“Forbes Real Time Billionaries” per Senin lalu (7/10/2024) merilis daftar 10 orang terkaya di dunia. Yang menarik, Bill Gates yang sebelumnya berada di urutan ke-7 pada April lalu dengan kekayaan USD 128 miliar (Rp 2.003 triliun), kali ini melorot ke peringkat ke-13 dengan kekayaan mencapai USD 105,7 miliar atau sekitar Rp 1.654 triliun.
Peringkat pertama masih diduduki pendiri Tesla dan Space X, Elon Musk dengan kekayaan mencapai USD 262 miliar (Rp 4.106 triliun), lebih besar dari APBN kita. Sedangkan Mark Zuckerberg, bos media sosial Meta atau Facebook berada di peringkat ke-tiga dengan kekayaan mencapai USD 209 miliar (Rp 3.268 triliun).
Yang juga menarik pada rilis data dari Forbes kali ini adalah nama Jensen Huang, CEO dan Presiden Nvidia. Kekayaannya kali ini sudah melebihi Bill Gates, yakni sebesar USD 109,2 miliar (Rp 1.714 triliun).
Siapa Jensen Huang? Anda pasti sudah sangat familier dengan ChatGPT. Ini adalah model bahasa yang sangat canggih yang memungkinkan chatbot untuk memahami bahasa manusia dan memberikan jawaban yang relevan. Saya banyak terbantu dengan adanya ChatGPT ini.
Untuk bisa secanggih itu, ChatGPT butuh infrastruktur yang kuat. Dibalik kecanggihan chatbot dari ChatGPT tersebut, diperlukan sistem komputasi yang supertinggi, seperti akselerator komputasi buatan Nvidia, yakni DGX A100.
ChatGPT butuh lebih dari 30 ribu kartu grafis buatan Nvidia untuk dapat beroperasi dengan baik. Nah, otak dibalik kemampuan Nvidia bisa menciptakan sistem komputasi yang dibutuhkan oleh ChatGPT adalah Jensen Huang, pria 61 tahun asal Taiwan yang seorang insinyur lulusan Oregon State University, dan master di bidang elektro dari Stanford University.
Nvidia didirikan oleh Huang pada 1993. Perusahaan ini awalnya memproduksi cip yang memproses grafis, terutama untuk game komputer. Dalam perkembangannya, Nvidia kemudian fokus pada teknologi AI. Seiring berjalannya waktu, eksistensi AI semakin meroket setelah peluncuran ChatGPT oleh OpenAI pada 2022.
Semakin tenar dan populernya ChatGPT, maka secara otomatis akan membuat Nvidia juga ikut melesat. Wajar, jika pundi-pundi kekayaan sang pendiri terus bertambah. Sebab, ChatGPT sangat tergantung pada teknologi yang dimiliki oleh Nvidia.
Lantas, apa yang bisa kita pelajari dari fenomena tersebut dalam konteks marketing? Ini adalah contoh dari penerapan konsep diferensiasi produk. Merujuk pendapat Philip Kotler, konsep diferensiasi merupakan strategi untuk membedakan produk atau layanan suatu perusahaan dari pesaing. Diferensiasi bertujuan agar produk lebih menarik bagi segmen pasar tertentu, dengan cara memberikan nilai unik yang sulit ditiru oleh pesaing.
Nah, konsep ini lah yang rupanya diterapkan oleh Elon Musk, Mark Zuckerberg dan Jensen Huang. Mereka fokus pada produk atau layanan yang sulit ditiru oleh pesaing. Dan ini yang penting, fokusnya mereka itu dilakukan selama bertahun-tahun, diiringi dengan ketelatenan, keuletan, dan ketangguhan yang tinggi.
Maka, sangat wajar, jika mereka akhirnya memanen hasilnya saat ini, menjadi orang terkaya di dunia. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah