termotivasi untuk bekerja yang lebih produktif lagi.
Kegiatan merekreasikan karyawan, adalah salah satu bentuk penerapan dari “internal marketing”. Kata Philip Kotler: “Think of employees, like you think of customers”. Karyawan menurut Kotler adalah customer internal. Mereka memiliki kebutuhan dan keinginan.
Dengan memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka secara lebih baik, diharapkan akan dapat meningkatkan kepuasan karyawan dan kinerjanya. Jadi, konsep dari “internal marketing” adalah mencoba merasakan, melayani dan memuaskan sebuah pasar internal, yaitu karyawan.
Dalam buku “The Customer Comes Second” (New York Times best-seller), sang penulis, Hal Rosenbluth, seorang CEO terkenal yang mengelola biro perjalanan di Amerika menyebutkan, dalam bisnis jasa seperti hotel, restoran, dan bank, memuaskan karyawan adalah tugas utama perusahaan.
Bill Marriott, Jr, CEO Marriott International, Inc pernah mengatakan, bahwa jika dia berhasil memuaskan karyawan, maka customer akan kembali ke Hotel Marriott, dan para pemegang saham akan memperoleh reward.
Ada kutipan yang sangat familiar di lingkungan jaringan Hotel Marriott dari Bill Marriott ini: “I want our employees to know that there really is a man named Marriott who cares about them”. Rupanya, ini lah yang menjadi salah satu kunci sukses dari jaringan Hotel Marriott, yang saat ini memiliki sedikitnya 8.000 properti di 30 merek di 139 negara dan wilayah.
So, betapa pentingnya “internal marketing”, wabil khusus bagi perusahaan yang bergerak di sektor jasa. Penerapan “internal marketing” bukan hanya mengajak rekreasi karyawan. Setidaknya ada lima elemen penting dalam menerapkan “internal marketing”: Pertama, komunikasi internal.
Yakni menyampaikan informasi tentang visi, misi, nilai-nilai, dan tujuan perusahaan kepada seluruh karyawan secara terbuka dan jelas. Kedua, pelatihan dan pengembangan karyawan. Yakni membangun keterampilan dan pengetahuan karyawan agar mereka dapat menjalankan tugas mereka dengan lebih efektif, sambil mendukung pencapaian tujuan perusahaan. Ketiga, pemberdayaan karyawan.
Dalam hal ini memberikan karyawan tanggung jawab dan kepercayaan untuk berkontribusi pada keberhasilan perusahaan, menciptakan rasa memiliki dan keterlibatan yang lebih tinggi. Keempat, budaya organisasi. Yakni membentuk budaya kerja yang mendukung kolaborasi, inovasi, dan keunggulan, sehingga menciptakan lingkungan kerja yang positif dan memotivasi.
Kelima, pengakuan dan penghargaan. Yakni mengakui dan memberikan penghargaan kepada karyawan yang berprestasi untuk meningkatkan motivasi dan semangat kerja.
Jika sebuah perusahaan menerapkan dengan baik “internal marketing”, maka setidaknya akan mendapatkan delapan manfaatnya: Pertama, dapat meningkatkan keterlibatan karyawan. Yakni karyawan yang merasa terlibat memiliki motivasi yang lebih tinggi, berkontribusi lebih maksimal, dan cenderung tetap setia terhadap perusahaan.
Kedua, meningkatkan produktivitas dan kinerja. Sebab, dengan merinci tujuan perusahaan dan memberikan pelatihan yang sesuai, “internal marketing” dapat meningkatkan keterampilan dan pengetahuan karyawan. Dan ini lah yang berpotensi meningkatkan produktivitas dan kinerja perusahaan. Ketiga, mengurangi turnover karyawan.
Keempat, meningkatkan citra perusahaan. Karyawan yang merasa bangga dengan perusahaan tempat mereka bekerja dapat menjadi “duta merek” internal yang positif. Bisa jadi mereka akan berbagi pengalaman positif mereka dengan orang lain, termasuk calon karyawan dan pelanggan. Ini lah yang dapat meningkatkan citra perusahaan secara keseluruhan.
Kelima, inovasi dan kolaborasi. “Internal marketing” dapat mendorong budaya organisasi yang mendukung inovasi dan kolaborasi. Karyawan yang merasa didukung dan dihargai, cenderung lebih terbuka untuk berbagi ide dan bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.
Keenam, perbaikan komunikasi internal. “Internal marketing” membantu memperbaiki aliran komunikasi di dalam organisasi atau perusahaan. Komunikasi yang baik antara manajemen dan karyawan, serta antar bagian, dapat mengurangi konflik dan meningkatkan efisiensi operasional.
Ketujuh, dukungan manajemen. Keterlibatan manajemen dalam “internal marketing” menunjukkan dukungan terhadap karyawan dan nilai-nilai perusahaan. Hal ini dapat menciptakan hubungan yang lebih positif antara karyawan dan pimpinan.
Kedelapan, peningkatan kualitas layanan. Dengan melibatkan karyawan dalam pemahaman nilai-nilai perusahaan “internal marketing” dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya memberikan layanan berkualitas tinggi kepada pelanggan. Karyawan yang terlibat, cenderung lebih peduli terhadap kepuasan pelanggan.
Walhasil, penerapan “internal marketing” yang efektif, akan dapat menghasilkan efek domino positif, menciptakan lingkungan kerja yang positif dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan bagi organisasi. Saya berusaha menerapkan hal ini selama 13 tahun lebih memimpin perusahaan. Bagaimana dengan Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah