Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

“Wu Wei” dan “Te”

Redaksi Radar Kediri • Rabu, 28 Agustus 2024 | 16:17 WIB
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Bagi saya, ada kesamaan antara “jurnalistik” dan “marketing”. Mengutip pernyataan Begawan Marketing di Indonesia, Hermawan Kartajaya, bahwa secanggih apa pun pembahasan soal “marketing”, pasti akan selalu berkutat pada tiga hal: produk, customer dan brand. Dalam “jurnalistik”, secanggih apa pun pembahasannya, juga tidak akan keluar dari tiga hal: konten (berita), konsumen media (pembaca, pendengar, pemirsa), dan reputasi (perusahaan media dan wartawan).

"Produk" pada “marketing”, dalam “jurnalistik” disebut "berita" (konten). Sebab, "berita" adalah produk dari jurnalistik. Jika dalam “marketing” disebut "customer", di jurnalistik disebut "pembaca", "pendengar" atau "pemirsa". Dan jika dalam “marketing” disebut "brand", di jurnalistik disebut "reputasi". Dalam hal ini adalah "reputasi" dari perusahaan media maupun "reputasi" dari wartawan.

Makanya, ketika saya harus bertransformasi dari wartawan (yang tugasnya hanya mencari dan menulis berita) menjadi pemimpin perusahaan (dimana dituntut harus menggunakan kaidah-kaidah marketing dalam mengembangkan bisnis), tidak terlalu mengalami kesulitan. Karena memang secara hakekat punya banyak kesamaan.

Seorang wartawan harus punya panca indera yang tajam dalam mengendus informasi yang akan dijadikan sebagai bahan berita. Ketajaman panca indera ini akan terbentuk seiring dengan berjalannya waktu. Semakin wartawan mau mengasah panca inderanya dalam mengendus informasi, maka semakin tajam panca indera tersebut.

Dalam bisnis, juga dibutuhkan panca indera yang tajam dalam mengendus berbagai peluang bisnis.

Dalam mengasah ketajaman panca indera ini, saya terinspirasi dari buku “The Tao of Photography” yang ditulis oleh Philippe L. Gross dan S.I Shapiro. Dalam buku tersebut dibeberkan rahasia menajamkan panca indera seorang fotografer. Ada dua elemen penting, yaitu: “Wu Wei” dan “Te”.

“Wu Wei” artinya diam. Konsep ini mengajak kita menajamkan panca indera terhadap lingkungan dengan cara berdiam diri. Bayangkan, Anda berada di sebuah perempatan jalan yang sangat ramai. Jika Anda tidak berdiam diri alias Anda sedang beraktifitas, maka Anda tidak akan mampu menyimak dan melakukan observasi terhadap sekeliling. Anda justeru hanya bisa melakukannya kalau Anda diam dan menyimak baik-baik. Semakin Anda diam, semakin banyak yang Anda dengar dan Anda lihat. Saat yang bersamaan pula, kreativitas Anda akan ikut memuncak.

Saya praktekkan “Wu Wei” ini. Dalam sehari, saya sering menggunakan waktu untuk berdiam diri, paling tidak dua kali. Saat pagi hari, antara pukul 05.00 – 06.00 dan sore hari antara pukul 16.00 – 17.00. Di saat-saat itu lah, saya berdiam diri, lalu memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam, seraya mengingat-ingat berbagai hal yang sudah saya lakukan, termasuk ketika sedang ada masalah. Hasilnya, saya sering mendapatkan ide-ide terbaik atau solusi jitu dengan cara tersebut. Dengan “Wu Wei” alias berdiam diri itu, kita juga bisa menyelami berbagai peluang bisnis yang ada di sekeliling kita, yang mungkin tak terlihat dan terabaikan orang.

Sedangkan “Te” memiliki sejumlah arti. Di antaranya: kemampuan, kemahiran, kekuatan, atau energi. Disebutkan dalam buku “The Tao of Photography”, bahwa jika Anda telah berlatih diam dengan “Wu Wei”, maka otomatis “Te” akan datang satu demi satu. Seperti sebuah kelengkapan yang melengkapi satu dengan lainnya. Jadi, “Te” itu sesungguhnya adalah potensi yang ada pada diri kita, yang terasah karena aktivitas yang kita lakukan secara rutin atau berulang-ulang. Dan untuk merangsang agar potensi itu keluar pada saat dibutuhkan, bisa dilakukan dengan cara “Wu Wei” tadi.

Menajamkan panca indera bisnis, merupakan upaya menyederhanakan proses bisnis. Ketajaman panca indera membuat proses decision making kita lebih cepat, lugas, dan tangkas. Kita akan mampu mengiris risiko lebih pas. Secara naluri men-sinkron-kan aksi dan reaksi. Membuat kita selalu siaga.

Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #opini #wu wei #jawapos #marketing #marketing on wednesday