Awal Juli lalu, kami sekeluarga pergi ke Bandung. Kami mendatangi beberapa objek wisata yang ada di sana. Salah satunya adalah Gunung Tangkuban Perahu.
Ini request dari putri saya. Karena dia belum pernah ke Gunung Tangkuban Perahu. Saya agak kaget, ketika driver mobil online yang kami sewa menganjurkan untuk tidak ke Tangkuban Perahu. Tapi, saat itu dia tidak menyampaikan alasannya.
Saya, isteri dan anak pertama saya sebetulnya memang agak malas mendatangi lagi Gunung Tangkuban Perahu. Tapi, karena putri saya memang belum pernah ke sana, dia ingin sekali melihat dari dekat Gunung Tangkuban Perahu yang dikaitkan dengan legenda Sangkuriang (kisah seorang anak yang mencintai ibu kandungnya).
Akhirnya, kami pun ke Gunung Tangkuban Perahu di kawasan Lembang, sekitar 30-an kilo meter dari Kota Bandung. Begitu sampai di sana, saya baru mengerti, mengapa kami disarankan tidak ke Gunung Tangkuban Perahu.
Baca Juga: “Wu Wei” dan “Te”
Ceritanya begini. Begitu tiba di tempat Gunung Tangkuban Perahu, kami dikerubuti oleh beberapa orang. Mereka mengaku sebagai pemandu resmi di tempat wisata itu, sambil menunjukkan kepleknya. Mereka menawarkan untuk memotret kami dengan kamera handphone kami. Ketika saya tanya berapa harus membayar untuk jasa tersebut, mereka menjawab “gratis”.
Maka, kami pun dipotret dengan berbagai pose, dan dengan berbagai sudut pandang (view) berlatar belakang Gunung Tangkuban Perahu. Memang, hasil bidikan mereka bagus. Ada dua orang yang memotret kami. Tak terhitung, berapa kali kami dipotret.
Nah, setelah selesai potret-memotret, kami pun berniat pulang. Kami sebetulnya ingin memberikan tips atas jasa mereka. Tapi, mereka menolak. Selanjutnya, mereka menawarkan aneka barang souvenir. Kami pun baru menyadari, bahwa ternyata mereka adalah para penjual souvenir.
Yang ditawarkan mulai dari gelang dari batu, kalung, hingga aneka kerajinan tangan. Harganya pun menurut saya agak mahal. Kami semula tak tertarik untuk membeli. Tapi, mereka tetap mengerubungi kami, seraya membujuk agar kami membelinya.
Sebetulnya bisa saja kami cuek dan tidak membeli barang-barang souvenir itu. Tapi, jika itu kami lakukan, rasanya kami ini jadi orang yang tidak tahu berterima kasih.
Bukan kah mereka tadi yang membantu memotret kami dengan berbagai pose? Maka, kami pun merasa perlu harus membeli beberapa item barang-barang souvenir tersebut. Apakah ini cara yang tergolong kreatif dalam menawarkan barang dagangan?
Dalam marketing, trik berjualan ala penjual souvenir di tempat wisata Gunung Tangkuban Perahu itu mirip dengan kaidah “sense of urgency”. Ini adalah salah satu teknik dalam marketing yang cukup efektif dalam dunia bisnis. Yakni menciptakan “sense of urgency”, sehingga membuat konsumen terpaksa untuk membeli atau datang.
Dalam kehidupan sehari-hari, setidaknya ada tiga cara yang merupakan penerapan dari teknik marketing “sense of urgency”. Pertama, dengan cara menciptakan “limited offer”. Yakni bikin penawaran yang sangat terbatas. Misalnya, dibatasi oleh waktu.
Bentuk penawarannya bisa seperti ini: “penawaran ini hanya berlaku dari tanggal 1-10!”. Atau, dibatasi oleh jumlah: “hanya tersedia 30 porsi setiap hari!”. Dengan cara ini, membuat konsumen tidak mau ketinggalan dan rugi.
Baca Juga: Our Own Rule for Succes
Cara kedua, “special offer”. Yakni, bikin penawaran spesial yang sulit ditolak oleh konsumen. Misalnya, belanja Rp 100 ribu, tebus tiramisu hanya Rp 5.000. Contoh lainnya: Buy 1 Get 1!. Special offer ini bisa ditawarkan kepada konsumen yang loyal atau merujuk dari database pelanggan yang dimiliki. Cara seperti ini dilakukan, umumnya untuk membentuk traffic.
Cara ketiga, “facility”. Yakni, bikin lah fasilitas yang bisa “memaksa” konsumen untuk datang dan membeli. Misalnya, toilet di minimarket. Di antara kita mungkin ada yang merasa ketika kebelet untuk buang air kecil atau buang air besar saat melakukan perjalanan, kita mencari toilet di minimarket.
Karena biasanya toiletnya cukup bersih dan tempatnya nyaman. Sebetulnya, kita hanya ingin ke toilet yang ada di minimarket. Tapi, rasanya tidak enak jika ke mini market hanya ke toiletnya saja, tanpa harus membeli sesuatu di mini market itu. Maka, seringkali kita harus membeli sesuatu di minimarket tersebut, karena merasa tidak enak tadi.
Nah, trik yang dilakukan oleh para penjual souvenir di tempat wisata Gunung Tangkuban Perahu itu, mirip dengan cara ketiga, yakni “facility”. Mereka para penjual souvenir tadi awalnya menawarkan fasilitas, berupa jasa memotretkan.
Kita pun memakai fasilitas itu. Begitu fasilitas sudah dipakai, rasanya tidak enak hati, kalau fasilitas sudah dipakai atau dimanfaatkan, tapi kita tidak membeli barang yang ditawarkan (oleh penjual souvenir tersebut). Anda tertarik menggunakan teknik marketing seperti ini (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah